
Pelayan merasa bimbang memikirkan permintaan tuan muda Aregon. Bagaimana tidak, tempat yang diinginkan olehnya, bisa saja lebih berbahaya dari anak tuan pedagang seperti dia.
Disini ini terlalu banyak hal yang menipu, terutama sifat dan penampilan. Jika tidak berhati-hati, bisa saja membinasakan diri sendiri.
Contohnya saja seperti Zefier, dengan penampilan paling sederhana, tidak satupun yang menyangka bahwa dia akan melakukan pembayaran menggunakan batu energi. Bahkan orang terkaya di kota itu belum tentu bisa melakukannya, termasuk tuan muda Aregon sendiri.
Jika tuan muda Aregon mengetahui hal tersebut, kira-kira seperti apa ekspresinya? Ya, tentu tak ada yang tahu.
"Tuan, maaf...! Anda tidak boleh melakukan itu. Apa lagi dari semua orang, dia adalah tamu kami paling spesial hari ini." Jelas pelayan.
"A, apa...?! Apa teling ku tak salah dengar." Tuan muda Aregon terkejut tak percaya.
"Aku mengatakan apa adanya, tuan. Berbohong juga tidak ada untungnya, apa lagi terhadap anda yang seharusnya bisa jadi mitra terbaik bagi kami." Jawab pelayan itu, lagi.
Tuan muda muda Aregon berpikir sejenak. Memang betul, berbohong padanya tidak akan ada gunanya. Bahkan malah rugi jika sampai menolak dirinya tanpa alasan.
"Pelayan, apa maksudmu tentang tamu spesial..." Tuan muda Aregon penasaran.
"Seperti yang anda lihat, dia dan temannya memang tampak seperti layaknya orang biasa, bahkan lebih sederhana lagi. Tapi, apakah anda percaya jika aku katakan bahwa dia adalah orang pertama yang membayar menggunakan batu energi selama puluhan tahun warung ini berdiri.
"Apakah benar apa yang kau katakan...?" Tuan muda Aregon tampak bersemangat.
"Aku sendiri yang menerimanya, tuan..."
"Hmmm, menarik...!".Terlihat senyum polos disudut bibirnya, namun senyum itu memiliki makna agak berbeda....
Di meja lain, para perampok sedang membicarakan strategi yang berubah secara konstan. Kedatangan tuan muda Aregon tentu menjadi makanan sekaligus ancaman melihat betapa banyaknya pasukan pengawal yang berdiri disampingnya.
"Tidak bisa, sepertinya kita harus melihat situasi terlebih dahulu. Jika diperlukan, kita akan memanggil yang lain untuk menghadapi gerombolan pengawal itu." Ucap bos preman.
"Kau, pergilah mengabarkan info ini. kemungkinan bos besar akan senang mendengarnya." Pinta bos preman pasar salah satu bawahannya.
"Baik... Kalau begitu, aku pergi dulu."
Kembali ke Zefier. Seperti biasa, dia tetap tenang dan terus menikmati sisa-sisa hidangan. Tapi tak disangka, segerombolan orang datang menghampirinya.
Orang-orang itu langsung mengelilinginya dan membentuk lingkaran. Salah satu dari mereka dengan kasar menarik Leo yang juga sedang makan.
Leo dengan sigap menepis tangan orang yang menariknya. "Ada apa ini...?!" Leo marah dan kesal.
"Wo, wo , wooo...! Maaf, sepertinya anak buah ku terlalu lancang." Ucap seseorang yang tak lain adalah tuan muda Aregon. Dia bersikap layaknya orang sopan.
__ADS_1
"Lepaskan...! Mengapa kau menggangu orang yang sedang makan?" Lanjut tuan muda Aregon berpura-pura.
Anak buah yang dimaksud segera melepaskan Leo. Meskipun begitu, Leo tetap tidak senang karena telah di usik.
"Tampaknya, kedatangan kalian tidak bermaksud baik. Jujur saja, saat ini aku sedang terbawa emosi. Jika kalian bertindak lebih, maka jangan salahkan. aku harus berbuat kasar." Leo mengancam.
"Ups...! Sekali lagi, maaf.... Kami benar-benar tidak bermaksud menyinggung anda. Tapi tidak salah, aku memang ada urusan dengan orang ini." Tuan muda Aregon menunjuk Zefier.
Setelah mendengar perkataan tuan muda Aregon, Leo kembali duduk. Tapi tak sedikitpun dia bergeser dari tempat duduknya.
Setelah Leo kembali tenang, tuan muda Aregon mencoba berinteraksi dengan zefier.
"Perkenalkan, aku Aregon, anak salah satu saudagar terkaya yang ada di desa ini." Ucapnya memperkenalkan diri. Nadanya terdengar sopan, akan tetapi tetap saja isi kalimatnya terdengar sombong.
Zefier tidak menanggapi. Sebaliknya, dia malah mengeluarkan tiga batu energi dengan empat warna berbeda. Merah, ungu, kuning dan biru.
Tentunya penampakan keempat batu tersebut membuat heboh seisi ruangan.
"Wuahhh... Baru kali ini aku melihat empat jenis batu energi secara bersamaan."
"Benar... Aku bahkan belum pernah melihat salah satunya."
Orang-orang silih berganti mengungkapkan rasa kagumnya. Perasaan itu bahkan lebih jelas terlihat pada tuan muda Aregon.
"Su, sungguh pemandangan yang indah...!" Tuan muda Aregon memuji dengan penuh gairah. "Kau ternyata tau apa yang aku inginkan." Lanjutnya.
Tapi tiba-tiba Zefier memberi isyarat dengan satu jari. Tuan muda Aregon sadar bahwa itu adalah penawaran harga.
"Satu Zel...?"
Zefier tidak menjawab. Artinya tidak setuju.
"Sepuluh Zel...?"
Zefier masih diam.
"Seratus Zel...?"
"Seribu Zel...?"
Setelah menyentuh angka seribu, Zefier masih tidak bergeming. Tuan muda Aregon sebenarnya tahu betul berapa harga per batu tersebut. Tapi dia bersikap seolah-olah itu sudah terlalu mahal.
__ADS_1
"Lebih dari seribu Zel, sepertinya terlalu besar." Ucap tuan muda Aregon.
"Tidak...! Aku menjual semuanya seharga 1000 Zel besar." Zefier tiba-tiba buka suara.
"Apa...?! 1000 Zel besar..." Mata tuan muda Aregon melotot tak percaya. Angka sebesar itu, dia bahkan belum pernah mengantonginya, apalagi dalam kondisi sedang berjalan-jalan seperti saat ini. Paling dia hanya membawa 2000 Zel kecil.
Satu Zel besar sama dengan seribu Zel sedang. Satu sel sedang sama dengan seribu Zel kecil dan satu Zel kecil sama dengan seratus Zel halus.
Perbandingannya memang sangat besar, mengingat Zel besar terbuat dari bahan emas murni, sedangkan Zel sedang terbuat dari bahan dasar perak bercampur emas sekian persen. Zel kecil berbahan perak murni dan Zel halus berbahan perunggu murni.
Gubrak...! Tiba-tiba tuan muda Aregon mengebrak meja. "Ini namanya pemerasan...!" Bentaknya. Sifat aslinya keluar juga.
Tidak hanya itu, seluruh pengawalnya segera mengeluarkan pedang. Bahkan salah satunya sudah menodongkan pedang pada leher Zefier.
"Anak kampung...! Aku tidak tahu darimana kau mendapat batu-batu energi ini. Awalnya aku berniat membeli, tapi sepertinya kau..." Kata-kata tuan muda Aregon terputus.
Set, bug...! Tuan muda Aregon melihat pengawalnya yang menodong Zefier, tiba-tiba menghantam meja-meja yang ada di tengah mereka hingga hancur berantakan. Pengawal itu langsung tak sadarkan diri.
Itu bukan perbuatan Zefier, melainkan perbuatan Leo. "Aku memang sangat membenci orang ini. Itu sebabnya, tak ada yang boleh melukainya selain aku." Ucap Leo penuh kemarahan.
"A, apa...?! Praktisi tingkat api sedang...?!" Tuan muda Aregon gentar, tak percaya bahwa orang yang terlihat berantakan bahkan dengan perban di kepala, ternyata sudah mencapai level api sedang.
Semua orang juga terkejut melihatnya, Mereka yang tak mau terlibat dengan keributan di sana, segera berhamburan meninggalkan warung makan tersebut.
"Ka, kalian...! Cepat tangkap orang ini. Dia terlalu berbahaya." Perintah tuan muda Aregon sambil mundur sedikit demi sedikit.
Tapi diluar dugaan, meski dalam kondisi terlemahnya, Leo dengan cepat menekuk para pengawal tersebut hingga tak berkutik.
Pemandangan itu membuat tuan muda Aregon semakin ketakutan. Dia segera berlari meninggalkan warung tersebut Tampa mempedulikan semua pengawalnya.
Leo berniat mengejar, tapi perkataan Zefier membuat Leo mengurungkan niatnya.
"Aku mau pergi... Memilih kehilangan dia, atau aku...?" Ucap Zefier sekedar bercanda.
"Begini-begini, aku juga sanggup menjatuhkannya dalam sekejap." Tampak Leo masih tak terima. Sepertinya dia memanfaatkan peristiwa itu sebagai pelampiasan emosi.
"Aku juga berniat melarikan diri lho? Apa kau tidak khawatir...?"
Mendengar itu, akhirnya Leo memilih untuk tetap menjaga Zefier. Dia kembali duduk menghadap meja yang sudah tak berbentuk.
Bersambung...
__ADS_1