
Kali ini alam tampak tenang. Hanya ada sedikit angin sepoi yang terus bertiup, menggoyang dedaunan dan membuat irama menjadi semakin serasi dengan pertarungan tanding yang akan berlangsung antara tetua Braham dan tetua Je.
Di sudut lain, tampak sekelompok orang sedang berfokus memperhatikan pertandingan tarung tersebut. Bagi orang-orang seperti mereka, pertandingan seperti ini merupakan pelajaran paling berharga dan paling langka yang bisa mereka temukan.
Mungkin tak sekali dua kali mereka melihat pertarungan sungguhan, tapi diwaktu seperti itu, memangnya siapa yang masih berpikir untuk mencari pelajaran? Tentu mereka lebih memilih untuk menyelamatkan diri.
"Baiklah...." Zefier memberi aba-aba dengan mengangkat sebelah tangan. Lalu, dengan diturunkannya tangan itu, pertanda pertarungan tanding dimulai.
Aba-aba baru saja dimulai, hanya dalam hitungan detik, pertarungan antara kedua tetua itu langsung terlihat intens. Bahkan Intensitas energi yang mereka gunakan langsung meningkat ketahap yang tak pernah terbayangkan oleh semua orang yang memperhatikan pertarungan tersebut. Tentunya hal itu pengecualian bagi Zefier.
Penggunaan energi yang cermat dan teratur, gerakan cepat serta pengetahuan tentang kemampuan api yang mendalam, beberapa hal ini tentunya menjadi jaminan kemenangan dalam suatu pertarungan.
Tapi, pertarungan di antara tetua Braham dan tetua Je bukanlah pertarungan pemula, mereka sudah melalui puluhan bahkan ratusan pengalaman. Zefier sendiri sampai merasa bahwa pertarungan itu juga bermanfaat baginya.
Bagaimana tidak, selama ini dia selalu mengandalkan kekuatannya yang memang jauh diluar nalar. Dia bahkan tidak berpikir untuk mempelajari gerakan-gerakan jurus yang membuat seseorang semakin efektif dalam mendominasi sebuah pertarungan. Gerakannya yang cepat, itu dikarenakan energi dan apinya yang sudah mencapai kekuatan tanpa batas. Padahal, dengan mempelajari beberapa jurus dia bisa menghemat energinya hingga berkali-kali lipat.
Hiat, Hia...!
Pertarungan antara tetua Braham dan tetua Je terus berlangsung. Hingga saat ini, mereka hanya mengandalkan jurus jurus sederhana untuk mencuri kesempatan. Sesekali mereka beradu fisik yang tentunya dengan hasil seimbang.
Meskipun begitu, sebenarnya ada beberapa perbedaan yang hanya dapat dilihat dengan teliti. Tetua Braham yang sejatinya unggul dalam hal kultivasi, tentunya memberikan sedikit tekanan pada tetua Je. Ya, mereka berdua memang sama-sama di tingkat neraka, tapi tetua Braham berada pada ranah neraka tingkat puncak atau tingkat tiga, sedangkan tetua Je berada pada ranah tingkat pertama.
Merasa yakin dengan keunggulan itu, tetua Braham dengan percaya diri menyerang bertubi-tubi. Kali ini dia ingin membuat sebuah kejutan.
Saat tubuh mereka berdua sudah berdekatan....
"Pedang Api...!" Teriak tetua Braham.
Ini adalah jurus andalan yang sering digunakan tetua Braham untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Namun, karena ini hanya sebuah latihan tanding, dia mengurangi intensitas energinya agar tidak terlalu berdampak pada tetua Je.
Booom...!
__ADS_1
Terjadi sebuah ledakan keras yang menimbulkan asap dan menerbangkan dedaunan serta debu-debu disekitarnya hingga hal itu menutupi pandangan semua orang.
Wajah tetua Braham tampak sedikit khawatir. "Apakah aku terlalu berlebihan...?!" Ucapnya.
Disisi lain, pertarungan sengit itu mendapat penilaian sendiri dari sudut pandang penonton.
"Pertarungan antar praktisi tingkat Neraka.... Aku harap tak pernah berselisih dengan mereka." Ucap salah satu orang yang pernah menjadi bawahan duo tetua itu.
"Ya, meski masih ada yang jauh lebih mengerikan dari kedua tetua...." Orang itu melirik Zefier. "....Siapapun pasti akan berpikir ulang jika harus bertarung sungguhan." Lanjut orang itu.
Namun dilain pihak, terlihat Livy dan Dan Dzik sangat bersemangat.
"Aku sungguh penasaran.... Menurutmu, apakah orang setingkat kita mampu menahan satu dua serangan tetua itu?" Tanya Dan Dzik dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
"Aku juga ingin tahu, seberapa besar perbedaan kekuatan kita dengan perbedaan ranah sejauh ini." Balas Livy.
Ditengah-tengah perbincangan yang menyaksikan pertarungan itu, tiba-tiba angin kencang bertiup, menggusur semua asap dan debu yang menutupi pandangan.
"Perisai Api...?!" Ucap semua orang hampir bersamaan. Terlihat tetua Je sedang menangkis pedang api tetua Braham dengan perisai apinya yang berbentuk tameng.
Tetua Braham juga tak kalah terkejut kala menyaksikan hal itu. "Hohoho...! Ternyata selama ini kau menyembunyikan kemampuanmu, tetua Je! Aku tak tahu bahwa kau mampu menggunakan zona api, kau juga telah menguasainya sampai sejauh ini!" Ucap tetua Braham.
"Jangan seperti itu.... Selama ini aku selalu berlatih diam-diam demi mengimbangi kemampuanmu, tetua Braham. Kalau tidak, bagaimana aku bisa bersanding denganmu hanya dengan mengandalkan kemampuan anak-anak." Balas tetua Je.
"Tapi, menyembunyikannya sejauh ini.... Sungguh berbahaya jika sampai bermusuhan denganmu."
"Ah, ya.... Klo perkembangan ini, tentunya setelah perjumpaan kita dengan tuan muda. Aku tak sehebat itu sampai bisa sejauh ini." Ucap tetua Je, jujur.
"Hmmm.... Jika demikian, aku tak perlu segan-segan lagi!"
"Silahkan, aku juga ingin tahu sejauh apa aku bisa menahan serangan mu, tetua Braham....!"
__ADS_1
Pedang api dan perisai api, menghilang bersamaan. Tingkatan zona api yang mereka miliki, masih belum mampu membuat senjata ciptaan mereka bertahan begitu lama.
Kedua tetua sama-sama melompat kebelakang. Setidaknya hal itu memberi waktu untuk berpikir dan menyusun strategi sebelum mereka kembali beradu serangan.
"Karena sudah begini, tidakkah sebaiknya kita memberikan tontonan yang lebih menarik? Aku rasa, para junior juga menginginkannya."
"Kalau begitu, mohon bimbingannya...!" Jawab tetua Je.
Kedua tetua terlihat semakin serius. Pertarungan yang awalnya hanya untuk latihan, kini terlihat seperti pertarungan sungguhan. Memang, jika tidak sungguhan, bukan latihan namanya.
Sejurus kemudian, Tingkatan energi yang mereka keluarkan, terasa semakin kuat dan padat. Diluar kedua tetua, hanya tiga orang yang mengerti, bahwa itu adalah energi tingkat dua. Sedangkan yang lain, hanya merasakan aura yang tanpa sadar menekan batin mereka hingga membuat bulu kuduk merinding.
"Ugh...! Jangankan bertarung, menahan energi ini saja aku sudah tak sanggup." Ucap salah satu diantara mereka."
"Benar...! Ini buka sesuatu yang bisa kita ikuti, bahkan sebagai penonton!" Jawab yang lain.
Disisi lain, "Untung kita sudah mencapai tingkatan ini.... Jika tidak, kita bisa saja lebih memprihatinkan dari yang mereka rasakan." Ucap Dan Dzik dan disetujui oleh Livy.
Tapi Livy tak sedang memperhatikan Dan Dzik. Entah sejak kapan matanya fokus melirik kearah Zefier yang duduk dengan santai sambil memperhatikan pertarungan kedua tetua. Ada perasaan yang tak bisa dia sembunyikan, namun tetap meragukan perasaan itu sendiri.
Kali ini perasaan itu bukan lagi tentang kekuatan. Hanya dalam beberapa Minggu bersama Zefier, dia tahu bahwa mengikutinya saja sudah cukup menjadi kuat. Tapi sepertinya dia menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat orang merasa tak nyaman dan tak rela jika tidak mewujudkan keinginan tersebut.
"Suka....?! Ah, tidak, tidak! Mana mungkin aku tiba-tiba suka pada orang lain, apalagi aku hanya ingin memenuhi permintaan ayah untuk menjadi bawahannya." Batin Livy. Tapi matanya terus memandangi wajah Zefier yang sesekali terlihat berbeda.
Saat matanya semakin fokus seakan memasuki jiwa Zefier, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang menatapnya dengan begitu kejam. Tatapan itu seperti ingin memangsanya hingga habis tak bersisa. Saking mengerikannya tatapan itu, sampai membuat Livy pingsan.
Menyadari apa yang terjadi....
"Apa yang kau lakukan...?!" Bentak Zefier, pada sesuatu yang lain.
Bersambung...
__ADS_1