
Dan Dzik terkejut melihat Livy yang tiba-tiba tak sadarkan diri di sampingnya. "Hei, ada apa denganmu!" Ucapnya pelan namun dengan penuh kekhawatiran, dia takut hal itu akan mengganggu Zefier.
Sambil menggerakkan tubuh Livy, dia memanggil-manggil namanya hingga beberapa kali, namun Livy tak kunjung sadarkan diri.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku melaporkan hal ini, takutnya akan merusak acara yang sedang berlangsung. Mungkin tuan muda Zefier akan tersinggung." Batin Dan Dzik sambil berpikir keras.
Disisi lain, Zefier bukannya tidak menyadari apa yang terjadi. Hanya saja, dia tak terlalu khawatir karena hal itu sama sekali tidak membahayakan bagi Livy. Livy hanya terkejut akibat ulah violet yang menjahilinya.
"Mengapa kau melakukan hal ini, Violet?!" Tanya Zefier melalui pembicaraan batin dengan sedikit tekanan.
"Habisnya, dia seperti mengincar anda, master!"
"Mengincar? Apa maksudmu!"
"Tentu saja, maksudku dia sedang menaruh rasa suka pada master. Aku tak sudi ada wanita lain yang mendekati master selain kami."
"Kau.... Apa hanya karena itu? Lagian, mana mungkin dia tertarik sama orang sepertiku, kau hanya beralasan saja!"
"Master, anda terlalu merendah dan tak sadar akan kharisma tuan sendiri. kalau sampai ada yang mengatakan kalimat seperti itu, aku akan dengan senang hati menghancurkannya."
"Ah, sudahlah.... Mengajakmu berbicara juga percuma. Aku ingatkan, kau jangan sampai mengulanginya lagi!" Zefier sedikit keras mengingatkan Violet.
"Master, apakah anda marah?!"
"Apa kau tak mendengar apa yang baru saja aku katakan?!"
"Maaf, Master...! Aku berjanji takkan mengulanginya lagi." Jawab Violet dengan sedikit penyesalan. Bukan karena perbuatannya, namun karena pembelaan Zefier terhadap Livy.
Setelah memperingatkan Violet, Zefier bergegas menghampiri Dan Dzik yang tengah berusaha menyadarkan Livy.
"Apa dia baik-baik saja?!" Tanya Zefier, mengejutkan Dan Dzik yang tak menyadari kedatangannya.
"Eh, tu- tuan muda.... Ternyata anda sudah menyadarinya." Tampak Dan Dzik sedikit gugup. Padahal hubungan mereka sebelum ini tak pernah se-canggung itu. Mungkin karena faktor perbedaan identitas yang baru terbentuk diantara mereka. "Aku tak tahu, ini terjadi secara tiba-tiba." Lanjutnya.
"Dia tidak apa-apa. Itu akibat keterkejutan tubuhnya yang tak siap menerima gelombang aura dari pertarungan kedua tetua itu." Zefier berbohong.
"Oh.....Ternyata begitu." Dan Dzik mengangguk paham.
"Bawa dia ke tenda, biarkan dia istirahat sejenak, sebentar juga akan sadar." Perintah zefier.
"Baik, tuan muda...."
Dan Dzik menggendong Livy melaksanakan perintah sesuai arahan Zefier. Namun saat hendak membawanya, tiba-tiba tangan Zefier menghalang dirinya.
"Eh? Ada apa, tuan muda?" Dan Dzik tampak kebingungan.
__ADS_1
"Ada apa? Apa maksudmu?"Zefier juga terlihat ikut-ikutan bingung.
"Lalu, apa maksud tangan tuan jika bukan karena ingin menghentikan aku?"
Saat mendengar perkataan itu, Zefier akhirnya tersadar bahwa tangannya benar-benar menghalangi Dan Dzik.
"Ah, eh, tidak.... Tentu saja, aku sedang mempersilahkan mu lewat. Segera bawa dia." Zefier jadi salah tingkah.
Setelah Dan Dzik pergi, "Ba-bagaimana bisa begini...? Mengapa aku tiba-tiba ingin menggendong seorang wanita?!" Batin Zefier, tak habis pikir dengan tingkahnya sendiri.
Sat dia sedang berpikir, dia baru sadar, ternyata ada sesuatu yang sedang berbisik di ruang batinnya.
"[Gendong, Gendong....]"
"[Waduh, sial.... Dia sudah dibawa oleh lelaki lain, padahal aku sudah memberanikan diri untuk menghadangnya....]"
"[Bagaimana ini? Apakah aku akan jomblo selamanya...!]"
Bisikan itu terus mengalir bagaikan Wahyu yang berbicara didalam pikiran Zefier dan mempengaruhi alam bawah sadarnya. Hingga akhirnya dia menyadari bahwa itu adalah ulah Kaltha.
"Kali ini, apa lagi yang kalian lakukan, Kaltha!" Bentak Zefier, tak tahan dengan tingkah jail Violet dan Kaltha.
"Ah, master.... Aku hanya ingin master peduli pada wanita selain kami. Kami ini hanya jiwa api, bagaimana mungkin bisa menyenangkan master seperti wanita sungguhan. Lagian, ini balasan bagi perbuatan Violet barusan."
"Hufffhhh...! Mengapa kalian malah repot-repot memikirkan itu? Aku tidak memerintahkan apapun, tapi kalian seenaknya berbuat."
"Sudah aku katakan, aku belum memikirkannya sampai kesana, jadi kalian tak perlu repot-repot...." Kalimat Zefier terputus, bingung harus menjelaskan seperti apa. "Pokoknya, kalian jangan pernah mencampuri urusan apapun selain yang aku perintahkan!" Ucap Zefier, lagi-lagu dengan nada yang menekan.
"Maafkan kami, master. Aku hanya..."
"Kaltha....!"
"Iya, iya.... Maaf, master!"
Zefier memegang kepalanya seperti orang stres. Dia tak habis pikir akan perilaku usil dari para mahluk yang dianggap monster oleh orang lain.
Yah, meskipun mereka itu hanya jiwa api, tapi mengingat mereka punya kendali penuh atas kesadaran dan pikiran sendiri, maka perilaku random seperti itu tak ada yang bisa menebaknya, termasuk Zefier.
Kembali ke pertarungan tetua Braham dan tetua Je yang sudah bertahan begitu lama.
Tampak tetua Braham sudah kelelahan, namun tetua Je juga sudah kehabisan tenaga. Ini salah satu makna dan maksud perkataan Zefier saat pertama kali melatih mereka. Energi mungkin masih ada, tapi jika fisik tak sanggup mengikuti, itu sama saja dengan sebuah kekalahan.
"Padahal, masih banyak kemampuan yang ingin aku tunjukkan, tapi tubuh ini sudah sangat tua dan rentan." Ucap tetua Braham dengan nafas tak beraturan.
"Kita memiliki kendala yang sama. Untungnya kita mengikuti pelatihan yang diberikan tuan muda, aku merasakan perubahannya setelah pertarungan kita ini." Ujar tetua Je.
__ADS_1
"Kau benar, tetua Je.... Tampaknya, kita harus melakukan latihan ekstra untuk bisa lebih dari ini."
"Ya, tapi sebelum itu, bukankah kita harus menunjukkan hasil akhir dari latihan ini?"
"Aku setuju...!"
Meskipun dalam kondisi yang melelahkan, nampaknya kedua tetua itu tak mau jika pertarungan ini dianggap seri. Sebagai penutupan, mereka berniat mengerahkan jurus andalan masing-masing.
Energi di sekujur tubuh kedua tetua, kembali meningkat. Api kuning tetua Braham vs api ungu tetua je, harusnya dari perbedaan kedua api itu, pemenangnya sudah dipastikan oleh pemilik api yang lebih tinggi, apalagi ranah tetua Braham juga sedikit lebih tinggi.
Tapi, berkat ketelitian, kesabaran dan ketangkasan tetua Je dalam mengantisipasi semua jurus tetua Braham, dia bisa menahan sampai sejauh ini. Itu juga sudah diluar perhitungannya.
Wuzzz, Wuzzz...!
Tetua Braham kembali membuat senjata andalannya, yaitu pedang api, namun ukurannya lebih besar dari sebelum-sebelumnya. tampaknya Ini benar-benar menjadi pertarungan penutup.
Disisi lain, tetua Je juga melakukan hal yang sama, membuat tameng dari perisai api. Tentu saja sebagai jurus terakhir, intensitas energi dan api yang ia gunakan, jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Tetua Je, apa kau hanya berniat menahan serangan ku saja? Aku harap, aku bisa melihat lebih di penghujung pertarungan ini!"
"Jangan terlalu berharap! Ini juga sudah melebihi batas kemampuanku!"
"Kalau begitu, jangan salahkan aku, aku tak berniat menahan diri."
"Aku harap juga begitu...."
Setelah itu, keduanya serentak melangkah maju. Dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki, dengan sekuat tenaga mereka mencoba memberikan performa terbaiknya.
"Pedang Api Raksasa!" Teriak tetua Braham.
"Perisai Api!" Teriak tetua Je.
Kedua jurus itu beradu dengan sangat telak. Aura menindas kembali menyebar dan menyebabkan tekanan kepada semua yang ada disitu. Bahkan sampai menimbulkan gelombang energi yang menggoyangkan pepohonan disekitarnya.
Booom....! Meski terjadi ledakan besar, namun ledakan energi langsung menepis debu-debu dan asap yang hendak menghalangi pandangan. Masih terlihat jelas, kedua orang tua itu masih berusaha untuk tidak mengalah satu sama lain.
Tetua Braham terus menekan pedang api raksasa dan tetua Je menahannya dengan sekuat tenaga.
"Hehehe.... Tampaknya, kemenangan ini sudah terlihat hasilnya." Ucap tetua Braham, saat melihat perisai api tetua Je mulai meredup.
"Hmmm, Benarkah? Belum tentu...!" Tampak senyum tipis dibalik kumis tebal tetua Je.
Yakin dengan kemenangannya, tetua Braham tiba-tiba dikejutkan oleh tetua Je....
"Du- Dua...?!"
__ADS_1
Semua mata langsung melotot, tak ada yang dapat menebak apa yang tetua Je lakukan saat ini.
Bersambung....