
"Pelayan...!" Panggil Zefier.
Ramainya pengunjung saat itu, membuat para pelayan sedikit sibuk. Zefier harus memanggil agar ada yang melayani mereka.
"Silahkan pesanan anda, tuan..." Sapa pelayan, ramah.
"Berikan hidangan terbaik yang ada disini, untuk kami." Pinta Zefier, lantang.
Tiba-tiba perhatian semua orang tertuju pada Zefier. Entah apa yang membuat mereka begitu, tapi wajah pelayan juga terlihat terkejut.
"Ada, apa...? Apa ada yang salah?" Tanya Zefier saat menyadari ekspresi pelayan tersebut.
"A, apakah anda yakin, tuan...?" Pelayan tampak tak percaya. Ini mungkin karena dia menilai penampilan Zefier yang biasa saja. Ditambah lagi penampilan Leo yang dipenuhi perban di bagian kepala.
Untung saja yang meminta saat ini adalah Zefier yang sudah berganti penampilan. Bagaimana jika dengan penampilan saat pertama kali keluar dari hutan? Mungkin pelayan tersebut akan mengusirnya sebelum dia masuk.
"Aku masih belum paham... Apakah ada yang salah dengan kata-kataku?" Tanya Zefier lagi.
"Bukan begitu, tuan.... Bukan bermaksud merendahkan anda, tapi makanan yang tuan pesan sangatlah mahal." Jawab pelayan.
Sebagai warung makan terkenal, tentu warung itu memiliki karya terbaik sebagai menu utama. Tapi sampai sekarang, hanya orang-orang kaya yang berani memesannya. Sedangkan orang biasa seperti Zefier, dapat memakan makanan biasa, itu sudah hal yang luar biasa.
Orang-orang yang hadir disana bahkan mengira bahwa Zefier hanya mencoba-coba saja. Mungkin sudah menabung sekian lama untuk bisa makan di tempat seperti ini.
"Oh, ternyata hanya masalah itu. Apakah ini masih belum cukup?" Zefier mengeluarkan sebuah batu merah yang menyala terang.
Batu itu adalah batu inti binatang yang Zefier bunuh saat masih berlatih di hutan. Bentuknya memang kecil, tapi batu itu sangat dihargai mahal di dunia kultivasi ini.
"Ba, batu energi...?!" Batin pelayan kembali terkejut. "Te, tentu saja... Bahkan itu lebih dari cukup" Ucap pelayan agak gugup.
Pelayan tersebut segera pergi untuk menyiapkan pesanan. Sementara orang-orang yang melihat perbuatan Zefier, semakin menaruh perhatian.
Tampaknya pembayaran menggunakan baru energi masih sangat langka di tempat ini. Hal itu terlihat jelas dari sikap orang lain yang begitu antusias.
"Apakah dia orang kaya, atau hanya beruntung menemukan batu itu di suatu tempat?" Ucap orang-orang.
"Itu batu yang sangat mahal, bahkan di rumah lelang, menemukan batu energi masih tergolong sulit."
__ADS_1
"Jangan menilai orang lain hanya dengan melihat penampilan luar. Orang kaya sejati, selalu menyembunyikan jati dirinya."
Sementara itu di sudut lain, tampak sekelompok orang memiliki niat yang tidak baik.
"Hei, sepertinya kita memiliki mangsa besar hari ini." Seorang bos preman, dengan bangga berbicara pada ketiga anak buahnya.
Mereka adalah komplotan preman yang suka memalak orang lain. Meski kelakuan mereka sangat merugikan orang lain, tak ada yang berani dengan mereka, itu disebabkan ketua preman tersebut sangat kuat.
"Benar, bos...! Orang itu terlalu sombong. Bahkan terang-terangan menunjukkan benda yang jadi rebutan semua orang.
"Hehehe...! Dunia memang seharusnya begini. Jika rusa selalu bersembunyi, bukankah akan banyak harimau yang mati?" Orang yang dipanggil bos, tertawa kecil.
"Wooo... Kata-kata yang bagus..." Puji anak buahnya.
"Tapi jangan salah, banyak buruan yang membuat pemangsanya mati konyol...!"
Tiba-tiba terdengar suara asing berbicara diantara mereka. Saat melihat siapa yang berbicara, mereka terkejut bukan kepalang.
"Ka, kau...! Kenapa bisa ada disini?" Tanya ketua preman tersebut.
Tak salah lagi, orang itu adalah Zefier. "Oh... Aku sedang berkeliling, melihat-lihat apakah ada menu yang menarik." Ucap Zefier sembari berlalu.
"Bagaimana ini, bos...? Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Tak mungkin dia bisa tiba-tiba berada disini." Ucap salah satu bawahan bos preman.
"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi jika dia memang menggunakan kekuatannya, seharusnya semua yang ada disini pasti sadar. Setidaknya, aku bisa membaca ranahnya."
"Wah, anda benar-benar hebat bos.... aku juga tak merasakan ranahnya. Kemungkinan besar dia memang anak orang kaya yang menyamar. Hanya saja dia tak tau kejamnya dunia ini."
"Hmmm.... Kita urus itu, nanti. Sekarang biarkan saja mereka menikmati makanannya." Jawab si bos....
Saat ini, Zefier tengah menikmati hidangan yang begitu menggoda di mata semua orang. Ini adalah makanan paling enak yang pernah dia makan sejak keluar dari hutan. Makanan sebelumnya di kediaman tuan Kasra memang enak, tapi yang ini jauh lebih nikmat.
Syruup...! Syruup...!
Sesekali terdengar seruputan dari tulang sum-sum yang diracik dengan bumbu sempurna. Daging yang lembut, aroma yang tajam dan enak, membuat semua orang yang sudah kenyang seperti lapar lagi.
Pemandangan Zefier yang makan dengan lahap membuat tatapan iri dari orang-orang disekitarnya. Sesekali terdengar suara tegukan air yang diteguk dengan perasaan puas.
__ADS_1
Gluk, Gluk, Gluk...! "Ah...!"
Glek... Beberapa orang menelan ludah, seakan merasakan sugesti dari pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Kapan aku bisa makan seperti itu...!" Batin mereka.
Tatapan mereka hanya tertuju pada Zefier. Mereka tak sedikitpun melirik Leo, karena perban yang membalut kepalanya malah terlihat menjijikkan.
Saat sedang asiknya menyaksikan pemandangan itu, tiba-tiba perhatian semua orang teralihkan. Tampak sebuah rombongan memasuki rumah makan tersebut.
"Hei, lihat itu... Bukankah dia tuan muda Aregon? Anak pedagang kaya yang tinggal di desa sebelah?"
"Ya.... Aku dengar, cabang usahanya sudah menguasai beberapa kota."
"Hmmm.... Enaknya jadi anak orang kaya. Mau apapun tinggal datang dan beli." Semua orang terlihat memuji kekayaannya.
Sesuai reputasinya, sebagai putra dari seorang pengusaha kaya, dia dikelilingi beberapa pengawal yang bertugas khusus sebagai penjaga. Hal itu tentu dikarenakan dia adalah satu-satunya pewaris dan penerus sah.
Tapi, entah memang kodrat atau dibuat-buat, sepertinya sifat sombong sudah melekat pada orang-orang kaya. Hal itu dapat terlihat dari cara bicara dan tingkah lakunya yang arogan.
"Pelayan...! Sediakan tempat untukku." Ucap tuan muda Aregon, lantang.
Melihat banyaknya pengawal tuan muda Aregon, salah seorang pelayan menghampiri dengan perasaan agak takut.
"Ma, maaf, tuan... seperti yang terlihat, semua meja sudah penuh." Dengan tidak enak, pelayan tersebut menyampaikan.
"Apa...?! Apa kau tak memandang siapa aku? Kau tinggal mengosongkan salah satu meja saja." Teriak tuan muda Aregon.
"Tapi, tuan...! Itu hak mereka yang datang terlebih dahulu."
"Aku tak peduli, sekarang koso..." Tiba-tiba kata-kata tuan muda Aregon terhenti. Matanya tertuju pada dua pemuda yang tampak tak peduli dengan kehadirannya. Bahkan lebih terlihat acuh tak acuh.
"Pelayan...! Apa rumah makan seperti ini menerima pemulung?" Ulang tuan Aregon.
"Apa maksud anda, tuan...?" Pelayan tersebut tak mengerti maksud tuan muda Aregon.
"Aku melihat ada orang yang tak pantas berada ditempat ini... Mengusir mereka seharusnya bukan masalah besar bukan?" Tunjuk tuan muda Aregon.
__ADS_1
Pelayan melihat kearah yang di tunjuk. Dia terkejut melihat orang yang tuan muda Aregon maksud.