
Harold begitu terkejut dan khawatir melihat kedatang Falmes. Anak semata wayangnya itu, seharusnya saat ini sedang berlatih di akademi Xolfrods.
"Arez, mengapa Falmes kembali! Apakah dia tidak diterima di akademi xolfrods? Seharusnya, sebagai orang dalam kau bisa dengan mudah memasukkan Falmes disana. Mengapa...?" Batin harold, membuat kacau pikirannya. Ditambah lagi, Falmes saat ini memasang badan untuk melindunginya.
"Ayah! Apa ayah baik-baik saja? Apa yang sebenarnya telah terjadi!" Tanya Falmes, tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Dia segera memapah Harold yang masih merangkak di tanah.
Bukannya menjawab, Harold malah balik bertanya. "Dimana pamanmu! Mengapa kau kembali?"
"Ayah, kita bahas itu nanti. Sekarang, kau harus beristirahat dan mengobati lukamu. Orang itu, biar aku yang mengurusnya!" Ujar Falmes.
Mendengar perkataan putranya, Harold menjadi semakin khawatir. "Falmes, jangan! Kau tak akan mampu melawannya, kau akan terbunuh." Harold coba menghalangi.
"Jika kita tak melakukan apa-apa, apakah dia akan membiarkan kita, ayah?" Tanya Falmes.
Harold terdiam, logika Falmes memang tidak salah. Tapi masih ada cara lain yaitu dengan membiarkannya terbunuh, asalkan anak semata wayangnya itu beserta para murid yang lain bisa pergi dan selamat. Karena, memang dirinyalah yang menjadi incaran Roderick. Dia tak mau permasalahan itu meluas kepada yang lain.
Namun, itu hanya harapan yang tak tersampaikan, semua semakin kacau saat... "Lihat! Bukankah itu tuan muda falmes?!" Ucap para murid perguruan bintang timur.
"Ya, kau benar! Mumpung ada tuan muda Falmes... Ayo! kita bantu guru harold! Beberapa orang, bantu tuan muda Falmes menghadapi orang itu." Ucap yang lain sembari berlari menuju Falmes dan ayahnya.
"Tuan muda, Falmes...! Untung kau segera datang. Jika tidak, kami tak tahu harus berbuat apa!" Ucap para murid sambil membantu Falmes memapah Harold, ayahnya.
"Ya, bantu aku membawa ayah ketempat yang aman, sekaligus tolong obati ayah. Aku akan berusaha menahan orang ini."
"Tidak! Kami juga akan membantu anda, tuan muda falmes! Meski kultivasi anda hampir menyamai guru, tapi anda tidak mungkin melawannya sendirian!"
Mendengar perbincangan para murid dan anaknya, hati Harold terasa sakit. Dia teringat kenangan dulu dan sekarang terulang kembali.
"Kalian semua, apa yang kalian katakan! Cepat tinggalkan perguruan ini. Kalian adalah penerus, biarkan saja aku menghadapi orang itu hingga titik pendarahan terakhir." Ucap Harold dengan suara berat.
"Guru, jangan membuat kami menanggung penyesalan. Membiarkan guru mati ditangan orang itu, hanya akan mematikan semangat kami kelak." Dengan tekad yang kuat, para murid berusaha meyakinkan Harold.
Harold terharu, dia tak pernah mengira bahwa pengabdian murid-muridnya begitu tulus. Tapi, ini urusan nyawa, mengucapkan kata-kata tak semudah melakukannya. Penyesalan mungkin bisa ditanggung bersama, tapi nyawa adalah urusan masing-masing.
__ADS_1
Belum ada kepastian bagaimana rencana itu akan berjalan, tiba-tiba Roderick memotong pembicaraan mereka.
"Cukup sampai disitu! Upacara kalian terlalu memakan waktu. Sengaja aku membiarkan kalian untuk saling melepas rasa, kalian malah menggunakannya untuk merencanakan pelarian!" Sela Roderick. Tampaknya, dia ingin melanjutkan hajat yang sempat tertunda.
Harold dan yang lainnya segera menatap kearah Roderick. Mata mereka dipenuhi cahaya kemarahan. Tentu saja karena tak terima dengan perlakuan Roderick yang menghakimi secara sepihak.
Disisi lain, para penduduk hanya bisa memperhatikan dan tak berani ikut campur. Keberadaan mereka hanyalah debu diantara barisan orang yang berkecimpung di dunia kultivator. Berlagak sedikit saja, nyawa bisa hilang seketika.
"Roderick! Aku akan menyerahkan nyawaku... Sebagai gantinya, tolong biarkan semua murid bintang timur.!" Harold coba bernegosiasi.
"Hahaha!" Roderick tertawa lantang. "Kau jangan salah, aku memang tak berniat melukai mereka. Tapi aku juga tak akan melepaskan mereka begitu saja. Mereka akan menjadi murid pertamaku. Jika menolak, mungkin aku akan menjadikan mereka sebagai budak perguruan yang akan didirikan nanti." Ucap roderick.
"Kami menolak!" Jawab semua murid Harold, serentak.
"Artinya, kalian memilih opsi kedua!" Dengan tatapan tajam, Roderick berucap penuh tekanan. Hal itu membuat segenap murid Harold, bergidik.
"Huh! Jangan harap, semua akan berjalan sesuai keinginanmu! Aku takkan pernah membiarkan itu terjadi!" Falmes maju selangkah, membela para murid.
"Cuih!" Falmes meludah. "Sebagai putra Harold, sampai kapanpun aku takkan sudi!" Tolak Falmes.
Mendapat perlakuan tak sopan, Roderick menjadi geram dan marah. "Sialan kau, bocah ingusan! Menolak tawaranku, kau tampaknya punya nyali!"
"Tentu saja! Banyak orang yang lebih kuat darimu, tapi tak ada yang lebih sombong dan kanak-kanak seperti kau!" Balas Falmes.
"Ternyata, mulutmu lebih tajam dari pada kemampuanmu. Aku ingin lihat, apakah mulutmu bisa menyelamatkan kalian hari ini!"
Roderick tampak tak mampu lagi menahan ocehan Falmes yang berulangkali menusuk hatinya. Dengan sedikit kekuatan, dia bermaksud menyerang dan memberi pelajaran pada Falmes.
Melihat Roderick mulai beraksi, Falmes menyuruh para murid untuk segera membawa ayahnya pergi dan hanya menyisakan beberapa murid unggulan untuk membantunya melawan Roderick.
"Andai paman Arez ada disini, kau mungkin akan mati seketika. Tapi sebagai laki-laki, aku takkan bersembunyi dibelakang orang lain!" Ucap Falmes.
"Oh...! Orang tua itu kah? Aku memang tak berani melawannya. Tapi aku tahu, dia tak akan semudah itu kembali kesini, mengingat dia adalah salah satu dekan akademi Xolfrods." Balas Roderick sambil melangkah maju.
__ADS_1
Falmes dan para murid segera bersiaga. Meski menang jumlah, tapi orang yang mereka lawan bukanlah orang lemah. Bahkan cukup untuk menjatuhkan mereka dalam sekali serangan. Jika bukan karena harga diri, mereka mungkin sudah memilih lari sejak awal.
Wuzzz!
Falmes langsung menggunakan api birunya. Hanya dengan melihat api langka itu, semua orang langsung merasa takjub.
"Oh... Benar-benar bakat jenius sejati. Di usia semuda itu, selain sudah mencapai ranah bumi, dia juga memiliki salah satu jenis api tertinggi." Puji orang-orang.
"Hahaha....! Tampaknya aku sangat beruntung. Aku tak menyangka, kau memiliki api biru. Jangan panggil namaku jika tak bisa membuatmu tunduk dan menjadi murid pribadiku!" Ucap Roderick sambil tertawa bahagia.
Ini adalah perilaku yang paling Falmes benci saat ini, tepatnya sejak Zefier berbuat semaunya, menjadikan dia sebagai pengikut. Sekarang hal itu terulang untuk kedua kalinya, bahkan sebelum permasalahannya dengan Zefier terselesaikan.
"Grrr...!" Geram Falmes. "Kalian pikir, aku adalah barang rebutan!" Gumamnya, sambil melihat wajah Roderick dan membayangkan wajah Zefier dengan penuh kebencian.
Muak memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, tanpa sadar energi di tubuh Falmes meningkat. Tepatnya, dia sedang membayangkan kemampuan orang yang pernah mengalahkannya baru-baru ini. Ya, dia membayangkan bagaimana Leo bisa memiliki kekuatan yang dapat menandingi ranahnya yang lebih tinggi. Dengan begitu, dia juga bermaksud mengalahkan Roderick dengan sekali serang.
Setelah mencoba berkali-kali, dia tetap tidak memahami rahasia dibalik kekuatan Leo, hingga hal itu membuatnya lengah dan tidak memperhatikan bahaya yang mendekat.
"Tuan muda, hati-hati!" Teriak salah seorang murid.
Sayang, Falmes terlambat merespon peringatan tersebut. Dengan gerakan cepat Roderick, kini lehernya sudah berada dalam genggaman tangan Roderick yang terasa besar dan kekar.
"Argh!" Erang Falmes. Lehernya bagai terjepit di rahang binatang buas. meski berusaha melepaskan dengan sekuat tenaga, tak sedikitpun jari Roderick bisa dia geser.
"Anak muda, jangan buang buang tenaga! Jurus cakar macan ini, bahkan ayahmu tak bisa melawannya. Kau hanya akan...." Kata-kata Roderick tiba tiba terhenti, saat itu, dia baru menyadari sesuatu...
SRET!
BUUUM!
"Eh! Apa yang terjadi...?!" Roderick terkejut. Menyadari tangannya sudah terpisah dari lengan.
Bersambung...
__ADS_1