System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Mengapa Kau Bisa Ada Di Sini...


__ADS_3

Harold yang merasa diremehkan, tampak bersiap memberikan serangan. Pancaran energinya memberitahukan semua orang bahwa dia berada di ranah bumi.


"Hahaha! Hanya di ranah bumi?! Aku ragu perguruan bintang timur adalah yang terbaik." Roderick tertawa sambil merendahkan kemampuan Harold.


"Memangnya kenapa? Kita lihat, apa yang bisa kau lakukan." Balas Harold, percaya diri.


"Baiklah! Sebisa mungkin, berikan aku pertarungan yang menarik. Aku berharap kau tak menyerah begitu cepat."


"Huh! Tak usah banyak bicara dan tak perlu berlama-lama!"


"Sesuai keinginanmu! Kalau begitu, ayo kita mulai!"


Roderick dengan tenang melangkah maju, sebelum akhirnya dia juga mengeluarkan energi dengan tekanan yang tak kalah kuat. Bahkan energinya jauh lebih hebat dari Harold.


"Ra- Ranah bulan?!" Ucap orang-orang, tersentak kaget. Awalnya mereka begitu yakin, bahwa orang bernama Roderick tak mungkin dapat mengalahkan perguruan nomor satu di kota itu. Namun, pikiran mereka berubah setelah mengetahui perbedaan kekuatan tersebut.


"Ranah bulan?!" Batin Harold. meskipun mengetahui keunggulan ranah Roderick, dia tak terlihat terkejut ataupun takut. Wajahnya tetap tenang meskipun ada rasa tegang dihatinya. "...Jika itu dulu, mungkin aku akan membunuh orang ini dalam satu gerakan saja. Tapi sekarang, takutnya aku harus bertarung mati-matian." Batin Harold, lanjut.


"Nah, Harold...! Sebagai pendiri perguruan bintang timur, sebaiknya kau jangan mengecewakan murid-murid mu. Atau mereka akan berpindah kiblat ketempat yang akan aku dirikan nanti."


"Setiap orang punya keberuntungan masing-masing, aku tak pernah memaksa siapapun untuk berguru ditempat ini."


"Hohoho.... Tampaknya kau sudah mempersiapkan mental. Kalau begitu, kau hanya perlu mempersiapkan kemampuanmu."


Usai berkata begitu, Roderick langsung melesat maju. Gerakannya sangat cepat, tangannya membentuk cakar yang langsung diarahkan ke depan. Dia memfokuskan apinya yang juga berwarna kuning, di ujung jari-jarinya.


"Cakar macan!" Teriak Roderick.


Kekuatan jurus cakar macan Roderick memang sangat kuat. Beberapa kali jurus itu menghantam tanah, hingga membuat tanah tersebut membentuk lubang yang menganga.


Meskipun begitu, Harold masih dapat dengan tenang menghindari setiap serangan. Dia bahkan terlihat lebih lihai dan gerakannya terlihat lebih rileks ketimbang Roderick. Tak ada gerakan yang sia-sia, seakan dia adalah seorang master yang menyembunyikan identitasnya.


Setelah berkali-kali Roderick melancarkan serangan dan tak berhasil mengenai Harold sekalipun, Roderick memutuskan untuk berhenti sejenak karena merasa energinya terbuang sia-sia.


"Tampaknya, kau sangat ahli menghindar. Apa kau akan seperti ini? Seperti lalat yang takut kena pukul?" Roderick coba memancing Harold.


Tapi Harold adalah pemimpin perguruan bintang timur, tentu reputasinya tak hanya pada kemampuannya saja. Melainkan, dia adalah pemikir yang sabar. Tindakannya diawal hanyalah buat-buatannya saja, agar dia terlihat seperti seorang pemarah dan membuat Roderick lengah.


"Kau tak berhak mendikte cara bertarung orang lain. Meski ranah yang kau miliki lebih tinggi, tapi pengalamanmu hanya sejengkal!" Ucap Harold.

__ADS_1


"Hmmm.... Ternyata, kau tak mudah terprovokasi. Kalau begitu, ini akan menjadi semakin menarik."


Usai berkata begitu, Roderick memasang kuda-kuda, kedua tangannya kembali diulurkan ke depan.


"Jurus, cakar macan, tingkat kedua!" Ucapnya. Segera setelah itu, jarinya kembali diselimuti api kuning. Namun kali ini menutupi hingga pergelangan tangannya. Sesuai tingkatannya, jurus cakar macan tingkat kedua, benar-benar mengeluarkan aura yang lebih besar dan menekan dari sebelumnya.


"Jurus, langkah macan!" Ucap Roderick, lagi. Tampaknya, dia menggunakan dua jurus sekaligus. Namun jurus kedua ini berpusat pada kakinya. Seperti halnya jurus cakar macan, api kuning juga menyelimuti kedua telapak kakinya.


Melihat tindakan Roderick, setetes keringat mengalir dari keningnya. Dia sadar, pertarungan ini akan semakin memanas. Jika tak serius menghadapinya, mungkin dia akan langsung tumbang begitu saja.


SLEP!


Roderick tiba-tiba menghilang dari pandangan mata.


"Cepat sekali!" Ucap semua orang, kagum atas kehebatan dan kecepatan Roderick yang jauh dari sebelumnya.


Tapi, hal itu tak berlaku pada Harold. "Kecepatan seperti ini, aku bahkan pernah melihat sesuatu yang berkali-kali lebih cepat darinya." Gumam Harold.


Bagai angin yang bertiup, tapak kaki Roderick hanya meninggalkan debu yang berterbangan. Penglihatan yang belum terlatih, takkan mampu mengikuti gerakan itu.


"Rasakan ini, Harold!" Teriak Roderick dengan bringas. Kali ini dia tak mau usahanya kembali hampa. Jari-jemarinya yang sekuat besi, terlihat sedikit lagi akan mengenai tubuh Harold. Namun sebelum jurus cakar harimau-nya mencapai sasaran, Harold tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


"Langkah angin!" Ucap Harold. Dengan jurus itu, dia berhasil menghindari serangan mematikan Roderick.


Kecepatan mereka berdua tampak seimbang. Alhasil, jarak diantara mereka tak berkurang dan tidak juga bertambah.


"Sialan kau, Harold. Jika berani, hadapi aku!" Ucap Roderick.


"Ranah mu lebih tinggi. Mana mungkin aku berani berhadapan secara langsung." Balas Harold sambil terus menghindari kejaran Roderick. Entah berapa kali Roderick hampir mengenainya, namun dia masih dapat menghindari serangan tersebut.


Merasa hal yang sama terulang untuk kedua kali, Roderick menjadi semakin kesal. Dia tahu, lambat laun dia akan kehabisan energi hanya untuk mengejar Harold.


Roderick kembali berhenti, "Jurus, langkah macan, tingkat ketiga!" Ucapnya. Tampak fluktuasi energi dan api di kakinya semakin membesar, bahkan sampai menimbulkan gelombang energi yang menerbangkan debu-debu di dekatnya.


SLEPT!


Sekali lagi, Roderick kembali menghilang dari pandangan mata. Dan saat itu juga, dia tiba-tiba sudah berada di hadapan Harold.


Harold terkejut, dia tak sempat bereaksi untuk mengantisipasi serangan Roderick. Dan...

__ADS_1


SREK!


Jari dengan kekuatan dan ketajaman bagaikan pedang, akhirnya berhasil mengenai dan merobek tubuh bagian depan Harold.


Harold terpental beberapa meter sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh dan tergeletak di tanah. Darah segar mengalir hingga membasahi pakaian depan, tepatnya di bagian dada.


"Uhuk, uhuk...!" Harold batuk, sekaligus memuntahkan seteguk darah. "Argh!" Erangnya lanjut, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Guru...!" Teriak para murid Harold dengan ekspresi khawatir. Mereka segera berlari, namun Harold menhan mereka.


"Jangan mendekat! Atau aku tak akan mengakui kalian sebagai murid ku lagi." Ucap Harold. Khawatir murid-muridnya akan terkena imbas pertarungan tersebut.


"Bagai mana?! Apa kau masih bisa berlari? Aku tak keberatan mengejar kucing nakal sepertimu!" Ucap Roderick, mengejek.


Harold mencoba untuk berdiri, namun nampaknya dia tak sanggup. Serangan Roderick benar-benar membuatnya hampir lumpuh.


"Kau- sud-ah menang...! Sekarang, segera tinggalkan tempat ini dan dirikan perguruan ditempat yang kau inginkan!" Ucap Harold, terbata-bata.


"Apa kau serius?! Bagaimana jika aku mengambil alih perguruan bintang timur-mu?! Aku sangat tertarik dengan tempat ini!"


"Kurang ajar...! Kalau itu yang kau inginkan, maka langkahi dulu mayat ku!" Ujar Harold, marah.


"Hahaha! Kau tak keberatan melakukannya, dan itu memang tujuan awal ku..."


"Sebenarnya, punya dendam apa kau padaku! Aku tak ingat pernah melakukan hal sekecil ini pada orang lain."


"Asal kau tahu, Harold... Aku hanya ingin membalas perbuatan mu sepuluh tahun lalu. Aku masih ingat bagaimana kau mendirikan tempat ini dan membuat perguruan ku menjadi tak berpenghuni. Sekarang, aku ingin kau merasa kehilangan seperti apa yang kurasakan dulu!" Ujar Roderick.


Mendengar pengakuan Roderick, Harold akhirnya menyadari bahwa perbuatan Roderick semata-mata hanya untuk balas dendam. Tapi, Diak tak pernah mengingat pernah dengan sengaja melakukan itu pada Roderick. Yang dia tahu, perguruan yang dia dirikan memang berkembang dengan cepat.


"Kejadian yang kau alami bukanlah kesengajaan. Kau tak pantas melakukan ini!" Harold coba membela diri.


"Sengaja atau tidak sengaja, faktanya kaulah penyebab semua itu. Aku tak peduli dengan alasan lain... Sekarang, sebaiknya suruh beberapa murid mu untuk membuat pemakaman yang layak agar kau bisa mati dengan tenang."


Roderick berjalan menuju Harold, tangannya sudah mempersiapkan jurus untuk mengakhiri hidup Harold.


"Guruuu!" Teriak para murid Harold. Namun Harold tetap memberi isyarat agar mereka tak mendekat.


Namun, bersamaan dengan itu, tampak sekelebat bayangan dengan cepat berlari dan menyerang kearah Roderick. Untungnya Roderick reflek menghindari serangan tersebut dan hanya mengenai udara kosong.

__ADS_1


"Falmes?! Mengapa kau bisa ada disini!" Ucap Harold, seakan mengenal orang yang menyerang Roderick.


Bersambung...


__ADS_2