System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Api ungu vs api biru....


__ADS_3

Penyambutan Falmes berujung perebutan yang terjadi antara Zefier dan Wakil dekan Arez. Zefier menawarkan kekuatan pada Falmes, sedangkan untuk mendapatkan Dan Dzik, wakil dekan Arez menawarkan uang.


Wakil dekan Arez memang tak pernah memandang orang dengan sebelah mata. Meskipun penampilan Zefier terlihat kumuh, dia tetap beranggapan bahwa kemungkinan besar itu hanya penyamaran belaka. Bisa jadi, Dan Dzik merupakan salah satu bawahan Zefier yang terikat kontrak.


Tapi itu bukan masalah. Bagi wakil dekan Arez, asalkan atas nama akademi, dia beranggapan bisa mendapatkan apapun.


"Anak muda... Bawahan-mu sungguh berbakat. Sangat disayangkan jika bakatnya harus terhenti karena melayani kau."


"Walaupun kau orang berada, tapi uang yang aku tawarkan tidaklah sedikit. Kau bisa membeli dua orang pengawal yang lebih kuat." Lagi-lagi, wakil dekan Arez berusaha merayu.


"Maaf, pak tua... Bahkan jika aku membarter dia dengan kau, aku takkan mau. Tapi tetap... Aku tetap ingin menjadikannya sebagai pengikut-ku." Balas Zefier sambil menunjuk Falmes. Keinginannya terdengar sangat egois dan serakah.


Wakil dekan Arez merespon perkataan Zefier dengan wajah marah. Tak disangka, dia yang terhormat di akademi Xolfrods, malah dipermainkan oleh seorang anak ingusan.


"Kau...!" Geram wakil dekan Arez. Tapi Falmes langsung menahannya.


"Paman.... Karena dia menginginkan aku, maka biarkan aku menyelesaikan masalah ini." Falmes mohon izin.


"Apa rencana-mu?"


"Tenang saja, paman.... Ini takkan lama."


"Baiklah... Asal tidak kelewatan batas, maka paman tidak akan menahan." Ujar wakil dekan Arez.


Falmes mengangguk. Dia tau, meski pamannya punya nama dan kekuatan, tapi juga harus menjaga tingkah laku agar tidak mencoreng wajahnya.


Falmes berjalan beberapa langkah kearah Zefier. Cara ia memandang tampak seperti meremehkan. Padahal kesehariannya dulu selalu diajarkan tentang budi pekerti dan rendah diri. Sekarang, semua etika itu tampak menghilang.


"Jujur, aku tak pernah menunjukkan sifat seperti ini. Tapi melihat keangkuhan-mu yang berlebihan, aku jadi ingin membalas dengan hal yang sama." Falmes menatap wajah Zefier.


"Jagan salahkan aku tidak berbuat adil... Sejak awal kau selalu berbicara masalah kekuatan. Sekarang aku ingin bertarung denganmu, buktikan bahwa semua yang kau ucapkan tidak hanya kicauan belaka." Lanjut Falmes, menantang.


Falmes memang tidak merasakan sedikitpun basis kultivasi pada Zefier. Dia juga sadar apa yang dia lakukan sungguh perbuatan seorang pengecut, tapi tujuannya melakukan itu hanya untuk menyadarkan pemuda dihadapannya tersebut. Walau diusia muda, namun pengalaman hidupnya tidaklah sedikit. Terlalu banyak dia menjumpai orang yang berbicara besar, tapi tak sesuai kenyataan.


Zefier memegang dagu layaknya orang sedang berpikir. Idenya tiba-tiba muncul saat Leo datang dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"Hah, hah, hah... Sialan!" Umpat Leo yang baru saja tiba. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, nafasnya berpacu tak beraturan.


"Leo... Untung kau segera tiba. Aku ingin meminta sesuatu padamu." Ucap Zefier.


"Brengsek...! Kau jangan memerintah sesuka hati. Aku bukan budak-mu." Terdengar jawaban kesal dari Leo.


"Bukan begitu... Tidakkah kau ingin mencoba kemampuan barumu? Aku sarankan, kau mencobanya dengan orang ini." Zefier menunjuk Falmes.


"Jangan bilang, kau ingin aku menyelesaikan masalah yang kau buat."


Melihat Leo yang sedikit keras kepala, Zefier tak kehabisan akal. Dia tak mau memperlama percakapan. Diapun membisikkan sesuatu pada Leo.


"Dengar... Mereka ingin menangkap aku. Tapi aku terlalu lelah karena membawa kalian berdua. Jika sampai aku tertangkap, maka kau tidak akan bisa membalaskan dendam ayahmu. Setidaknya, satu pukulan-mu dapat menguras sedikit energinya. Ba-gai-ma..."


Belum sempat Zefier menyelesaikan kata-katanya, Leo langsung berdiri. Walau dengan keadaan lelah, sepertinya Leo tidak terima jika Zefier harus kalah ditangan orang lain.


"Satu pukulan saja...!" Ucap Leo, ketus.


Zefier tersenyum. Dia tak menyangka, Leo akan menerima permintaannya. Meski tujuan awalnya bukanlah itu.


"Jangan berburuk sangka dulu.... Dia termasuk salah satu bawahanku. Jadi sewajarnya aku menggunakan dia."


"Jangan takut, kalian hanya beradu satu pukulan. Setelah itu aku akan melayani kau."


"Oh, ya... Dia hanya diranah api sedang, satu tingkat di bawah-mu. Tapi jika kau takut, jangan malu untuk mengatakannya." Ucap Zefier, mencoba memancing Falmes.


"Ha? Takut...?! Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu." Falmes membalas Zefier. "Sudahlah, tak perlu memperpanjang waktu. Aku akan mengajari pada kalian, apa itu kekuatan." Jawabnya, lanjut.


Setelah berkata demikian, Falmes segera memasang kuda-kuda ringan. Dia tampak tak serius karena harus berhadapan dengan orang yang dianggapnya lemah.


Falmes segera memusatkan energi pada tangannya, menghasilkan api biru yang berkobar-kobar. Api itu membentuk bola yang seiring waktu semakin besar. Merasa belum cukup, dia kemudian menambahkan energi untuk meningkatkan tekanan dan daya hancur yang kuat.


Disisi lain, Leo juga tampak melakukan pola jurus yang sama. Bedanya, dia adalah pengguna api ungu. Dari segi kekuatan, jelas api miliknya dua tingkat dibawah Falmes dan jika diadu, dapat dipastikan Leo kalah telak.


"Huh! Ternyata, hanya pengguna api ungu. Sepertinya kekuatan ini terlalu berlebihan untukmu. Tapi berhubung hanya sekali serang, setidaknya kau dapat mengambil pelajaran." Falmes meremehkan.

__ADS_1


Leo tidak menanggapi. Tapi wajahnya terlihat sedikit bingung. Dia berusaha mengingat kemampuan yang baru saja dia pelajari.


"Leo, kau hanya perlu mengingat esensi dari energi itu. Lupakan energi yang selama ini kau gunakan." Seakan menyadari kejanggalan pada Leo, Zefier mencoba memberi sedikit arahan. Akan tetapi tetap saja Leo masih tidak ingat.


Melihat Leo masih tidak dapat menggunakannya, Zefier datang dan menepuk pundak Leo. "Ini hanya bisa kau gunakan sekali saja." Zefier berbisik.


Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja terjadi perubahan drastis pada api Leo. Wajahnya tampak senang. Sensasi energi yang ia rasakan, persis saat latihan sebelumnya.


Api Leo memang terlihat kecil, namun tak ada keraguan berarti diwajahnya. Sebaliknya, entah mengapa dia begitu yakin dengan kemampuan barunya tersebut.


Semua orang yang ada disana tampak semakin antusias dengan pertarungan yang akan berlangsung antara Leo dan Falmes. Mereka memang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi pertarungan selalu menjadi tontonan terbaik.


"Wah, sepertinya ini akan seru. Untung aku masih tetap disini."


"Tapi... Apakah ini bisa disebut pertarungan? Lihatlah pemuda itu, dia hanya pengguna api ungu. Meskipun dia cukup berbakat, tapi kekuatan api lawannya saja sudah tidak seimbang. Apalagi dia tertinggal ranahnya masih dibawah satu tingkat."


"Aku tak peduli.... Asalkan bisa membuat hati berdebar, maka sudah bisa disebut, layak."


Sementara orang-orang masih sibuk menilai, Leo dan Falmes sudah mulai bergerak. Mereka berlari dengan gerakan standar, tidak melakukan trik apapun selain hanya beradu kekuatan.


"Baru kali ini aku bertemu pengguna api ungu sekuat dirimu. Tapi maaf saja, kau mungkin akan terluka parah." Falmes berkata penuh kepercayaan diri.


Leo hanya tersenyum. Sedetik kemudian, benturan antar pengguna api akhirnya terjadi. Ledakan energi antara keduanya, membuat orang orang menjadi was-was dengan dampak yang begitu kuat.


Duar....! Terdengar suara ledakan yang cukup keras.


Sebagian berusaha menahan fluktuasi gelombang energi bercampur panas yang menyebar ke seluruh penjuru. Sementara yang lain memilih untuk mundur dan tak mau mengambil resiko.


Api biru yang berukuran besar, berbenturan dengan api unggun yang setengah lebih kecil. Terlihat kedua api seakan berusaha menyatu, namun sebenarnya setiap Mili dari kedua api saling beradu keganasan.


Hingga terdengar suara ledakan kedua dan salah satu dari mereka akhirnya terpental. Semua mata melotot melihat kejadian yang bagaikan mimpi tersebut.


Bagaikan benda ringan, Leo tampak terlempar cukup jauh, lalu terhempas keras ketanah. Tapi dia dengan sigap berdiri. Aliran darah segar terlihat mengalir dari celah bibirnya yang saat ini sedang tersenyum.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2