
Tiga Minggu berlalu...
Kembali ke pasukan Zefier yang saat ini masih terus mengasah kemampuan dan berlatih. Dalam tiga Minggu ini, akhirnya dua orang lagi menyusul Duo tetua. Meraka adalah Livy dan Dan Dzik.
Sungguh diluar dugaan, kenyataan itu bahkan sangat mengejutkan duo tetua. Bagaimana tidak, awalnya mereka mengira bahwa yang akan menyusul adalah pasukan yang pernah menjadi pengawal mereka. Selain berasal dari dunia kedua, pasukan tersebut termasuk yang terbaik yang jauh lebih berpengalaman daripada Livy dan Dan Dzik. Dari segi ranah saja, mereka memiliki perbedaan yang signifikan.
"Luar biasa! Mungkinkah Tuan muda Zefier memang mengetahui bakat mereka? Bahkan hanya dalam beberapa Minggu, mereka sudah mengejar kita yang berkecimpung lama di dunia kultivasi ini." Ucap tetua Je.
"Tapi, apa yang terjadi pada Leo, mengapa dia tampak berbeda, apakah tuan muda Zefier melakukan kesalahan?" Tetua Braham balik bertanya.
"Entahlah.... Kita tak pantas menilai tuan muda seperti itu!"
"Hmmm, ya..." Tetua Braham mengangguk....
Zefier mengajarkan kepada Livy dan Dan Dzik sebagai mana dia mengajari duo tetua. Mereka juga memahami penjelasan Zefier dengan cukup mudah. Akan tetapi, kesulitan baru terasa saat pengaplikasiannya. Hanya saja, mereka bertahan sedikit lebih lama daripada tetua Braham dan tetua Je.
"Ugh...!" Ucap mereka, menghentikan sesaat kultivasinya karena merasa kelelahan. Sambil menyeka keringat yang membasahi wajah, mereka mencoba mengatur ritme pernapasan yang tak karuan.
Zefier tersenyum melihat mereka. tampaknya, dia memiliki kesan tersendiri pada Livy dan Dan Dzik.
"Masih banyak waktu untuk berlatih. Ketenangan pikiran, juga merupakan bagian dari latihan itu sendiri. Jadi, Jagan terlalu nafsu dan terburu-buru." Nasehat Zefier. Dia bahkan sudah tampak seperti guru sungguhan. Kata-katanya bak petuah yang memiliki makna sakral dan tersembunyi.
Livy dan Dan Dzik paham maksud kalimat tersebut. Tapi mereka adalah pemuda yang terdongkrak semangatnya. Meski mereka tampak terima, kobaran untuk menjadi kuat tetap tak mampu dipadamkan oleh siapapun. Mungkin mereka akan berlatih diam-diam di belakang Zefier.
"Tuan muda.... Bolehkah aku bertanya?" Ucap Livy.
"Silahkan! Aku akan menjawabnya jika tau!"
"Anda terlihat seusia kami, mengapa Anda begitu berpengalaman dan berpengetahuan?" Tanpa disadari, pertanyaan Livy sedikit memuji Zefier.
__ADS_1
Zefier merasa tersipu dan tersanjung. "Bagaimana aku mengatakannya.... Sebenarnya, semua orang memiliki bakat yang sama. Mungkin yang membedakan adalah langkah pertama yang mereka ambil serta pemahaman yang kurang."
"Tuan muda sendiri, mengapa bisa menyadari kesalahan itu?"
Mendapat pertanyaan yang sedikit memojokkan diri, Zefier kembali mengenang masa lalunya yang agak menyakitkan. Memiliki perubahan menjadi yang sekarang, mungkin bisa dianggap sebagai takdir bisa pula sebagai keberuntungan. Tapi rasa kehilangan orang yang disayang, tentu belum bisa membayar itu semua.
"Terkadang, ada keberuntungan yang memihak orang-orang yang malang. Tinggal bagaimana mereka menyadari dan mengambil kesempatan tersebut." Jawab Zefier.
Livy mengerutkan dahi, dia tampak bingung mendengar jawaban Zefier yang entah menjurus kemana.
Disisi lain, Dan Dzik tak terlalu ambil pusing. Menurutnya, pertemuannya dengan zefier adalah keberuntungannya yang tak boleh dilepas begitu saja. Setidaknya, begitulah cara dia memahami kalimat Zefier barusan.
"Sibuk dengan keberuntungan orang lain bisa menyusahkan diri. Kejarlah keberuntungan sendiri meski keberuntungan itu berdiri ditepi jurang sekalipun. Jika itu memang sudah takdir, langit sekalipun takkan bisa menjatuhkan mu." Lanjut Zefier.
Livy terkesima mendengar perkataan Zefier. Ini kali pertama dia mengakui orang lain selain ayah dan ibunya. Bahkan orang-orang di akademi Xolfrods tak ada yang membuatnya terkesan seperti itu.
Setelah menjawab perkataan Livy, Zefier meninggalkannya begitu saja dan berjalan menuju Leo. Tampak ekspresi di wajah Leo sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bukan karena lelah, tapi karena merasa tertinggal dari kedua orang yang sebaya dengannya.
"Ada apa denganmu, Leo?" Tegur Zefier yang menyadari keanehan pada dirinya. Meski Leo sedang dalam kultivasi, tapi dia tahu bahwa Leo tidak sedang berkonsentrasi.
Benar saja, mendengar pertanyaan Zefier, Leo segera membuka matanya.
"Apakah menurut tuan muda aku masih melakukan kesalahan dalam latihan ini?"
"Selama ini, aku tak menemukan kesalahan apapun. Tapi sekarang, kau membuat kesalahan yang terlalu besar."
Tanpa diberitahu pun Leo sangat menyadari hal itu.
"Maksudku, kesalahan apa yang membuat aku tertinggal dari mereka berdua?" Tanya Leo terus terang.
__ADS_1
"Sampai kau merasa tak pantas dan tak sanggup mengikuti latihan ini, maka kau tak membuat kesalahan apapun." Ucap Zefier. "Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Cerita ini mungkin akan meningkatkan semangatmu atau bahkan membuatmu putus asa, tergantung bagaimana kau menanggapinya." Lanjut Zefier.
Disudut sana, Zefier berbicara empat mata dengan Leo. Entah apa yang Zefier ceritakan, tampaknya memberi dampak yang tidak bagus. Leo tampak marah, kesal dan sedih, bercampur menjadi satu. Sesekali dia menatap mata Zefier dengan tatapan terkejut.
Setelah bercerita cukup panjang, "Aku harap, kau jangan menceritakan hal ini pada siapapun. Biarkan waktu yang membongkar kenyataannya." Ucap Zefier seraya meninggalkan Leo.
Leo tampak tertunduk. Perasaannya seperti di remuk redam oleh berbagai arah dan emosi. Jika memang dia seperti apa yang dikatakan Zefier, maka bakatnya hanya segitu saja. Meski dibeberapa aspek Zefier sedikit memujinya, tapi kenyataan itu tak membuatnya senang sedikitpun.
Hari itu, Leo tak melanjutkan latihan seperti biasa. Bahkan ketika Dan Dzik menyapanya, dia seperti acuh tak acuh.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Livy pada Dan Dzik.
"Entahlah.... Aku melihatnya begitu sejak tuan muda Zefier menemuinya, kemarin."
"Apa yang dikatakan tuan muda zefier?"
"Aku juga tidak tahu! Menurutku, masalahnya ada pada dirinya. Tak mungkin tuan muda melakukan hal yang membuatnya patah semangat seperti itu."
"Benar juga.... Seperti kata tuan muda, semua tergantung kemauan sendiri." Sambung Livy.
Tanpa mengurusi pribadi Leo, Livy dan Dan Dzik kembali melanjutkan latihannya. Pencapaian mereka kembali mengejutkan semua orang, termasuk tetua je dan tetua Braham. Bahkan hal itu yang membuat Leo semakin bertingkah aneh....
Empat Minggu berlalu. Zefier mengumpulkan semua orang. Kali ini dia akan mengadakan sesi berbeda dari yang sebelumnya.
"Dalam empat Minggu ini, tampaknya hanya ada beberapa orang yang sudah menunjukkan hasil. Bukan berarti yang belum berhasil hanya berlatih sia-sia saja. Semuanya tentu memiliki hasil dan peningkatan."
"Untuk itu, sebagai bukti pencapaian, kita akan mengadakan pertarungan 1vs1 untuk menunjukkan perbedaan kalian sebelum dan sesudah berlatih. Aku akan membagi kalian sesuai dengan ranah yang kalian miliki."
Zefier memerintahkan semua orang untuk berkumpul di suatu tempat, menghadap ke lapangan yang menjadi arena pertarungan. Sebagai permulaan, Zefier menyuruh tetua Braham dan tetua Je bertarung terlebih dahulu. Pengalaman mereka akan jadi pembelajaran bagi yang muda sebelum mereka ikut andil dalam pertarungan arena tersebut.
__ADS_1
Bersambung....