
"Hantu...?! Ah, tidak mungkin. Itu hanya cerita fiktif belaka." Batin tetua Je saat melihat pemuda misterius dihadapannya yang muncul entah dari mana.
"Hmmm.... Sepertinya dia baik-baik saja." Ucap pemuda itu sambil melirik kebawah melalui celah yang tercipta oleh bilah pedang. Tak salah lagi, dia adalah Zefier.
"Untung masih terjangkau.... Jika sampai terjadi apa-apa padanya, Aku tak begitu yakin, mungkin tempat ini akan aku buat rata dengan tanah." Lanjut Zefier, acuh.
Deg! Mendengar perkataan Zefier, tetua Je kaget bukan kepalang. Pikirannya menari liar, sedikit memahami maksud pemuda dihadapannya tersebut.
"Apa dia yang melakukan ini?! Tapi itu terlalu mustahil, apa lagi usianya masih terlihat sangat muda." Batin tetua Je.
Tetua Je mencoba menyelidiki Zefier lebih dalam. Hingga akhirnya dia menyadari sesuatu yang membuatnya semakin terkesima.
"Anak muda, aku yakin kedatangan mu kemari karena alasan tertentu. Jika boleh bertanya, apa tujuanmu?" Tetua Je tampak bertanya dengan hati-hati. Setelah dipikir-pikir, seharusnya sudah tidak ada orang disekitar sini.
Sejak penangkapan mahluk aneh itu, mereka segera mengumumkan agar meninggalkan area sekitar dan mengungsi ketempat yang jauh. Apalagi perintah yang mereka berikan adalah mutlak. Hingga saat ini, belum ada yang berani menentang perkataan mereka.
Tapi itu semua tidak penting, yang membuatnya terkejut adalah, ranah pemuda dihadapannya ini sangat tidak masuk akal. Sedikitpun dia tak bisa membacanya.
Ranah neraka...? Tetua Je memang pernah bertemu orang dengan ranah setingkat itu, tapi tidak sedikitpun dia gentar seperti saat bertatap mata dengan pemuda ini.
"Kakek tua, aku yang seharusnya bertanya.... Mengapa kalian menangkap bawahanku, apakah dia membuat sebuah kesalahan?!"
Benar saja seperti yang tetua Je pikirkan, pemuda itu bahkan tidak berlaku sopan terhadapnya. Dalam dunia kultivasi, orang lemah selalu memberi hormat pada yang kuat, dan sejak awal tetua Je tidak menyembunyikan kultivasinya. Jika itu orang lain, pasti sudah bersujud untuk mencari perhatian.
"Bawahan?! Aku tidak merasa pernah melakukan apapun.... Seperti yang kau lihat, kami memiliki masalah sendiri. Jadi kami tidak mungkin berhubungan dengan orang yang kau maksud."
Mata Zefier kembali menatap tajam kearah tetua Je. "Huh! Kau malah menghindar, padahal orang yang dimaksud berada tepat didepan mataku." Hardik Zefier.
Zefier mengayunkan tangannya kearah tetua Je. Hanya karena insting, entah mengapa saat melihat gerakan tangan Zefier, tetua Je segera melompat seakan menghindar. Ternyata bertepatan setelah itu, api merah dengan bentuk bilah pedang langsung meluncur cepat dan membelah semua bangunan yang dilaluinya hingga jarah ratusan meter.
__ADS_1
"I, ini...." Sekujur tubuh tetua Je tampak menggigil dan dipenuhi keringat dingin. Otaknya seakan tak mampu menerima informasi yang tidak masuk akal. Andai saja dia tidak berpindah dari tempatnya saat itu, mungkin tubuhnya sudah terbelah menjadi dua bagian.
Tetua Je sudah sangat terkejut melihat kemampuan bilah pedang pertama yang datang entah darimana. Tapi sekarang, dia bagai terkena serangan jantung saat tau ternyata yang melakukan itu adalah anak muda berusia 16 tahunan.
"Kakek tua, kau sungguh hebat! Kau bisa menghindarinya." Puji Zefier, tapi tidak tulus. "Aku akan mengurusi mu nanti. Melihat orang-ku yang masih terbelenggu, sungguh membuat hatiku tidak nyaman." Lanjutnya. Dia kemudian melompat turun, tepat berada di hadapan mahluk aneh misterius tersebut.
Semua orang terkejut melihat kehadiran Zefier. Mereka serentak meneriaki Zefier agar pergi dari sana.
"Hei, kau.... Pergi dari situ, itu sangat berbahaya."
Zefier sama sekali tidak bergeming dengan peringatan tersebut. Dia bahkan menatap mahluk aneh dihadapannya dengan penuh rasa bersalah.
"Apa kau baik-baik saja, Flyn?" Tanya Zefier seraya menempelkan tangannya pada sebuah tumpukan segel rantai yang mengikat ketat.
Prank....! Rantai itu hancur berkeping-keping, menghilang bagai debu yang beterbangan.
"Apa yang kau lakukan...!" Semuanya berteriak marah. Susah payah mereka menahan mahluk mengerikan itu, tapi Zefier melepaskannya begitu saja Tampa rasa bersalah.
Mendapati hujatan yang tak kunjung berhenti, Zefier mengayunkan tangannya. Api merahnya sekali lagi membentuk bilah pedang yang melayang membentang agar jangkauannya lebih luas.
Menyadari apa yang akan terjadi... "Semuanya, menunduk!" Teriak tetua Je dari atas.
Bilah pedang melayang dengan sangat cepat. Beberapa orang sempat menunduk sesuai instruksi tetua Je. Malangnya, Kebanyakan tak sempat menghindar karena terfokus pada tetua Je. Alhasil, tubuh mereka terbelah dua seperti tiang-tiang kokoh yang ada dibelakang mereka.
Semua mata terbelalak, mendapati puluhan nyawa melayang begitu saja hanya dalam sekali tebasan. Belum lagi saat melihat Zefier melakukannya tampak seperti mainan tak berharga.
Tubuh mereka bergetar hebat. Setiap urat syaraf dan persendian seperti tak berfungsi sebagaimana mestinya, lemas, kebas, dan tak berdaya. Hanya detak jantung yang terdengar masih bekerja namun dalam kecepatan gila, berdetak berkali lipat dari biasanya karena perasaan takut yang mereka hadapi.
"To- tolong jangan bunuh kami!" Sisa bawahan duo tetua, berteriak memohon belas kasihan.
__ADS_1
"Selamatkan?!" Ini adalah satu-satunya orang yang setia menemaniku sekarang dan selamanya, dan kalian akan membunuhnya. Bisakah kalian memberi kejelasan?" Zefier membalikkan pertanyaan tersebut. Semuanya terdiam.
"Ka-kami hanya membela diri dari mahluk aneh itu."
"Mahluk aneh, ya... Hahaha..." Zefier tertawa keras. "Membela diri...? Kalian tak perlu beralasan. Dimana pun mahluk ini berada, dia selalu dalam kontrol dan pengawasanku... Sekali lagi aku tanyakan, siapa dari kalian yang melihatnya berbuat kejahatan jika bukan karena kalian memojokkannya terlebih dahulu." Tanya zefier lagi.
Semua orang terdiam, tak ada yang mampu menjawab. Faktanya, semua memang seperti perkataan Zefier. Merekalah yang tiba-tiba menyerang mahluk aneh itu walaupun memang dibawah perintah duo tetua.
Sekarang mata Zefier menatap tajam pada tetua Braham.
Tetua Je segera melompat turun, mendarat tepat disebelah tetua Braham. Ini pertama kalinya tetua Je melihat teman seperjuangannya itu begitu ketir saat menghadapi ketakutan.
Wajah tetua Braham tampak pucat pekat. Dari awal dia hanya terdiam dan tidak berkata sedikitpun. Nyalinya runtuh seperti batang pohon yang lapuk dimakan usia.
"Tetua Je..." kalimat tetua Braham terpotong, tak tahu kalimat selanjutnya yang ingin dia katakan.
"Ya, aku tahu... Serahkan padaku, aku akan berusaha melakukan negosiasi." Balas tetua Je, sambil coba menenangkan tetua Braham yang sedang frustasi berat.
Disinilah mengapa tetua Braham sangat senang saat melakukan tugas apapun bersama tetua Je. Sejak dulu tetua Braham tahu, tetua Je sangat bisa diandalkan dalam berbagai situasi. Tidak hanya taktik dalam pertarungan, bahkan taktik sosialisasi pada lawan juga mampu tetua Je lakukan.
Tetua Je berjalan beberapa langkah menuju Zefier sambil berusaha untuk tetap tenang. Bohong jika mengatakan dia sama sekali tidak gugup, walaupun ini pertama kali baginya merasakan perasaan itu.
"Tu- tuan muda...!" Sapa tetua Je.
Di belakang, tetua Braham tercengang melihat tetua Je yang sekarang. Berkali-kali dia melihat hal seperti ini, tapi baru kali ini dia menyaksikan tetua Je begitu ketakutan.
"Apa tetua Je merasakan seperti yang aku rasakan? Apakah dalam kondisi ini, negosiasi bisa berjalan lancar?" Batin tetua Braham, ragu.
Bersambung....
__ADS_1