
Hu! Ha! Hu! Ha!
Sudah seminggu ini belasan bawahan Zefier berlari dan berlatih fisik dengan berbagai metode. Tak ada kesenangan, hanya wajah letih yang tampak semakin jelas. Tapi itu hanya penampakan luar saja sedangkan hati mereka tampak di penuhi dengan semangat yang membara.
Berlari puluhan kilo meter melewati hutan-hutan dan tanah terjal bebatuan, mengangkat batu-batu besar atau pohon-pohon raksasa yang tumbang, menahan nafas didalam air, hingga bersemedi dibawah terjangan air terjun yang sangat besar, semua itu demi mendapatkan kekuatan fisik yang memenuhi kriteria.
Setelah pagi ini melakukan sedikit pemanasan, Zefier memanggil semuanya untuk melakukan latihan tingkat selanjutnya, yaitu kultivasi energi tingkat dua.
"Baiklah... Sesuai janjiku, aku akan akan memberikan pengajaran tentang kultivasi energi. Tap sebelum memasuki tahap tingkat dua, aku ingin kalian terlebih dahulu memaksimalkan energi tingkat pertama kalian."
"Ini ada beberapa pil yang aku buat di waktu luang, namanya adalah pil perangsang energi. Kalian bisa menggunakan ini agar pelatihan kalian bisa lebih cepat." Ucap Zefier.
Terlihat Zefier membawa sebuah kotak yang dipenuhi dengan pil berwarna kuning. Pil-pil itu diberikan kepada semua orang. Setelah itu, dia kembali memberi sedikit arahan sebelum mereka mulai berlatih kembali.
"Aku tak tahu berapa lama kalian akan mencapai tingkatan maksimal. Yang jelas, jika seseorang mencapai batasannya, kalian akan merasakan fluktuasi energi yang berbeda dari biasanya."
"Seperti tingkatan ranah kultivasi, kalian juga akan mengalami kenaikan tingkat dalam ranah energi." Terang Zefier.
Semua mengangguk paham. Sejak hari itu, kegiatan mereka menjadi terbagi dua. Pagi pemanasan fisik, lalu kultivasi energi hingga sore, lalu kembali latihan fisik hingga matahari benar-benar tenggelam.
Tentunya, Kultivasi energi tak semudah latihan fisik, asal ada gerakan maka ada manfaat. Kultivasi energi lebih membutuhkan fokus atau konsentrasi tingkat tinggi. Semakin kuat konsentrasinya, semakin cepat pula prosesnya.
Menjalankan dua metode pelatihan sekaligus, memang cukup berat. Apalagi waktu istirahat yang mereka miliki terbilang singkat. Tapi tidak masalah, asal menjadi kuat, neraka sekalipun akan mereka lalui.
BUFFF! BUFFF...!
Memasuki Minggu kedua, Tetua Braham dan tetua Je akhirnya mengalami kenaikan tingkat. Wajar, mereka cukup lama berkecimpung dalam dunia kultivasi. Jadi, mereka hanya tinggal meningkatkan sedikit saja. Hanya saja, mereka tidak mengetahui ada hal seperti ini dalam kultivasi, makanya mereka hanya acuh tak acuh terhadap hal itu.
Zefier melakukan pelatihan terpisah pada tetua Braham dan tetua Je agar tidak mengganggu konsentrasi yang lain.
"Karena kalian sudah memaksimalkan energi tingkat satu, selanjutnya aku akan mengajarkan bagaimana cara meningkatkan energi tingkat dua."
"Sebelum itu, tentu kalian tahu apa apa itu ruang batin. Yaitu tempat berkumpulnya sejumlah energi yang kalian serap selama ini."
"Nah, hal yang harus kalian lakukan selanjutnya adalah menyerap energi itu dan memurnikannya kembali. Caranya sama seperti kalian memurnikan energi yang ada diluar sini." Terang Zefier panjang lebar.
__ADS_1
Penjelasan yang cukup simpel. Duo tetua langsung mengangguk paham tanpa ada pertanyaan.
"Baiklah, tuan muda.... Kami akan mencobanya." Ucap mereka.
"Ya, semat mencoba dan selamat berlatih."
Kedua tetua segera mempraktekkan seperti perkataan Zefier. Melakukan gerakan khusus dan mulai berkonsentrasi memasuki zona kultivasi.
Awal mencoba, Duo tetua tampaknya mengalami kesulitan. Terlihat wajah mereka seperti menunjukkan ekspresi yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Tak seperti biasa, bahkan keduanya mengeluarkan keringat yang cukup banyak, hingga membasahi seluruh pakaian.
Satu jam berlalu....
"Hosh, hosh, hosh...." Hampir secara bersamaan, duo tetua mengakhiri kultivasinya dengan nafas tersengal.
"Bagaimana, apa hasil yang sudah kalian dapatkan?" Tanya Zefier yang masih memperhatikan mereka.
"Tuan, apakah memang seperti ini tingkat kesulitannya?" Tanya tetua Braham.
"Ya, begitulah.... Aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kalian rasakan." Jawab Zefier berbohong. Padahal, dulu dia langsung dapat melakukannya selama enam jam tanpa henti. Itupun tak sampai kelelahan seperti duo tetua itu. Ya, setidaknya itu tidak akan melemahkan semangat mereka.
"Jangan terburu-buru! Istirahatlah sejenak, lalu lanjutkan lagi, nanti." Ucap Zefier seraya meninggalkan mereka dan beralih pada yang lain.
Disela istirahat, "Tetua Je, bagaimana menurutmu?" Tetua Braham membuka pembicaraan.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, tampaknya ini tak semudah membalikkan telapak tangan."
"Kupikir juga begitu.... Tapi aku malah semakin bersemangat!"
"Ya,setelah mengetahuinya, bagaimana mungkin kita melewatkan kesempatan ini begitu saja."
Tetua Braham setuju atas pendapat tetua Je. Dia juga sudah bertekad untuk berlatih sampai batas kemampuannya.
....
Disisi lain hutan....
__ADS_1
50 Mil dari tempat latihan rombongan Zefier, belasan rombongan tampak tengah mempersiapkan sesuatu di di tepi hutan.
"Huh! Perguruan Cakar Api, apa yang kalian lakukan disini? Apakah pengalaman tahun lalu masih belum cukup dijadikan sebagai pelajaran?"
"Heza! Ini adalah perburuan yang bisa diikuti setiap orang. Siapapun boleh berpartisipasi didalamnya. Kali ini, kelompokku takkan kalah dari perguruan Batu Awan mu." Jawab Klusa, kepala pembimbing perguruan Cakar Api.
"Benarkah? Takutnya, kalian akan mengalami kerugian yang lebih besar tahun ini. Bukankah tahun lalu kalian hanya tersisa lima orang?"
"Kalian terlalu keji dan curang. Orang lemah seperti kalian, hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan." Klusa menatap tajam mata Heza. Tahun lalu, orang-orangnya dijebak. Sekarang dia sudah memperingatkan para muridnya agar lebih berhati-hati.
"Hahaha....!" Heza tertawa keras. " Lemah? Kata itu tak pantas kau katakan pada pemenang. Sadar dirilah!" Ucap Heza, membuat Klusa menjadi kesal.
Klusa menggenggam tangannya erat-erat. Jika tak ada siapa-siapa disana, dia mungkin sudah memberi pelajaran pada Heza. Menag kalah, itu urusan belakangan.
Ditengah pertikaian kata-kata itu, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Lihat, rombongan walikota sudah datang." Ucap beberapa orang. Semua mata segera mengarah kepada rombongan yang dimaksud. Terlihat beberapa pengawal berjalan di belakang walikota tersebut.
"Walikota Gauti, pemimpin kota Rumbinola.... Benar saja, dia selalu membawa pengawal dengan penampilan bringas itu!" Ucap Alter, kepala pembimbing perguruan Angin topan.
"Hati-hati saja. Dia hanya manis didepan, tapi menikam dibelakang!" Erdake, kepala pembimbing perguruan taring macan, mengingatkan tentang sifat asli walikota Gauti.
Semuanya mengangguk setuju. Tidak ada yang tidak tahu tentang sifat serakah walikota Gauti. Demi memperkaya diri sendiri, dia sengaja membuat acara seperti ini dengan tujuan memanipulasi hasil buruan tersebut.
Perguruan yang memiliki penghasilan tertinggi, akan mendapat kedudukan tinggi dan kedekatan dengannya. Sedangkan yang berpenghasilan rendah, hanya akan dipandang biasa saja. Bahkan, terkadang mendapat kesulitan saat hendak melakukan aktifitas yang membutuhkan persetujuan walikota tersebut.
"Seperti biasa, tampaknya semua orang bersemangat hari ini. Ingat...! Kegiatan ini bertujuan mencari pengalaman dan kekuatan, agar semakin banyak orang-orang kuat di kotaku. Untuk meningkatkan semangat, aku akan menghadiahi mereka yang berhasil mendapatkan tanaman herbal terbaik, terutama untuk binatang. Terlebih, aku juga akan berhubungan dekat dengan kalian." Terdengar walikota Gauti menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai acara pembuka.
Semua mendengar dengan seksama, tentu saja mereka tahu bahwa itu hanya formalitas yang dibuat-buat.
"Jangan lupa untuk tetap berhati-hati, keselamatan kalian adalah yang utama." Lanjut walikota Gauti.
"Hanya bicara omong kosong, tapi panjangnya berkilo-kilo." Ucap seseorang, tampaknya sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan walikota tersebut.
"Baiklah.... Hari ini, acara perburuan resmi dimulai!" Teriak Walikota Gauti. Dan orang-orang menjawab dengan teriakan semangat yang tentunya hanya bohongan.
__ADS_1
"WOOO...!" Teriak mereka, lalu memulai perjalanan menurut kelompok masing-masing.
Bersambung....