System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Pertarungan Sengit....


__ADS_3

"Kakek tua sialan, rasakan ini!" Teriak Simeon seraya melancarkan serangan. Dia berlari dengan sangat cepat. Gerakannya cukup lincah, terampil dalam menjaga jarak dan mencari kesempatan. Tampaknya kemampuan bertarungnya bukan hanya isapan jempol belaka.


Tapi lawannya adalah orang yang sudah puluhan tahun lebih dulu menyicipi dunia kultivasi. Meski mereka sama-sama diranah neraka, tapi perbedaan pengalaman tetap menjadi faktor utama untuk menggapai kemenangan.


Tetua Braham menghindari setiap serangan Simeon. Tubuh tuanya tidak sedikitpun memperlambat atau menunjukkan kelemahan. Dia bahkan terlihat lebih rileks dalam setiap gerakan. Tak ada tindakan berlebihan sedikitpun, dimana sering kali hal remeh tersebut membuat seseorang mudah kelelahan.


Sejauh ini, Simeon terlihat mendominasi serangan. Dia tak berniat memberi jeda meski hanya sesaat. Jurus demi jurus silih berganti, bertaruh ada satu atau dua jurus yang akan mengenai tetua Braham. Tapi setelah sekian lama, Simeon akhirnya kelelahan sendiri.


"Tetua sialan, kau hanya bisa menghindar. Serang aku jika kau ada kemampuan!" Ucap Simeon dengan nafas tersengal.


"Apa kau ingin mati secepat itu...? Aku sedang menilai serangan apa yang pantas kuberikan. Orang tua ini takut, jasad mu tak tersisa sedikitpun. Kasihan kakek mu jika sampai menangisi cucu yang tak ada abu."


"Tua Bangka...! Dari tadi kau selalu memprovokasi ku. Kenapa tidak mulutmu saja yang bertarung?" Balas Simeon. Ternyata dia cukup mampu mengimbangi kata-kata tetua Braham.


"Hahaha.... Ternyata, kau cukup cukup mahir dan berbakat dalam mempelajari pertarungan lidah. Aku cukup terkesan.... Setidaknya, ada satu yang menonjol darimu selain kebodohan.


Mendapati pertikaian mulut antara orang tua dan seorang pemuda, tetua Je merasa agak terkejut. Padahal selama ini dia tidak pernah melihat tetua Braham yang seperti itu.


Dibelakang sana, Zefier terus memperhatikan pertarungan. Matanya bahkan tak berkedip sedikitpun, seakan tak ingin melewatkan detail sekecil apapun. Dia baru menyadari, ternyata inilah sensasi yang orang-orang rasakan saat melihat keributan. Seru dan menegangkan.


Disisi lain, terlihat ratusan orang turun dari perahu terbang duta pil dan obat, berbaris rapi tepat dibelakang Jorga. Mereka adalah para bawahan yang bertugas mengawal sekaligus mengendalikan perahu raksasa tersebut.


"Kakek tua, bisakah kita menyelesaikan ini dengan cepat? Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan selain meladeni orang tua gila sepertimu." Ucap Simeon.


"Nah! Kalau begitu, silahkan pergi.... Kami juga tak sedang bersantai dan ingin segera meninggalkan tempat ini." Balas tetua Braham.


"Jagan harap...! Selain kepalamu dan kepala seluruh bawahan yang mengikuti mu, Jagan pernah berpikir meninggalkan tempat ini." Sergah Simeon. Emosinya semakin naik hingga ke ubun-ubun. Kali ini, dia meningkatkan gelombang energi di sekujur tubuhnya. Api kuning tampak kian membesar, menimbulkan panas yang kian menyengat.


"Hemmm! Tampaknya kau ingin menggunakan jurus andalan, tapi sayang...." Tetua Braham mengambil kuda-kuda, lalu menebaskan pedang yang sudah diselimuti api, di udara hampa.


Tak ada yang mengerti mengapa tetua Braham melakukan itu. Hingga setelah tebasan pedang tersebut, tiba-tiba api kuning dengan bentuk bilah pedang, melayang dengan cepat kearah Simeon.

__ADS_1


Simeon terkejut, fokusnya menjadi hilang. Dia tak menyangka bahwa tetua Braham mampu melakukan sesuatu yang seperti itu. Akibatnya, dia tak sempat menghindar.


Sedikit lagi bilah pedang api milik tetua Braham akan mengenai Simeon. Tapi dari arah berlainan, sebuah kemampuan yang sama, datang menghadang dan menghantam bilah pedang api tersebut.


Duar...!


Benturan api yang seimbang, mengakibatkan ledakan yang lumayan kuat. Akibat ledakan itu, Simeon hanya terpental beberapa meter kebelakang. Tidak tau apa jadinya jika simeon terkena langsung bilah pedang api tersebut.


"Oh? Ternyata kau juga sudah bisa menggunakannya." Ucap tetua Braham sambil menatap Jorga.


"Heh! Kau pikir, hanya kau saja?!" Balas Jorga, remeh. Ternyata yang menepis jurus tetua Braham adalah bilah kapak api miliknya.


Disisi lain, para bawahan tampak terkesima melihat kemampuan langka itu. Seseorang yang mampu melepas kekuatan api dan membuatnya terbang kearah musuh, itu adalah kemampuan yang tak pernah terpikir untuk mereka miliki. Walau sudah pernah menyaksikan jurus itu, tapi mereka masih saja dibuat takjub.


"Zona api...?!" Gumam tetua Je. Sekali lagi dia terkejut melihat kemampuan tetua Braham. Dia tak menyangka, kemampuan yang hanya dimiliki sedikit orang, ternyata salah satunya adalah tetua Braham.


Zona api berbeda dengan jurus api biasa. Jurus api biasa hanya bisa dilakukan dengan benturan fisik. Sedangkan zona api, dapat melakukan serangan jarak jauh seperti melemparkan api atau membuat api dalam berbagai bentuk, sesuai fungsinya.


Seseorang dengan kemampuan biasa, bisa saja membentuk apinya menjadi senjata tombak, tapi tidak akan bisa melemparkannya. Sebab, jika tidak menguasai zona api, maka tombak itu akan menghilang begitu saja di udara. Sedangkan zona api, akan membuat ketahanan api menjadi lebih kuat, membuat jeda beberapa saat sebelum api itu menghilang seperti jurus api biasa.


Sekarang, tetua Braham tampak berhadap-hadapan dengan Jorga. Dari segi kultivasi dan kekuatan, mereka berada ditingkat yang sama. Lagi-lagi yang membedakan mereka adalah pengalaman.


"Simeon.... Mundur dan obati dirimu. Biar paman yang mengurus kakek tua ini!" Ucap Jorga.


"Baik, paman..."


Simeon pergi menuju para bawahannya. Disana dia segera meminum pil dan langsung melakukan sedikit kultivasi untuk mempercepat efek pil tersebut.


"Kakek tua.... Jangan hanya karena memiliki sedikit kemampuan, kau merasa berada di atas angin. Sekarang lawan mu adalah aku. Kita lihat, apa yang bisa dilakukan tua Bangka sepertimu." Dengan arogan, Jorga menantang tetua Braham.


Mendengar itu, tetua Braham hanya tersenyum. "Silahkan..." Ucapnya.

__ADS_1


Set, Wush...!


Kali ini, penantang tetua Braham adalah Jorga. Gerakannya jauh lebih cepat daripada Simeon. Dia melompat kesana kemari dengan tujuan membuat tetua Braham kebingungan dan membuat celah.


Trang...!


Sesekali kapak Jorga dan pedang tuan Braham, beradu. Suaranya yang begitu nyaring, membuat sebagian orang merasa ngilu.


Cara bertarung Jorga tak jauh beda dengan simeon. Bahkan Jorga terlihat lebih agresif. Bilah pedang dan kapak api beberapa kali saling beradu, lagi-lagi kekuatan diantara keduanya cukup imbang.


"Kapak raksasa...!" Teriak Jorga.


"Pedang raksasa...!" Teriak tetua Braham, tak mau kalah.


Kedua bilah pedang dan kapak api saling beradu. Ukurannya yang besar, membuat masing-masing jurus tampak sangat mendominasi.


Duar....!


Ledakan kuat, terdengar menggema memenuhi langit duta keuangan. Keduanya berhenti sesaat. Masing-masing saling merasakan efek jurus yang membuat tangan mereka bergetar.


"Mengapa kau tak mengalah saja, pak tua?" Di usiamu ini, tempat yang layak bagimu hanyalah tanah kuburan." Ucap Jorga.


"Kau benar.... Tapi setidaknya aku ingin kau menghibur sebelum kepergian-ku. Mungkin saja aku akan tertarik, atau bahkan mempersilahkan-mu terlebih dahulu." Jawab tetua Braham, setuju. Tapi maknanya kebalikan daripada itu.


"Huh! Kalau begitu, aku dengan berat hati akan menolak. Jika mau pergi, pergi saja sendiri. Aku akan membantu menggali kuburan mu."


Jorga melancarkan serangan kecil, namun ditepis begitu saja oleh tetua Braham.


"Tua Bangka...! Bagai mana jika kita beradu kekuatan terkuat masing-masing? Aku bosan dengan cara bertarung mu yang kebanyakan menghindar." Usul Jorga.


"Baiklah... Asal kau tidak menyesalinya."

__ADS_1


Tampa sepengetahuan Jorga, tetua Braham memberikan isyarat pada tetua Je. Tetua Je dengan sigap sangat mengerti apa maksud tetua Braham.


Bersambung....


__ADS_2