
Keesokan harinya....
Di dalam sebuah aula, tampak Dekan dan seluruh wakil dekan serta beberapa tenaga pengajar yang dituakan, hadir di ruangan itu. Disisi lain terlihat dua orang pemuda yang tak asing, mereka adalah Dan Dzik dan Leo.
"Apa yang kalian ketahui tentang kejadian itu?" Dekan Eldrick bertanya seakan Dan Dzik dan Leo memahami masalah itu.
"Maaf, pak tua! Kami sama sekali tidak mengetahui apa yang kau maksud." Ucap Leo tampa tahu dengan siapa dia berbicara.
Melihat ketidak kesopanan Leo, salah satu Wakil dekan coba menindaknya agar memahami apa itu tata krama. "Bocah sialan! Kau pikir, dengan siapa kau bicara."
Dekan Eldrick mengangkat tangan agar wakil dekan tersebut tidak melakukan apapun. "Sudahlah, aku yang salah.... Aku bertanya Tampa memperkenalkan diri terlebih dahulu." Ucap dekan Eldrick.
"Anak muda.... Aku adalah dekan Eldrick. Pimpinan tertinggi akademi Xolfrods." Lanjut dekan Eldrick, memperkenalkan diri.
Seketika itu, Dan Dzik dan Leo langsung terkesima. Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang itu.
"Baiklah.... Aku akan bertanya sekali lagi. Sebagai orang yang paling dekat dengan dengan kejadian, setidaknya kalian sedikit mengetahui kejadian itu bukan? Apakah kalian bisa memberitahukannya padaku?" Ulang dekan Eldrick.
Dan Dzik dan Leo tampak berpikir keras. Sejauh ini yang ada dalam pikiran mereka hanyalah Zefier. Tapi mereka masih belum yakin akan hal itu. Walaupun sekiranya benar, mereka juga tidak ingin memberitahukannya sama sekali.
"Maaf, dekan pimpinan.... Saat itu kami sedang memesan makanan dan ingin sarapan, tiba-tiba ada sebuah energi besar yang membuat kami langsung tak sadarkan diri." Jawab Dan Dzik Tampa ragu.
"Benarkah? Tidakkah ada yang kalian sembunyikan?" Lanjut Dekan Eldrick, bertanya.
"Sedikitpun tak ada yang kami sembunyikan. Kami menceritakan apa adanya." Jawab Dan Dzik, lagi.
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba wakil dekan Arez masuk membawa seseorang. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah pemilik warung makan yang Dan Dzik dan Leo kunjungi.
"Bagaimana dengan orang ini, apa kalian mengenalnya?" Wakil dekan Arez menatap tajam kearah mereka berdua. Tampaknya ada dendam terselubung dibalik dendam itu.
"Apa maksud anda, tetua? Kami sudah mengatakan yang sebenarnya." Kali ini Leo yang menjawab. Leo mengerti dengan tatapan tak sedap wakil dekan Arez.
"Benar saja, kalian menyembunyikan sesuatu.... Kau! Jelaskan apa yang kau katakan sebelumnya." Pinta wakil dekan Arez pada pemilik warung itu.
__ADS_1
Pemilik warung tersebut mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa tepat sebelum kejadian itu mereka berjumlah tiga orang. Tapi setelah kejadian itu, satu diantara mereka tak kunjung ditemukan hingga saat ini. Melihat dampak yang terjadi, seharusnya orang itu juga mengalami hal yang sama.
Pemilik warung tersebut tak lupa memberikan ciri-ciri orang yang dimaksud sesuai dengan apa yang diingatnya.
"....Begitulah kira-kira, tuan." Jelas pemilik warung.
Deg! Jantung Dan Dzik dan Leo berdegup kencang saat pemilik warung mengatakan ciri-ciri yang sangat sesuai dengan zefier. Tak ada celah bagi mereka untuk terus menyembunyikannya.
Tak berhenti sampai disitu. Wakil dekan Arez juga menceritakan pengalaman pertemuannya dengan Leo. Mulai dari Leo yang ranah Api sedang, mampu mengalahkan Falmes yang berada di ranah api besar. Lalu, wakil dekan Arez memberikan kesaksian yang membuat mereka dicurigai sebagai rekan dari seorang *******.
Mendengar penjelasan panjang lebar itu, dekan Eldrick kembali memastikan kepada Dan Dzik dan Leo. "Bagaimana? Apa kalian ingin menyangkalnya?"
"Yang mereka sampaikan memang benar adanya, tapi ada satu yang mereka tidak ketahui." Ucap Dan Dzik.
"Apa itu?"
"Kami hanya rekan seperjalanan yang kebetulan berjumpa. Tak ada diantara kami yang saling mengenal satu sama lain." Terang Dan Dzik, lagi.
"Apa ada hubungannya dengan hal ini?" Dekan Eldrick tampak semakin penasaran.
Kali ini, giliran wakil dekan Arez yang bercerita. Dia memberitahukan semua kejadian di perahu terbang yang penuh dengan mayat bergelimpangan.
Menurut informasi yang dia terima dari komandan penerbangan, ciri-ciri orang yang melakukan pembantaian itu sama seperti pemuda yang dijumpai wakil dekan Arez saat menyambut keponakannya Falmes. Walau tidak percaya dengan kemampuan Zefier, tapi wakil dekan Arez bisa memastikan, kemungkinan besar Zefier menggunakan benda pusaka yang sangat hebat. Hanya dengan begitulah baru cerita ini bisa masuk akal.
Sekarang, Dan Dzik dan Leo sudah seperti mati langkah. Kejadian itu begitu sinkron, sehingga mereka tak bisa mengelak.
"Wakil dekan Arez, apakah kata-katamu dapat dipercaya?" Tanya dekan Eldrick, memastikan.
"Tentu saja, pimpinan. Aku juga bersedia menghadirkan beberapa saksi, jika dibutuhkan." Jawab Wakil dekan Arez.
"Hemmm.... Mari kita anggap begitu. Bagaimana dengan kalian? Apakah ada yang ingin membantah?" Dekan Eldrick kembali bertanya pada Dan Dzik dan Leo.
Sebenarnya, bisa saja mereka mengelak mati-matian. Tapi sejak awal semua cerita yang tersampaikan sudah menjebak mereka cukup dalam, hingga tak ada lagi jalan keluar.
__ADS_1
....
Tiga hari kemudian....
Di halaman utama akademi Xolfrods, tampak arak-arakan manusia yang begitu ramai. Semua murid berkumpul di satu tempat sambil menyaksikan dua pemuda yang dihukum ditengah-tengah lapangan tersebut. Hal ini sudah berlangsung sejak dua hari yang lalu.
"Bagaimana? Mengapa kalian tidak mau mengakui perbuatan kalian? Kalian hanya perlu memberitahu siapa saja dalang dibalik semua ini." Megion, selaku murid andalan disana, mendapat tugas untuk mengintrogasi Leo dan Dan Dzik dengan memberikan siksaan yang di saksikan langsung oleh seluruh murid akademi Xolfrods.
Dan Dzik dan Leo tak mau membuka mulut. Jika harus menanggung ini seumur hidup, mereka juga takkan bisa menjelaskan apapun. Itu karena mereka tidak tahu sama sekali tentang Zefier.
Disisi lain, tampak Livy melihat penyiksaan itu dengan rasa iba. Sifat Megion yang sangat arogan, semena-mena karena dia menyadari keberadaan Livy yang sedang memperhatikannya. Apa lagi kalau bukan mencari perhatian.
Benar saja, setelah Livy meninggalkan tempat itu, Megion segera berhenti dan mengejarnya.
"Adik Livy, tunggu aku...." Teriak Megion memanggil.
Livy menghentikan langkahnya.
"Mengapa kau begitu cuek, akhir-akhir ini?" Tanya Megion yang merasa selalu diabaikan akhir-akhir ini.
"Benarkah?! Sebagai wanita sialan, aku mungkin tak menyadari hal itu." Ucap Livy, mengulang kalimat yang pernah Megion ucapkan padanya.
"Adik Livy.... Mengapa kau masih mengingat hal itu? Aku minta maaf, karena sudah khilaf sampai mengatakan hal itu."
"Tenang saja, senior Megion.... Aku tidak menuntut apapun! Sebaliknya, aku berharap senior juga melakukan hal yang sama." Jawab Livy.
"Adik Livy...." Megion terdiam dan tak tahu harus berkata apa lagi.
Ditengah pertengkaran sepihak itu, tiba-tiba terlihat sebuah penampakan yang tak biasa. Penampakan itu sampai menarik perhatian dan menggemparkan semua murid, termasuk Megion dan Livy.
Dari arah timur, terlihat tiga perahu terbang dengan ukuran yang sangat besar, terbang di langit akademi Xolfrods. Yang lebih aneh lagi, ketiga perahu terbang itu tampak terbang beriringan satu sama lain.
Bersambung....
__ADS_1