
Ditempat perkemahan....
"Bagaimana keadaanmu?" Zefier menjenguk Livy yang baru sadarkan diri.
Livy menunduk, kali ini tak lagi berani menatap Zefier seperti sebelumnya. Pengalaman itu sungguh meninggalkan trauma yang mendalam.
"Tuan muda, aku baik-baik saja." Jawab Livy lembut. Dia bergegas duduk karena takut dianggap tidak sopan.
"Tak perlu bangun dari tempatmu. Beristirahatlah hingga kondisimu membaik, besok akan ada pelatihan terakhir selama satu Minggu."
"Baik, tuan muda!" Jawab Livy.
"Dan Dzik berjaga di depan. Jika kau butuh sesuatu, kau tinggal katakan saja." Ucap Zefier seraya meninggalkan Livy. Dia tak memberikan obat karena Livy memang tidak membutuhkan apapun.
Di depan tenda, tampak Dan Dzik sedang berdiri menunggu.
"Tuan muda...." Sapa Dan Dzik, melihat Zefier yang baru saja keluar.
Zefier mengangguk. "Oh, ya.... Apa kau sudah menemukan leo?"
"Sudah, tuan muda.... Aku melihatnya berlatih sendirian satu kilo meter kearah barat dari tempat ini." Lapor Dan Dzik.
Dengan kemampuannya, Zefier sangat mudah mengetahui tahu dimana tepatnya posisi Leo berada, namun dia sengaja memerintahkan dan Dzik untuk memantau apa yang sedang dia kerjakan.
"Kalau begitu tetaplah berjaga disini, aku akan menyusulnya."
"Baik, tuan muda!" Jawab Dan Dzik sambil membungkukkan badan.
Tik...! Hanya dalam hitungan detik, Zefier menghilang dari pandangan Dan Dzik.
Dan Dzik terkesima, hari-harinya bersama Zefier, tak pernah membuatnya berhenti kagum.
Sesaat kemudian, Zefier tiba di tempat Leo berlatih. Dia berdiri sesaat di atas pohon besar untuk menyembunyikan diri. Melihat Leo saat ini, dia kembali mengenang dirinya tiga tahun lalu. Mungkin tak seberat dan tak separah dirinya, namun dia merasa senang mengetahui Leo tak pantang menyerah.
__ADS_1
"Bahkan, masih ada orang berbakat yang merasa sampah ketika dipertemukan dengan orang berbakat lainnya. Jika dia jadi aku yang dulu, apakah dia akan tetap semangat seperti ini?" Gumam Zefier.
Tak lama setelah kedatangannya, dia melihat Leo beristirahat. Dia lalu turun menghampiri Leo.
Leo yang melihat kedatangan Zefier, tanpa pikir panjang segera berdiri dan memberi salam.
"Tuan muda!" Sapa Leo, hormat. "Mengapa anda ada disini?" Lanjutnya.
Zefier hanya membalas dengan tersenyum dan memasang wajah pertemanan, tak mau membuat Leo merasa tak nyaman padanya.
Zefier tak menjawab dan justru menanyakan keadaan Leo, "Bagaimana kabarmu?! Sudah beberapa hari ini aku tak melihatmu kembali ke perkemahan. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, tuan muda! Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku...." Tampak Leo ingin mengatakan sesuatu, tapi dia enggan untuk menyampaikannya.
" Tak perlu sungkan, katakan saja...!" Ucap Zefier yang mengetahui pikiran Leo.
"Meski tuan muda pernah meninggalkan aku, tapi aku adalah orang pertama yang anda rekrut. Aku tak mau terlihat lemah dihadapan yang lain, itulah mengapa aku memutuskan berlatih sendiri. Aku...." Leo memutus kalimatnya, kali ini dia tampak ragu. Tapi ekspresi Zefier seakan mengatakan agar tidak menahannya.
".... Aku tidak ingin, anda memandangku sebelah mata dari yang lain." Sambungnya.
"Sejak kapan?" Zefier tiba-tiba membuat pertanyaan yang bikin Leo bingung.
"Maaf, tuan muda. Aku tidak mengerti." Dengan wajah lugu, Leo menanyakan maksud pertanyaan Zefier.
"Berapa kali dan sejak kapan aku membedakan kalian?!" Ulang Zefier.
Leo terdiam. Meski bukan itu maksudnya, tapi di merasa telah menyinggung Zefier.
"Tuan muda...." Leo ingin mengklarifikasi pemahaman tersebut, namun Zefier langsung memotongnya.
"Aku tahu bukan itu maksudmu, kau tak perlu menjelaskannya! Aku hanya ingin mengingatkan agar kau tak pernah memikirkan hal seperti itu terhadapku."
"Orang tua akan memberikan jatah makan yang sama pada anak-anaknya, tapi seorang anak akan mendapat jatah berbeda jika dia mau meminta lebih."
__ADS_1
"Apakah kau sudah melakukan seperti apa yang dilakukan para tetua itu? Aku tak pernah membedakan kalian karena bakat atau tingkat kultivasi yang lebih tinggi. Tapi, keserakahan mereka akan kekuatan lah yang membuat aku semangat untuk mengajari." Zefier tampak seperti seorang yang memberi nasehat. Panjang lebar dia menjelaskan agar Leo tak salah dalam menilai dirinya.
Leo terdiam seribu bahasa. Niatnya ingin memperjelas posisi disisi Zefier, tapi sekarang malah seperti memperburuk keadaan. Jika bukan karena kata-kata Zefier barusan, dia mungkin akan tersinggung seperti sebelumnya.
"Tuan muda.... Maafkan aku!" Leo tulus meminta maaf.
"Kesalahanmu bukan padaku, tapi pada dirimu. Aku hanya ingin kau berpikir jernih sebelum tersesat." Ujar Zefier.
Mendengar itu, Leo semakin merasa tak enak. Dia hendak berlutut dan benar-benar meminta maaf, namun Zefier menahannya.
"Sudahlah! Jika kau sudah merasa tenang, segeralah kembali. Atau kau akan semakin tertinggal oleh yang lain. Selain itu, jika kau benar-benar giat berlatih seperti ini, kau bisa melakukannya diluar pelatihan ku. Jika hanya berlatih sendiri, seribu tahun pun kau takkan sanggup mengejar mereka." Jelas Zefier.
Setelah berkata begitu, Zefier pergi meninggalkan Leo yang sedikit tertunduk. "Besok, akan ada pelatihan terakhir, khusus untuk membuktikan hasil usaha kalian selama ini. Datang dan buktikan apa yang sudah kau dapatkan." Bagai angin lalu, Zefier menghilang begitu saja dari hadapan Leo.
Leo tampak termenung, memikirkan pertemuan singkat yang terjadi antara mereka. Mengenal Zefier saja, seharusnya sudah merupakan keuntungan besar, tapi dia malah menyia-nyiakan waktu yang paling berharga tersebut.
Keesokan harinya....
Pagi yang begitu cerah, terdengar siulan dua orang yang saling beradu nyaring, menandakan kehidupan yang dimulai dari keceriaan. Hanya saja, ternyata tak semua orang seperti mereka. Tampak seseorang lagi bejalan berdampingan dengan wajah mengkerut.
"Kenapa kalian berisik sekali!" Hardik orang yang tak lain adalah Moran. Sejak kemarin sore, dia selalu mendengar siulan yang membuat kuping dan jantungnya seakan terbakar.
"Apakah kau tahu, semalam aku menang besar! Aku tak menyangka, ternyata tuan muda Zefier memberikan semua inti batu serigala merah padaku setelah aku menceritakan seseorang yang ingkar janji!" La'o coba membuat Moran mengingat hal itu, meskipun dia yakin Moran takkan melupakannya seumur hidup. Lebih tepatnya, dia hanya ingin membuat Moran jengkel.
"Berisik! Aku tak ingin mendengar ceritamu! Sebaiknya kalian juga bergegas, atau kalian akan terlambat di acara pelatihan terakhir." Ucap Moran dengan wajah kesal.
"Aku tak sedang berbicara padamu, aku berbicara pada Neber." La'o mengalihkan fakta. "Aku mau hanya ingin bercerita sebagai sesama orang senang." Lanjutnya.
"Ah, terserah kau saja! Aku pergi duluan!" Moran mempercepat langkah dan meninggalkan La'o dan neber yang asik dengan dunia mereka sendiri.
Setelah kembali dari tugas perburuan kemarin, Moran tak menyangka bahwa La'o langsung melapor pada Zefier dan mempermasalahkan taruhan yang mereka buat. Diluar dugaan, Zefier memihak La'o dan memberikan semua inti binatang serigala merah padanya. Sejak saat itu, La'o selalu berusaha membuatnya jengkel dengan memamerkan batu inti yang nilainya ratusan kali lipat dari jumlah taruhan Jang mereka buat.
Adapun Neber, dia sangat senang meski hanya mendapat pujian karena berhasil menangkap rusa badai. Namun karena La'o selalu mengikuti siulan Neber yang tak pernah berhenti, Moran merasa bahwa itu adalah ejekan untuknya.
__ADS_1
Bersambung....