System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Duta Pil Dan Obat...


__ADS_3

Semua bawahan Zefier tampak sibuk memenuhi mengangkut ratusan kotak uang yang dipindah dari gudang menuju perahu raksasa. Pada akhirnya, perahu raksasa tersebut masih tidak mampu menampung semuanya.


"Tuan.... Semua ruangan telah terpakai, tapi sisa barang yang diangkut, masih cukup banyak." Lapor tetua Je.


"Sisanya, angkut ke salah satu perahu itu."


"Baik, tuan..." Tetua Je kembali mengintruksikan agar uang uang yang tak muat lagi, di susun ke salah satu perahu yang ada.


Setelah beberapa jam bekerja, akhirnya pekerjaan itu rampung.


"Semuanya sudah selesai, tuan." Tetua Je kembali melapor.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" Perintah zefier.


Semuanya menurut, mereka bergegas menaiki perahu terbang sesuai pembagian yang Zefier lakukan. Zefier menaiki perahu raksasa bersama beberapa orang lainnya, termasuk tetua Je. Sementara, kapal yang satunya lagi dinaiki tetua Braham bersama dua orang bawahan. Nantinya uang yang ada di perahu itu akan tetua braham membagi-bagikan ke beberapa tempat sesuai arahan Zefier.


Tapi, sebelum mereka menaiki perahu masing-masing, dari jauh terlihat perahu terbang raksasa lainnya yang menuju kearah mereka.


Setelah kapal itu kian mendekat, akhirnya tetua Je sadar, itu adalah perahu raksasa milik duta pil dan obat-obatan. Dia baru teringat, ini adalah kunjungan rutin dan terjadwal pertiga bulan yang harus kedua fraksi. Sebab, sebagian besar peredaran uang dilakukan oleh duta pil dan obat-obatan.


"Maaf, tuan... Ini akan membuat anda menunggu sebentar. Ada janji yang seharusnya kami tepati. Jika tuan bersabar, mungkin akan ada keuntungan besar lainnya yang akan tuan dapatkan." Tetua Je mencoba agar Zefier menunda perjalanan mereka, sesaat.


Zefier memberi isyarat, bahwa itu bukan masalah. Lalu tetua Je datang menemui tetua Braham.


"Tetua Braham...!" Sapa tetua Je.


"Ya, aku tahu.... Kali ini, serahkan padaku." Balas tetua Braham, seakan tau maksud tetua Je.


Tetua Je mengangguk sambil tetap berdiri dibelakang tetua Braham.


Tidak berapa lama kemudian, perahu terbang raksasa itu akhirnya tiba dan melakukan pendaratan setelah terkesan beberapa saat.

__ADS_1


Terlihat seseorang dengan usia separoh dari umur tetua Je dan Braham, melompat dari perahu terbang tersebut sambil menunjukkan muka masam. Debu-debu beterbangan, menunjukkan beban tubuhnya yang berat.


"Tampaknya, para petinggi disini sudah tak punya rasa hormat pada tamu." Ucap orang itu, sinis. Tubuhnya besar dan jangkung. Wajahnya sangar bingar. Di punggungnya bertengger sebuah kapak berukuran besar yang tak pernah tertinggal sekalipun.


"Apa maksudmu, Jorga!" Kali ini, tetua Braham ambil tindakan, setelah sebelumnya dia hanya diam seribu bahasa dihadapan Zefier. Apalagi kata-kata Jorga memang ditujukan padanya.


Tetua Braham dan Jorga saling bertatapan seperti melepas kebencian, tampak ada dendam di belakang.


Tap, Wush...! Seorang lagi melompat turun dari perahu. Usianya tampak lebih muda serta penampilannya terlihat elegan. Rambut sebahu serta bibir yang sedikit diwarnai, membuat pemuda itu agak mencolok.


"Yoh, Braham...!" Sapa pemuda yang bernama Simeon. Penampilannya cukup berbanding terbalik dengan sifatnya. Dia sama sekali tak memandang tetua Braham sebagai orang yang harus dihormati.


"Huh!" tetua Braham mendengus.


Simeon dan pamannya Jorga adalah musuh bebuyutannya sejak lama. Meski hingga saat ini mereka belum pernah beradu pukulan, tapi dendam itu seakan sudah mendarah daging diantara mereka.


Simeon memiliki seorang kakek yang memiliki jabatan cukup tinggi ketimbang tetua Braham. Selama ini, Picky selalu menggunakan nama kakeknya untuk menekannya. Dia berencana menjabat sebagai pimpinan duta keuangan yang dipegang Braham saat ini. Hanya saja, selama ini dia masih belum memiliki kesempatan.


"Hanya karena kau punya latar belakang, bukan berarti aku takut. Kakek mu juga cuma seorang bawahan, jadi, sebaiknya Jagan terlalu sombong."


"Hahaha...!" Simeontertawa keras. "Meski seorang bawahan, asal bisa menginjak kepalamu sesuka hati maka tidak masalah bukan? Bukankah begitu, paman jorga?"


"Hahaha.... Tentu saja." Jawab Jorga, ikut tertawa. "Apalagi setelah perlakuan tak pantas ini, paman yakin, kakek mu akan segera menindaklanjutinya." Sambung Jorga.


"Cuih! Mengadu lah sesukamu. Aku pun sudah tidak mau bekerja di tempat yang dikelilingi para sampah seperti kalian." Jawab tetua Braham dengan nada kesal.


"Jaga cara bicaramu, tua sialan! Lebih baik kau sadar diri dan minta ampun, sebelum kau mendapatkan akibatnya." Simeon terlihat marah. Dia tak terima kakeknya direndahkan.


"Jika kata-kata seperti ini dapat melukaimu, sebaiknya kau pulang saja. Jadi budak pun kau tetap tak berguna." Tetua Braham semakin memprovokasi.


Simeon terlihat marah. Giginya tampak berderak, tangannya di kepal kuat, seakan sudah sangat gatal untuk memukul seorang.

__ADS_1


Disela emosi yang kian memuncak, seorang bawahan datang menghampiri Simeon dan Jorga. Bawahan itu tampak membisikkan sesuatu.


Setelah bawahan itu selesai dan pergi, senyum sumringah terlihat jelas disudut wajah Simeon. Emosinya sudah reda, matanya melirik licik kearah tetua Braham. Sedetik kemudian, emosinya tiba-tiba memuncak.


"Dasar, tetua brengsek!" Bentak Simeon. "Sial! Apa kau sadar, kesalahan yang kau perbuat terlalu besar!" Lanjutnya, marah.


Tetua Braham sangat paham apa maksud perkataan Simeon. Tapi dia pura-pura tidak mengerti. "Apa maksudmu? Memangnya, apa yang orang tua ini lakukan?"


"Sialan! Kau masih berpura-pura, mau kau bawa kemana semua uang itu. Tampaknya, kau benar-benar berani menantang langit." Hardik Simeon.


"Hehehe...." Tetua Braham tertawa kecil. "Ternyata, kau sudah menyadarinya. Darimana kau tahu tentang uang yang akan kubawa itu?" Ucapnya masih seperti kakek lugu.


"Huh! Ternyata benar.... Jelas-jelas kau baru saja melihat bawahanku memberi laporan. Aku kira itu tidak mungkin, ternyata setelah mendengar langsung pengakuan mu...." Simeon tidak melanjutkan kata-katanya karena terlalu sakit hati.


"Hebat, bawahan-mu sungguh hebat! Dia lebih pantas menjadi pemimpin Duta pil dan obat-obatan ketimbang kau. Bagaimana kau bisa tidak menyadari rencana besar seperti ini, atau usiamu saja yang bertambah sedangkan otakmu masih tetap kosong." Ucap tetua Braham, penuh ejekan.


Mendengar itu, emosi Simeon meluap-luap. Dari awal, dia hanya mendengarkan ocehan orang tua yang selalu mengejeknya. Energi didalam tubuhnya menyebar kemana-mana, menghasilkan aura yang begitu kental.


"Pak tua.... Jangan karena kultivasi-mu lebih tinggi, kau pikir aku takut melawan mu?!" Tantang Simeon seraya mengeluarkan senjatanya berupa pedang. Bilah pedang yang tipis dan seputih kaca, menggambarkan ketajaman yang tiada tara.


Pedang itu merupakan senjata tempahan yang dibuat dari bahan terbaik. Tehnik dalam memprosesnya pun dilakukan dengan sangat apik, sehingga menghasilkan senjata yang mampu menahan panas api. Di samping itu, beberapa segel formasi api juga telah ditanam didalamnya, sehingga mampu meningkatkan kemampuan api penggunanya.


Wuzzz....!


Api kuning menjalar dari tangan Simeon menuju pedangnya. Benar saja, tampak hawa panas yang ada pada pedang tersebut terasa lebih kuat. Dengan api sepanas itu, mungkin sudah melelehkan pedang yang terbuat dari bahan biasa. Tapi sepertinya pedang tersebut mampu mengimbangi panas api milik Simeon.


"Simeon... Mengandalkan senjata pusaka mungkin memang pilihan terbaik bagi seorang kultivator. Tapi orang sepertimu hanya akan membuat senjata pusaka itu menjadi terlihat buruk." Ucap tetua Braham.


Bersamaan dengan itu, fluktuasi energi juga keluar dan menyebar dari tubuhnya, bahkan terasa lebih pekat daripada milik Simeon. Tak mau kalah, tetua Braham juga mengeluarkan pedang.


"Mari kita lihat, apakah pedang ini atau kemampuanmu yang lebih hebat. Atau mungkin, kau masih mau memanggil kakek andalan-mu itu." Ucap tetua Braham, lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2