System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Rahasia tuan Kasra...


__ADS_3

Satu jam sebelum Zefier menemui tuan Kasra....


"System apa kau bisa mencari informasi tentang perguruan ini." Pinta Zefier.


"Tentu saja, tuan.... Serahkan padaku."


"Baiklah, aku tunggu jawabanmu..."


Tak berapa lama kemudian, system kembali buka suara...


"Tuan.... Meski tanah ini sudah ditempati 3 tahun yang lalu, tapi perguruan ini baru berdiri dua tahun. Melalu pengamatan ku, pemilik perguruan ini memiliki hubungan erat dengan orang tua anda. Sepertinya mereka sangat menghormatinya, tuan." Ucap system."


"Hanya itu...?"


"Masih ada lagi, tuan. Informasi ini kemungkinan besar sangat rahasia."


"Oh? Bisa kau katakan...?"


"Sebenarnya, orang tua anda adalah salah satu petinggi dalam suatu kelompok saat di dunia dewa, dulu. Dan Kasra merupakan salah satu bawahannya, tuan."


"Keberadaan mereka disini karena mereka terusir akibat suatu kontroversi yang sengaja di buat untuk menjatuhkan mereka."


"Alhasil, mereka mendapat hukuman. Dengan tehnik khusus Kultivasi mereka dikurangi beberapa tingkat. Karena kekuatan mereka sebenarnya sudah berada pada tingkat langit."


"Sekarang mereka semua berada di ranah api besar. Dan tak ada cara bagi mereka untuk meningkatkan kembali kekuatannya." System berbicara panjang lebar.


"Hmmm.... Lalu, apa kau sudah menemukan tempat yang kemungkinan besar menjadi ruang tersembunyi ayahku dulu?"


"Sudah, tuan...!"


"Baiklah.... Nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Zefier mengakhiri.


...


Saat ini Zefier sedang berada di sebuah ruangan tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil. Ruangan itu berisi dua buah kuburan persegi panjang dan telah direnovasi sedemikian rupa.


Meski terdengar aneh, tuan Kasra tetap memberikan izin pada Zefier untuk bermalam di makam tersebut.


"Ayah, ibu.... Mengapa kalian pergi begitu cepat?" Ucap Zefier, meratapi.


Meski waktu tiga tahun telah berlalu, tapi perasaan sedih itu masih belum padam, bahkan semakin hari semakin dalam.


Beberapa air bening mengalir dari belah pelupuk mata, mengalir ke pipi dan menetes berjatuhan ke lantai.


Dipeluknya satu persatu kuburan tersebut, dicium bergantian, lalu kembali merenung.

__ADS_1


Sementara itu, disisi lain terlihat tuan Kasra sedang memperhatikan. Cara dia menatap Zefier terlihat seperti orang yang merasa kasihan.


"Ada apa gerangan? Mengapa pemuda ini sampai segitunya meratapi kedua kuburan itu." Gumam tuan Kasra penasaran.


Tiba-tiba tuan Kasra kembali teringat tentang Zefier yang mengaku sebagai pemilik perguruan tersebut.


"Apa jangan-jagan.... Ah, tidak mungkin satu-satunya putra ketua Sain, harusnya sudah meninggal." Batin tuan Kasra, lanjut.


Saat itu mereka memang tidak menemukan jasad putra ketua Sain alias Zefier sendiri. Semua orang bahkan yakin bahwa tidak mungkin dia selamat setelah melihat dampak pertempuran yang begitu dahsyat.


"Ada perlu apa, paman...? Apakah kau butuh sesuatu?" Tegur Zefier. Meski sejak awal dia sudah merasakan kehadiran tuan Kasra, tapi dia memilih untuk mengabaikan sampai rasa sesak di hatinya cukup reda.


Tuan Kasra tertegun kagum, mengetahui Zefier dapat merasakan kehadirannya. Padahal dia sudah menyembunyikan hawa dirinya hingga batas maksimal.


"Benar-benar jenius...." Gumam tuan Kasra. "Ah, ya.... Aku penasaran untuk menanyakan sesuatu." Lanjutnya.


"Apakah ada hubungannya dengan yang kulakukan saat ini?"


"Sepertinya kau sudang mengetahui maksud dan tujuanku."


"Hanya menebak-nebak saja, paman." Jawab Zefier. Apa yang ingin paman tanyakan?" Lanjutnya.


"Aku lihat, kau seperti memiliki hubungan dekat dengan kedua almarhum. Apakah aku salah?"


"Bukan hanya dekat. Mereka adalah ayah dan ibuku."


"Ba, bagaimana bisa...?"


"Ceritanya panjang. Tapi sebelum itu, aku ingin mendengar penjelasan paman. Apa yang membuat paman bisa ada disini dan apa sebenarnya yang terjadi tadisiang?" Zefier pura-pura bertanya. Dia sebenarnya sudah tahu, tapi dia tak mau menimbulkan kecurigaan.


Atas permintaan Zefier, tuan Kasra menceritakan semua apa adanya. Dia tak bermaksud menutup-nutupi. Paling tidak, ada orang tidak salah paham tentang kejadian tadi.


"Ya, semua berawal dari tempat tinggal kami sebelumnya, di kota meltigo. Itu karena putriku menolak keras lamaran Leo, anak dari Galga." Ucap tuan Kasra mengingat kejadian tiga tahun silam.


"Penolakan tersebut memang sedikit keterlaluan, sampai membuat malu pihak Galga. Tapi aku membiarkan hal itu seolah hanya masalah sepele."


"Beberapa hari setelah kejadian tersebut, seorang utusan dari tuan Sain datang membawa kabar duka. Dimana dia mengabarkan tentang kematian ketua Sain."


"Sebagai salah seorang anggota yang dulu selalu setia mengikuti kemanapun, aku tentu berduka cita. Lalu memutuskan untuk pindah dan mendirikan kembali perguruan yang pernah ketua bangun."


Tuan Kasra terus bercerita panjang lebar, hingga akhirnya tuan Kasra sendiri membongkar jati dirinya kepada Zefier, yang seharusnya itu sangatlah rahasia.


Sesekali Zefier pura pura terkejut seakan tidak mengetahui apa-apa. Dan juga dia coba mencari beberapa informasi yang belum dia tanyakan pada system.


"Oh, ternyata begitu...! Paman adalah salah satu anggota eksekutif dari sebuah organisasi yang dipimpin oleh ayah di tanah dewa."

__ADS_1


"Ya, tapi banyak yang tidak menyukai kami, sehingga beberapa pihak membuat kami sebagai kambing hitam atas sebuah kejadian. Alhasil kami diusir dari tanah dewa setelah menjalani hukuman penurunan kultivasi."


Setelah itu, kini Zefier yang bercerita. Dia menceritakan tentang kejadian lalu dengan beberapa kebohongan untuk menutupi keberadaan system.


Mendengar cerita Zefier, tuan Kasra tiba-tiba bersujud dihadapannya.


"Paman, apa yang kau lakukan...? Berdirilah...!" Pinta Zefier sambil mengangkat pundak tuan Kasra.


"Tidak, aku tidak sanggup. Aku tidak datang membantu ketua padahal aku adalah bawahan yang tinggal paling dekat dengannya."


"Sudah aku katakan, semuanya terjadi tiba-tiba. Aku yakin, ayah juga tidak tau akan jadi seperti itu." Zefier berusaha meyakinkan.


"Tapi, tetap saja aku sudah lalai." kilah tuan Kasra.


"Paman, jika kau saja sampai seperti ini, apa kau ingin membuat penyesalan yang lebih dalam padaku sebagai orang yang berada di tempat kejadian itu?"


Mendengar itu, tuan Kasra segera bangkit. "Maaf, tentu saja niatku bukan seperti itu."


"Nah, kalau begitu paman tak perlu merasa bersalah. Mendirikan ulang perguruan ini saja, sudah membuktikan dedikasi paman yang sangat tinggi. Aku turut senang melihatnya."


"Benarkah...?" Tuan Kasra kembali tenang.


Zefier mengangguk. Dia kemudian memeluk tuan Kasra, dan dibalas dengan pelukan hangat.


Udara dingin malam itu seakan sirna setelah mereka saling berbagi cerita. Beban di hati seakan mulai berguguran, menimbulkan semangat yang lebih kuat.


Akan tetapi tekad yang tertanam untuk balas dendam terhadap semua peristiwa lalu tak pernah pudar. Bahkan semangatnya semakin membara hingga ke ubun-ubun.


"Zefier.... Apa tujuanmu setelah ini?" Ini kali pertama tuan Kasra memanggil nama Zefier setelah merasa hubungan mereka sangat dekat.


"Sejak awal aku sudah memutuskan, aku akan berangkat ketanah dewa untuk mengadili ketidak Adilan ini."


"Apakah paman bisa meminta sesuatu padamu...? Anggap saja ini sebagai permohonan dan juga dukungan yang bisa kuberikan."


"Katakan, paman...."


"Aku ingin kau membawa putriku agar ikut bersamamu."


Zefier berpikir sejenak. Bukan bermaksud merendahkan, sejujurnya ini akan menjadi beban baginya jika harus mengikut sertakan orang lemah. Perjalanan setelah ini, tentu akan semakin berbahaya dan penuh rintangan.


Tapi tiba-tiba system berbicara. "Tuan, keturunan para dewa seharusnya memiliki bakat kultivasi yang sangat baik. Suatu saat tuan juga akan membutuhkan orang lain. Perjalanan ke tanah dewa tentunya bukan perjalanan singkat. Tuan bisa melatihnya selama di perjalanan." System memberi saran.


Perkataan system cukup masuk akal. Hal mendasar yang menjadi persiapan sebelum perang adalah mengumpulkan kekuatan, tapi malah itu yang dia lupakan.


"Baiklah, paman.... Aku memang sedang mencari dukungan kekuatan. Aku sangat berterimakasih atas hal ini." Ucap Zefier, tulus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2