
Di rumah makan sederhana, Tak banyak orang berkunjung. Setengah lebih dari tempat yang tersedia terlihat masih kosong.
"Zefier, mau kemana?" Ini pertama kalinya Leo memanggil nama Zefier. Selama ini dia enggan atau bahkan benci memanggil nama tersebut karena kesalahpahaman yang terjadi.
"Kita sudah tidak ada ikatan. Mekipun begitu, aku yakin kita akan bertemu beberapa hari ke depan. Sekarang, aku ada urusan penting." Balas Zefier Tampa menoleh sedikitpun.
"Tunggu dulu...!" Leo mencoba menahan. Dia berdiri, bermaksud bertatap muka dengan zefier, "Ada yang ingin aku katakan." Lanjutnya. Lagi-lagi dia bersikap tidak seperti biasanya. Hari ini dia tampak banyak bicara.
Tapi, begitu terkejutnya Leo dan juga Dan Dzik saat melihat ekspresi Zefier.
Zefier menoleh Tampa berbalik badan.Tatatapannya sederhana, namun sangat mematikan. Senyumannya penuh sandiwara, yang hanya dimiliki manusia-manusia kejam.
Dengan senyum tipis dan mata menyipit, Zefier berkata... "Maaf! Sudah tidak ada waktu..."
Leo yang sempat berdiri, langsung terduduk lemas. Kebersamaannya dengan Zefier memang baru beberapa Minggu saja, tapi baru kali ini dia menatap Zefier dengan kengerian yang luar biasa.
Seluruh sendinya seakan terpisah. Bagaikan ular yang di renggang-kan, Leo merasa tak dapat bergerak sedikitpun.
Hal sama juga dirasakan oleh Dan Dzik. Orang yang sudah melihat kengerian Zefier saat masih di perahu terbang. Tapi meski kali ini Zefier tidak melakukan apa-apa, Dan Dzik seperti merasa kengerian berkali-kali lipat dari saat itu.
Zefier terus berjalan keluar, Dan Dzik dan Leo sama sekali enggan untuk menghentikannya. Meraka ingin, tapi tak sanggup.
Tik! Dalam sepersekian detik, Zefier menghilang dari pandangan siapapun. Hanya ada dampak besar dari posisi terakhir dia meninggalkan tempat itu. Puluhan rumah yang berdiri tak beraturan, hangus terbakar dalam sekejap. Termasuk rumah makan sederhana, tempat Leo dan Dan Dzik berada.
Diwaktu bersamaan, semua orang yang berada di wilayah akademi Xolfrods, tak terhindar dari dampak yang ditimbulkan oleh Zefier. Ledakan auranya menyebar kemana-mana, membuat orang terdekat dari posisi itu, harus mengalami luka mental atau bahkan pingsan.
Tak berhenti disitu. Para tetua yang berada di kejauhan, tak terhindar dari efek aura yang mengerikan. Sampai-sampai mereka mengira itu adalah tanda kehadiran dari rajanya para dewa.
"Apa yang terjadi!" Tanya salah satu tetua pada tetua lain.
"Aku juga tidak tahu. Kekuatan sebesar ini, takutnya hanya para dewa yang memiliki."
__ADS_1
"Menurut perkiraan ku, sepertinya tempat itu cukup jauh. Tak disangka, efeknya sanggup menyusuri tempat ini. Jika berada disana, mungkin aku bakal pingsan."
"Kalau begitu, ayo kita selidiki."
"Apa kau berani? Takutnya orang itu merasa tersinggung."
"Kenapa tidak.... Kita bisa anggap ini sebagai kesempatan baik. Bagaimanapun, kita tak berniat apa-apa selain untuk memberi salam. Aku rasa ini tidak bermasalah. Sebaliknya, akan menjadi sebuah keuntungan jika kita beraliansi dengannya."
"Aku setuju.... Mari kita lakukan seperti yang kau bilang."
Setelah melakukan perbincangan sesaat, semua tetua akhirnya mencapai satu kesepakatan. Mereka akan menyelidiki secara diam-diam Tampa membuat orang yang dimaksud merasa di tidak nyaman.
Para tetua kemudian memanggil beberapa guru dan murid berbakat agar mencari keberadaan orang dengan pancaran aura yang maha dahsyat tersebut. Penyidikan pertama tentu mencari keramaian. Dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada keramaian disitu ada kejadian.
Ditempat lain, terlihat Zefier terbang dengan kecepatan yang tak sanggup ditangkap oleh mata. Andai ada kilat yang menyambar, mungkin Zefier masih sempat menghindarinya.
Bagai petir disiang bolong... Tidak ada kota maupun desa yang dilalui Zefier, melainkan semuanya tak sadarkan diri akibat tekanan aura yang begitu kuat. Bahkan para binatang pun tidak luput dari hal itu.
"Tuan, apakah ini tidak masalah?" System seolah mengingatkan Zefier. Sebagai keberadaan yang berbeda, terkadang System tidak memahami pola pikir tuannya.
"Tidak ada waktu untuk itu. Aku akan meminta maaf, nanti." Jawab Zefier.
Jangankan system, siapapun tentu kebingungan melihat sifat Zefier yang tak menentu. Baru saja dia meminta maaf pada Dan Dzik dan Leo atas rasa bersalahnya, tapi dia langsung melakukan hal yang kontroversial...
Waktu bersamaan di kota Pyran... Di pusat kota, terdapat sebuah bangunan megah dan luas. Bahan pembangunannya terbuat dari batu-batu alam yang terjamin akan ketahanan terhadap berbagai hantaman fisik maupun nonfisik.
Tapi aneh, gedung yang dibangun bak istana dan biasanya ramai, ternyata hanya terdapat ratusan orang yang tampak membentuk sebuah lingkaran. Sambil berlindung di balik perisai, ratusan orang itu menciptakan ratusan segel rantai lalu diarahkan pada sosok mahluk ditengah mereka.
Mahluk itu berwarna merah, bukan karena kulit, melainkan karena api merah yang menyelimutinya secara keseluruhan. Kendati bentuk fisiknya persis seperti manusia, namu tak satupun dari mereka yang pernah melihat jenis itu.
Awal kedatangan mahluk itu memang sangat mirip dengan manusia biasa. Hingga seseorang menyadari dan melakukan antisipasi, barulah mahluk api merah tersebut menunjukkan wujud aslinya.
__ADS_1
"Untung aku cepat menyadarinya... Terlambat sedikit saja, mungkin akan banyak korban berjatuhan." Ucap seseorang tetua kepada orang disampingnya yang juga memiliki pisik yang tak jauh beda. Dialah yang pertamakali mengetahui kepalsuan mahluk dihadapan mereka.
"Tetua Braham, memang hebat! Masih saja peka seperti dulu." Puji tetua yang bernama Je.
"Kita diutus demi keamanan tempat ini. Jika terjadi kesalahan, orang di atas sana pasti akan memulangkan kita. Dan aku tak ingin itu." Tukas tetua Braham.
"Benar, kehidupan di dunia sebelah sungguh sangat sulit. Hanya kekuatan yang bisa membuat kita bertahan." Tetua Je tampak setuju.
Dari pembicaraan mereka, bisa dipastikan bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini, melainkan dari dunia kedua yang keberadaannya hanya diketahui beberapa orang saja. Dunia dimana kekuatan adalah segala. Yang kuat menindas yang lemah dan yang lemah menjadi budak.
Menurut pencapaian beladiri, tak banyak manusia dari dunia ini yang dapat mengungguli orang-orang dari dunia sebelah. Kemungkinan penyebabnya karena informasi tentang jalan latihan yang masih minim dan sulit didapat.
Untung masih ada orang-orang beruntung, orang-orang yang mendapatkan kekuatan api dengan tipe tertinggi serta langka.
"Tetua, Je...! Menurutmu, mengapa ada mahluk sekuat itu di dunia ini. Aku yakin, di dunia seberang tak ada mahluk yang lebih mengerikan darinya. Bahkan untuk menahannya saja, kita membutuhkan ratusan orang yang berusaha sekuat tenaga. Apa ada yang bisa menjelaskan hal ini?" Tetua Braham bertanya, meski dia tidak yakin, tetua Je tau jawabannya.
Sesuai dugaan, tetua Je terlihat mengerutkan kening. "Entah lah! Seharusnya tetua Braham lebih mengerti. Tapi ada satu yang aku sadari.... Aku melihat mahluk itu seakan menahan diri. Jika tidak, apa tetua Braham yakin kita akan selamat?"
"Hemmm! Aku juga merasa demikian." Ucap tetua Braham, setuju.
Tetua Braham dan tetua Je, terus bertukar pikiran. Mereka membahas tentang apa sebenarnya mahluk berwarna merah itu. Mereka juga sedang membuat keputusan atas apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Bagaimana menurut tetua Je? Apa kita harus melapor ke atas?" Tanya tetua Braham. Meski dia berkata demikian, tapi hatinya seperti tak rela.
"Sejujurnya, aku ingin sekali egois. Menggunakan inti energi mahluk ini, mungkin akan membuat peningkatan pesat pada kultivasi kita." Tetua Je tampak basa-basi. Jelas-jelas dia memang menginginkan inti energi mahluk itu.
Tetua Braham tersenyum mendengar jawaban tetua Je. Sepertinya mereka satu pemikiran.
"Kalau begi...." Tetua Braham ingin menyampaikan idenya. Akan tetapi, tiba-tiba mahluk berwarna merah itu meronta hebat. Kekuatannya semakin meningkat. Pancaran panas yang tadinya masih mampu ditahan dengan segel perisai, berlahan-lahan meleleh seperti es yang diadu dengan besi panas.
Bersambung....
__ADS_1