
Ketiga perahu tampak terbang di atas hutan lebat, buruh beberapa jam agar perahu itu agar keluar dari zona yang ditumbuhi pepohonan dan dihuni berbagai binatang tersebut.
Perjalanan berjarak ratusan Mill yang di tempuh dalam waktu singkat oleh Zefier, kini harus kembali dan memakan waktu kurang lebih tiga hari. Meski pada dasarnya ketiga perahu itu Zefier sendiri yang menggerakkan menggunakan kekuatan apinya. Jika tidak, dengan sisa jumlah pasukan saat ini, mana mungkin perahu itu dapat terbang...
Zefier duduk bersila di atas tempat tidurnya, mengambil sikap kultivasi.
"Flyn...!" Panggil Zefier.
Zefier yang berjaga didepan pintu, segera masuk saat mendengar namanya dipanggil.
"Master...." Sapa Flyn.
"Aku rindu berkumpul bersama kalian, mari kita kembali..." Ucap Zefier.
"Baik, master...." Jawab Flyn, singkat.
Sesaat setelah itu, api merah menutupi Zefier dan Flyn, menciptakan perisai yang berbentuk kubah. Berbeda dengan perisai api yang digunakan sebelumnya, perisai ini sama sekali tak tembus pandang. Jadi takkan ada yang tahu apa yang Zefier lakukan saat berada dalam perisai kubah tersebut.
Didalam perisai kubah, Zefier mulai memfokuskan diri, lalu dalam sekejap dia terlihat seperti orang yang kehilangan kesadaran. Sekarang dia dan telah berada didalam ruang jiwa.
Didalam ruang jiwa terlihat dua mahluk api yang menyerupai Flyn jika dalam wujud aslinya yang terbuat dari api, hanya saja kedua mahluk itu memiliki warna yang berbeda. Yang satu berwarna ungu dan satu lagi berwarna kuning.
"Apa kabar kalian semua...!" Sapa Zefier, membangunkan kedua mahluk itu dari kultivasinya.
Kedua mahluk tersebut secara bersamaan melakukan gerakan khusus untuk mengakhiri kultivasi, lalu berlahan membuka mata. Mereka menoleh kearah datangnya suara, kemudian dengan cepat menghadap Zefier.
"Selamat datang, master...!" Sapa kedua mahluk itu, menyambut kedatangan Zefier.
"Ya...." Jawab Zefier, sambil menganggukkan kepala. Lalu menatap Mahluk api berwarna ungu. "Ada apa Violet?" Tanya Zefier seakan merasa ada sesuatu yang tak beres.
Benar saja, saat ini Violet sedang menatap kearah Flyn dengan tatapan tajam dan garang. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda kebencian.
Bukannya mendapat jawaban, Violet malah menyerang Flyn. Dengan kekuatan yang jauh lebih unggul, Violet memukul dan menghajar Flyn seperti mainan. Hingga membuat Flyn tersungkur dan berlutut.
Tak berhenti sampai disitu, mahluk api yang berwarna kuning juga tampak tak mau ketinggalan. Secepat kilat dia berpindah dari hadapan Zefier ketempat Violet dan Flyn.
"Kaltha...! Apa yang kalian lakukan! Tegur Zefier pada mahluk api berwarna kuning. Tapi Kaltha juga tak menjawab, dia memegang batang leher Flyn lalu membantingnya beberapa kali dengan keras.
Mendapat kelakuan kasar, Flyn segera berubah ke wujud aslinya. Tak tanggung-tanggung, dia langsung berubah ke wujud maksimal, yaitu merah kehitam-hitaman. Hanya dengan begitu, Flyn dapat melampaui kekuatan Kaltha lalu memegang dan menepis tangan Kaltha hingga terlepas.
__ADS_1
"Oh?! Kau mau melawan...?!" Ucap Kaltha. Dia juga berubah ke wujud maksimal, wujud dengan warna kuning kehitam-hitaman.
Dalam wujud kekuatan puncak, sekali lagi Kaltha bukanlah tandingan Flyn. Kaltha sekali lagi mengejar dan dengan mudah menangkap Flyn. Dia menghajar Flyn hingga tak sanggup lagi bergerak.
Melihat kondisi Flyn yang sudah sangat memprihatinkan, Zefier tak tinggal diam. Dengan satu gerakan tak terlihat, Zefier membuat Kaltha terhempas begitu saja.
"Apakah kalian sudah tak menganggap aku?" Ucap Zefier, dingin.
Mendengar kalimat yang disertai aura mematikan, Kaltha, Violet dan Flyn, segera menghadap dan berlutut dihadapan Zefier.
"Master...!" Ucap mereka bertiga, serentak.
Flyn si api merah, Violet si api ungu dan Kaltha si api kuning. Ketiga perwujudan api itu bukanlah lahir secara kebetulan. Mereka adalah jiwa api yang Zefier bangkitkan ketika sudah mencapai ranah puncak dari setiap jenis api.
Kekuatan mereka tidaklah terlalu jauh dengan Zefier. Hanya saja, Zefier memiliki perintah mutlak yang tak bisa mereka bantah.
Ada beberapa kondisi dimana seseorang mampu melahirkan jiwa api. Pertama, asalkan dia sudah mencapai ranah puncak yaitu ranah neraka. Dan kedua, Jika energi yang dia miliki mencukupi untuk melahirkan jiwa api itu sendiri.
Saat seseorang memaksakan diri untuk membangkitkan jiwa api, maka resiko pertama yang harus dihadapi adalah kematian. Tentunya, kondisi kematian itu sering terjadi akibat kekurangan energi. Ya, besarnya energi yang dibutuhkan akan membuat seseorang mengalami krisis bahkan sampai membuat orang itu kehilangan nyawa akibat tak ada sedikitpun sisa energi pada tubuhnya...
"Siapa yang bisa menjelaskan, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Zefier, datar. Dia tidak sedang marah. Dia hanya ingin tahu, mengapa mereka begitu bringas hari ini.
"Master.... Kami melihat, Flyn membuat master berada dalam bahaya. Bukannya membantu, dia bahkan membuat master sibuk dan malah menyelesaikan kesalahan yang dia buat sendiri.
Mendengar itu, Zefier langsung paham apa yang sebenarnya terjadi. Kepatuhan mutlak yang mereka miliki, malah menghasilkan keributan diantara mereka. Itu yang sedang Zefier pikirkan bagaimana agar mereka bisa akur.
"Huf...! Apa kalian tau, mengapa aku meminta bantuan Flyn dan bukan kalian?" Tanya Zefier sambil menghela panjang.
Kaltha dan Violet menggeleng. "Tidak, master...!" Jawab mereka.
"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak akan mengeluarkan kalian dari ruang jiwa ini sampai kalian bisa menutupi ranah kalian ketingkat bumi. Dan saat ini, hanya Flyn yang paling yang sudah memenuhi syarat itu." Terang Zefier.
"Itu karena master melahirkannya terlebih dahulu...." Ucap Violet tak mau disalahkan.
"Apa kau tak terima, Violet?"
"Maaf, master.... Tentu aku tidak bermaksud menentang keputusan anda. Semua sesuai kemauan anda, master." Seketika Violet merasa keceplosan.
"Bagaimana denganmu, kaltha?"
__ADS_1
Kaltha juga memberi jawaban yang sama seperti Violet. "Master, kami salah...!" Ucapnya.
"Baguslah kalau kalian sadar.... Aku sangat paham dengan kesetiaan kalian. Bersabarlah sampai aku menggunakan kalian suatu saat nanti."
"Baik, master...!" Jawab ketiganya serentak.
"Sekarang kembalilah berlatih...." Perintah zefier.
"Tapi, master.... Kami sudah sangat merindukan anda.Tidakkah ada waktu untuk kami melepas kerinduan ini?" Saat itu juga Violet dan Kaltha berubah ke wujud manusia.
Terlihat dua wanita dengan paras indah dan menawan serta bertubuh langsing dan proporsional, dengan lembut mendekati Zefier. Meraka langsung berdiri disisi kanan dan kirinya.
Zefier hanya terdiam dengan sikap manja kedua jelmaan jiwa api itu. Dia berjalan kesebuah singgasana yang sejak awal berada di ruang jiwanya.
Sembari duduk santai, dia memanggil seseorang yang paling lama menemani kehidupannya yang kedua, tepatnya setelah kedua orang tuanya meninggal.
"System....!" Panggil Zefier.
Tak butuh waktu lama, sebuah benda yang berbentuk bola api berwarna hitam, muncul dihadapannya. Dalam ruang jiwa, system yang dikenalnya akhirnya menunjukkan wujud setelah dia membangkitkan jiwa api kedua, alias Violet.
"Tuan...." Sapa System.
"Menurutmu, berapa lama lagi aku bisa mendapatkan kekuatan api itu?" Tanya Zefier Tampa basa-basi.
"Semua tergantung ketekunan anda, tuan. Seperti yang anda ketahui, semakin banyak api yang anda gunakan, maka akan semakin susah proses peningkatannya."
"Saat ini tuan sedang melatih api biru dan sudah berada di ranah matahari tingkat dua. Mungkin butuh waktu dua bulan untuk tuan bisa mencapai ranah langit." Terang system panjang lebar.
Zefier mengangguk, paham dengan apa yang system katakan. "Baiklah, kita lihat perkembangannya, nanti. Aku ingin mengumpulkan seluruh orang-orang yang aku butuhkan, lalu berlatih bersama."
Zefier kemudian merenggangkan tubuhnya di singgasana tersebut dan ditemani dua wanita cantik yang mencoba mencari perhatian.
"Master, biarkan aku membuat anda lebih rileks untuk hari ini...." Ucap Violet.
"Biar aku saja, master.... Aku lebih mahir dalam hal ini." Kaltha tak mau kalah. Dia mendorong Violet.
"Aku saja, master..." Balas Violet, balik mendorong.
Kedua Dewi api itu malah jadi saling rebutan. Bukannya mendapat ketenangan, Zefier malah mendengarkan pertengkaran mulut yang tiada henti.
__ADS_1
Bersambung....