
Selesai melakukan transaksi atas makanan serta membayar kerusakan yang ada, Zefier melanjutkan perjalanan. Tujuannya sudah jelas, yaitu pangkalan penerbangan.
"Hmmm, benar-benar desa maju... Mungkin keramaian disini disebabkan pangkalan udara." Gumam Zefier melihat banyaknya orang berlalu lalang.
Tak hanya itu, di sepanjang jalan terlihat para pedagang kaki lima yang menjajakan sayuran dan buahan segar, membuat desa tersebut terlihat lebih hidup. Restoran dan penginapan mewah juga menjadi pusat perhatian para pelancong yang sengaja mengunjunginya.
Sepuluh menit kemudian, Zefier dan Leo akhirnya tiba di bandar penerbangan. Benda-benda terbang yang berjejer dua, lebih tepatnya terlihat seperti perahu.
Perahu-perahu itu di terbangkan menggunakan kekuatan api manusia yang disalurkan ke sebuah formasi khusus yang dipasang dibawahnya. Formasi itu akan menyedot energi manusia dan mengkonversikannya menjadi api yang hidup secara terus menerus.
Tentu saja tugas itu tak dapat di emban oleh satu dua orang saja. Bahkan untuk mencapai beberapa kota, butuh puluhan orang yang menyalurkan energi secara bergantian.
Mengingat pengoperasian yang begitu ekstrim, tentu harga yang dibutuhkan untuk menaiki perahu terbang terbilang cukup mahal.
"500 Zel...!" Nada pelayan terdengar meremehkan. Lagi-lagi hal itu disebabkan pakaian Zefier yang kampungan serta kepala Leo yang penuh perban.
Sebagai pengetahuan, jika Hanya mengatakan "Zel," itu artinya Zel kecil.
Bukannya terkejut, Zefier dengan entengnya mengiyakan dan langsung membayar. "Ini..." Ucap Zefier sembari memberikan dua keping Zel sedang.
Pelayan tersebut tercengang. "I.... Ini sangat berlebihan, tuan...!" Ucapnya agak grogi.
"Satu keping untuk ongkos kami berdua. Satunya lagi, aku mau menyewa ruangan khusus serta pelayanan khusus. Jika ada lebihnya, anggap saja sebagai tips."
Pelayan tersebut tampak terbengong. Reaksi yang dia berikan kepada pemuda yang ada dihadapannya tentu akan membuat orang lain sakit hati. Tapi pemuda itu tidak menindas balik, bahkan memberikannya uang tips.
"Ada apa, apakah masih kurang...?" Zefier membuyarkan lamunan pelayan tersebut.
"Ah, ti... Tidak. Bahkan ini sudah sangat berlebihan." Ucapnya kegirangan. "Silahkan ikuti aku, tuan. Sebentar lagi, penerbangan akan segera dimulai." Lanjutnya.
Tanpa banyak tanya, pelayan tersebut segera membawa Zefier kesebuah ruangan.
Sementara itu, Leo terus saja mengikuti Zefier dari belakang sejak mereka keluar dari warung makan. Tentu saja dia tak berkomentar apa-apa, mengingat biaya makanan serta biaya perjalanan, sedikitpun dia tidak mengeluarkan, karena uangnya tidak mencukupi sama sekali.
Meski awalnya dia sempat menolak, saat ini dia sedang menahan rasa malu. Tak ada cara lain selain terus mengikuti Zefier yang dengan acuh tak acuh selalu membayar semua kebutuhannya hingga saat ini.
"Wah...! Ternyata perahu terbang ini cukup luas." Ucap Zefier saat tiba di atas.
__ADS_1
"Tuan, sebelah sini..." Panggil pelayan yang sudah membukakan pintu ruangan khusus pesanan Zefier.
Zefier segera menuju kearah pelayan. Setelah tiba disana. Dia kembali kagum ketika melihat ruangan yang begitu menawan tersebut.
"Sangat nyaman... Aku cukup puas dengan hal ini." Ucap Zefier pada pelayan sembari menikmati kursi empuk yang terbuat dari bahan khusus.
Beberapa ukiran-ukiran serta perabotan antik terlihat menghiasi ruangan dan memanjakan mata.
"Aku pamit dulu, tuan... Akan ada beberapa pelayan yang nantinya melayani anda." Ucap pelayan, pamit.
Zefier hanya menjawab dengan lambaian tangan.
Setelah pelayan tersebut pergi, Zefier melihat kearah Leo yang dari tadi terus memperhatikannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu...?" Tanya Zefier.
"Apa aku perlu masih perlu menjawab?" Balas Leo ketus.
"Tidak, aku rasa aku tahu alasannya." Zefier sedikit menggaruk kepala.
"Lalu, kenapa masih bertanya...?"
"Huh..." Leo cuek dan menatap kearah lain.
"Kau... Apa kau yakin, dengan kekuatan seperti itu dapat mengalahkan aku? Seharusnya kau latihan diwaktu senggang dan tak perlu mengawasi aku. Jika tidak, bagai mana kau bisa membalaskan dendam terhadap orang yang mampu membunuh ayah dan pamanmu." Ucap Zefier.
Leo masih terus berpaling dan tak menanggapi. Namun amarah dan kebencian diwajahnya semakin terlihat.
"Sebenarnya ayahmu meninggalkan sebuah buku yang berisi latihan rahasia. Dia menitipkannya padaku untuk diberikan padamu." Zefier mencoba menarik perhatian Leo. "Aku tidak tau apakah kau mau mengambilnya atau tidak." Lanjut Leo seraya meletakkan buku tersebut di atas meja.
Sebenarnya, buku ini dia tulis sendiri setelah berbincang-bincang dengan tuan Kasra malam itu. Dia mengambil beberapa referensi dasar dari latihan yang pernah dia jalani.
Menurut perkataan system, tidak semua orang bisa menggunakan metode latihan seperti dirinya. Namun menurutnya ada beberapa metode yang bisa digunakan oleh orang lain.
"Aku mau keluar, menikmati pemandangan. Jangan khawatir, kita sedang di udara. Aku takkan kemana-mana" Ujar Zefier seraya meninggalkan Leo.
Baru saja hendak meninggalkan ruangan itu, beberapa wanita penghibur dengan dandanan menawan datang sambil membawa beberapa nampan hidangan dan langsung memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tuan..." Sapa mereka bersamaan.
Zefier mengangguk. "Taruh saja disana dan segeralah tinggalkan kami." Pinta Zefier.
"Tapi, tuan... Kami diperintahkan untuk melayani anda secara khusus." Jawab salah seorang dari mereka.
"Tidak perlu... Aku juga sedang ada urusan lain."
"Baiklah kalau memang itu keinginan anda, tuan." Ucap mereka seraya pamit lalu meninggalkan Zefier dan Leo.
Setelah para wanita penghibur tersebut meninggalkan mereka, Zefier segera pergi. Tujuannya tak lain hanya untuk membiarkan Leo untuk berlatih.
Zefier berjalan mengintari seluruh teras perahu terbang. Pemandangan perbukitan serta hutan luas, ditambah lagi awan-awan tebal yang berada di bawah perahu tentu membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa rileks.
"Ayah... Mengapa ayah membiarkannya begitu saja. Mereka sudah membuat aku kehilangan muka dihadapan banyak orang." Terdengar sebuah pembicaraan di depan Zefier
"Bukankah sudah ayah katakan, ayah ada urusan mendadak... Ayah juga sudah mengirim beberapa praktisi untuk memberi mereka pelajaran."
"Tapi ayah... Aku tidak puas sampai melihat sendiri. Ayah..."
"Aregon, cukup...! Selama ini ayah selalu menuruti mau mu. Sekarang tolong, jangan kau bantah ayahmu ini. Yang ayah lakukan ini, juga demi masa depanmu." Ayah Aregon terlihat emosi.
Aregon terdiam seketika. Selama ini dia memang selalu dan terlalu dimanja. Semua keinginannya selalu terpenuhi. Hanya saja, sepertinya urusan ayahnya kali ini sangat penting dan mendadak.
Saat sedang merasa kesal dengan penolakan ayahnya, tiba-tiba tatapannya tertuju pada seseorang.
"Ayah... Itu dia?" Aregon tiba-tiba berteriak.
"Dia...? Siapa maksudmu?" Ayahnya masih belum paham maksud Aregon.
"Dia orang yang aku ceritakan. Dia yang telah mempermalukan aku saat di warung makan tadi." Ucap Aregon.
Ayah Aregon melihat ke arah yang Aregon tunjuk. Ternyata orang yang dimaksud adalah Zefier, yang sebenarnya sejak tadi memperhatikan mereka.
"Apa kau tidak salah orang...?" Ayah Aregon merasa curiga. Bagaimana mungkin orang dengan penampilan miskin seperti Zefier bisa mempermalukan anaknya yang dikawal belasan orang. Apalagi, dengan namanya saja sudah cukup membuat orang lain untuk mengemis.
"Tidak, ayah... Memang dialah orang yang aku maksud."
__ADS_1
Bersambung....