
Situasi kian menegangkan, bahkan melebihi ketegangan sebelumnya. Sebab, perundingan ini adalah satu-satunya penentu keberlangsungan hidup semua orang yang ada disana.
Sapaan tetua Je tak kunjung mendapat respon dari Zefier, membuatnya menjadi semakin gugup. Padahal, negosiasi merupakan bidang sosialisasi yang paling di kuasai, dan kegugupan adalah salah satu penyebab besar akan kegagalan negosiasi itu sendiri.
Semua orang terdiam, sunyi senyap. Tak ada satupun yang berani bergerak, terlebih lagi mengeluarkan suara. Urat-urat mereka terasa kaku bak di membeku di gurun salju. Wajah pucat, bibir bergetar, mata terpaku pada satu tujuan.
"siapa namamu?" Zefier akhirnya menanggapi. "Apakah kau pemimpin ditempat ini?" Lanjutnya.
"Je.... Namaku adalah Je. Meski bukan sebagai orang pertama, Bis-a dibilang aku termasuk tetua sekaligus pemimpin tempat ini. Pimpinan pertama adalah dia, tuan...!" Tetua Je menunjuk tetua Braham. Dia berusaha untuk tidak gagap saat berbicara.
Zefier melihat kearah tetua Braham, Melihat kondisinya, dia sadar mengapa tetua Je yang menghadap. "Aku tahu tujuanmu.... Jujur, aku adalah orang yang pemaaf, asal kalian tidak terlambat seperti orang-orang disana." Ucap Zefier menunjuk puluhan mayat yang terbelah menjadi dua.
Tetua Je sangat memahami maksud perkataan Zefier. Hanya saja, usahanya ini sedikit terlambat. Dia sempat berpikir untuk mengirim laporan serta meminta bantuan pada para atasan. Tapi dipikir bagaimanapun, semua itu tak ada gunanya jika mereka menjadi bagian dari mayat yang bergelimpangan. Apalagi, dia yakin tak ada satupun yang sanggup menghadapi Zefier.
Zefier kembali menatap kearah sebuah lambang yang tertempel di sebuah tembok dan didesain dengan sangat apik. Itulah penyebab mengapa tetua Je cukup lama menunggu tanggapannya.
"Tetua, Je... Bukankah itu adalah lambang uang negara ini?" Tanya Zefier Tampa menoleh.
"Benar, tuan...." Jawab tetua Je.
"Mungkinkah ini adalah kantor pusat duta keuangan?"
"Benar, tuan...."
"Kalau begitu, apa kalian keberatan jika aku mengambil seluruh harta yang ada disini sebagai ganti nyawa kalian...?" Zefier membuat pertanyaan yang membuat semua orang terkejut. Mengiyakan permintaan Zefier, sama saja kematian bagi mereka. Menolak permintaannya pun, bahkan lebih mempercepat ajal mereka. Hal itu sungguh membuat dilema.
"Asalkan tuan mau menjanjikan satu hal." Jawab tetua Je, mantap.
"Hemmm! Tampaknya, kau tidak takut membuat keputusan. Katakan...!" Ucap Zefier.
"Aku hanya ingin tuan menjadikan aku dan tetua Braham sebagai bawahan setia anda." Tetua Je Tampa ragu mengucapkan pilihannya.
Zefier sedikit terkejut mendengar permohonan tetua Je. Tapi dibelakang sana, tetua Braham tampak lebih terkejut. Dia tak mengira tetua Je akan berkata demikian. Namun setelah dipikir, mungkin inilah jalan terbaiknya.
__ADS_1
Jika tidak mau tersiksa, menjadi bawahan Zefier bukanlah pilihan buruk. Mereka harus memiliki pelindung yang kokoh jika harus menghadapi para atasan, nantinya.
"Baiklah.... Aku setuju!" Ucap Zefier Tampa pikir panjang. Dan lagi, ini memang tujuan awalnya, yaitu mencari kekuatan sebanyak mungkin. "Lalu, bagaimana dengan para bawahan kalian, bukankah mereka seharusnya menjadi tanggungjawab kalian juga?" Tanyanya lanjut.
"Maaf, tuan.... Aku merasa, mereka kurang pantas. Tapi jika tuan berkenan, aku takkan berani mempermasalahkannya. Jawab tetua Je.
"Kalau begitu..." Zefier tampak terpikirkan sesuatu. Dia kemudian melakukan pembicaraan lewat pikiran pada Flyn, tentu hanya mereka berdua yang tau.
Flyn bukan manusia, bukan pula binatang. Dia bukan mahluk jadi-jadian, apalagi mahluk ciptaan. Sampai sekarang hanya Zefier yang tahu, apa atau siapa Flyn sebenarnya.
"Siap, master...!" Ucap Flyn, tegas.
Setelah itu, tiba-tiba Flyn berubah wujud menjadi bentuk yang mengerikan. Taring panjang, belang tubuh yang bercorak api, serta kuku-kuku tajam yang keluar dari sela-sela kaki. Jelas, wujud Flyn saat ini lebih terlihat seperti harimau dengan ukuran besar. Tapi yang lebih mengerikannya lagi, seluruh tubuh itu sepenuhnya terbuat dari api merah. Hanya saja, tak ada hawa panas seperti saat sebelumnya.
Flyn mengaum keras, menggetarkan seluruh bangunan. Dia menatap tajam kepada seluruh bawahan yang masih tersisa setengah. Posisi nya saat ini tampak seperti Ngin mengejar dan menerkam.
Tetua je dan tetua Braham sontak menggigil dan gemetar ketakutan. Mereka tak tahu apa yang harimau api itu ingin lakukan. Yang jelas, jika mereka saja merasa seperti itu, apalagi para bawahan mereka.
"Auuu...!" Sekali lagi, Flyn mengaum. Bersamaan dengan itu, dia berlari menuju para bawahan.
Hingga seluruh ruangan itu kosong dan menyisakan belasan orang, barulah Flyn kembali pada Zefier dan berubah ke wujud apinya semula.
"Master...." Sapa Flyn sambil berlutut.
"Kerja bagus...!" Puji Zefier pada Flyn.
"Terimakasih, tuan...." Balas Flyn.
"Berdirilah.... Tidak bisakah kau menggunakan wujud manusia-mu?"
"Maaf, tuan.... Membuat Anda tidak nyaman."
Flyn kemudian berubah ke wujud manusia seperti sebelumnya. Wajahnya cukup tampan dan bersih, serta tampak bersinar. Membuat siapapun yang menatapnya, pasti takkan bosan.
__ADS_1
Zefier berjalan kearah bawahan yang hanya tersisa dua belas orang. "Selamat! Aku mengapresiasi keberanian kalian. Tampaknya, kalian memang orang yang aku butuhkan." Puji Zefier, pada mereka.
"Kami berjanji, akan selalu melayani tuan dengan sepenuh hati!" Ucap kedua belas bawahan itu, serentak.
Disisi lain, Tetua Je dan tetua Braham akhirnya bernafas lega. Mereka juga memuji keberanian para bawahannya yang bahkan mereka sendiri juga tidak yakin bisa seperti itu.
"Baiklah.... Karena kalian sudah resmi menyatakan diri sebagai pengikut-ku, hari ini aku Kana memberikan tugas pertama kalian. Tapi sebelum itu, apakah ada perahu terbang yang bisa digunakan?" Tanya Zefier.
"Tenang saja, tuan.... Tempat seperti ini, tentunya memiliki barang yang anda inginkan. Silahkan kemari, tuan." Ajak tetua Je, pada Zefier dan diikuti para bawahan lain termasuk tetua Braham.
Tetua Je membawa Zefier ke sebuah landasan terbang. Disana tampak terparkir beberapa perahu besar. Namun mata Zefier tertuju pada sebuah perahu. Tak salah lagi, itu perahu raksasa yang dia lihat melintas di langit akademi Xolfrods.
"Kita gunakan yang itu saja..." Perintah zefier. " Angkut semua benda berharga yang ada dan jangan sisakan sedikitpun." Lanjutnya.
"Tapi, tuan...." Wajah tetua Je terlihat ragu saat ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa?"
"Perahu raksasa itu sebenarnya baru tiba beberapa hari lalu, dan semua barang ayang ada disana belum dipindahkan sama sekali, alias penuh." Jawab tetua Je.
"Keluarkan saja semua yang tidak berguna." Pinta Zefier, lanjut.
"Itu semua isinya adalah uang yang baru saja kami bawa dan akan diedar secara bertahap beberapa Minggu ke depan."
"Mendengar pernyataan tetua Je, Zefier melompat ke perahu raksasa. Dia ingin memeriksa apakah ada tempat yang masih bisa digunakan.
Saat tiba di atas perahu tersebut, Zefier cukup tercengang melihat jumlah uang yang mungkin tak selesai menghitungnya selama seminggu penuh. Puluhan ruangan tampak berisi benda yang menjadi alat utama untuk melakukan transaksi jual beli. Zel halus, Zel kecil, Zel sedang dan Zel besar, semua lengkap disana.
Zefier terus menyusuri perahu raksasa yang tampak megah. Apalagi bahan pembuatannya, sepertinya terbuat dari kayu-kayu paling bermutu tinggi. Pengerjaannya yang halus serta bentuk ukuran indah di berbagai sudutnya, membuat perahu tersebut sangat berkelas di atas yang berkelas.
Setelah berkeliling cukup lama, Zefier kembali turun.
"Gunakan semua ruang peristirahatan pribadi dan sisakan beberapa untuk kita gunakan." Perintah zefier pada tetua Je.
__ADS_1
"Siap tuan...." Jawab tetua Je, patuh.
Bersambung....