System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Orang Tua....


__ADS_3

"Apa yang terjadi!" Para murid akademi Xolfrods saling bertanya satu sama lain.


"Entahlah, kami juga kurang tahu!"


"Kalau begitu, ayo kita lihat."


"Ya, ayo...."


Para murid saling berlarian, mengikuti arah terbang dua perahu raksasa dan satu perahu besar yang melaju dengan kecepatan rendah. Beberapa orang bahkan sudah tak asing dengan salah satunya.


"Lihat itu.... Bukankah itu perahu terbang raksasa yang tempo hari melintas?"


"Ya, betul...! Aku masih mengingat lambang itu. Apa yang ingin mereka lakukan sekarang?"Tampak para murid saling bertanya-tanya. Mengingat kejadian yang mereka alami sebelumnya, mungkin ada sesuatu yang akan terjadi lagi hari ini.


Tak seperti murid lainnya, Livy dan Megion hanya berdiri ditempat, menyaksikan ketiga perahu yang kian mendekat kearah mereka.


Tapi tampa terduga, ternyata ketiga perahu tersebut malah berhenti di atas mereka. "Siapa orang-orang ini? Apakah tamu, tau jangan-jangan....!" Megion tersadar akan status Dan Dzik dan Leo yang masih dalam proses interogasi.


Tap! Terlihat seorang yang sudah tampak tua, melompat dari atas perahu lalu mendarat tepat di atas arena tempat Dan Dzik dan Leo diikat dan disiksa.


"Tuan muda menyampaikan salam kepada kalian berdua...." Sapa orang tua itu, sedikit menunduk memberi hormat.


"Sialan.... Ternyata benar! Mereka adalah teman persekongkolan." Megion mengumpat. Dia langsung sadar saat melihat cara orang tua itu memperlakukan Dan Dzik dan Leo.


Tampa rasa takut sedikitpun, Megion langsung naik keatas arena, sekaligus dia ingin menunjukkan kejantanannya di hadapan Livy.


"Orang tua, apakah kau komplotan orang ini?" Megion langsung bertanya. Wajahnya agak tegas, mengingat dirinya sedang diperhatikan oleh wanita incarannya.


Bukannya mendapat jawaban, kakek tua itu malah bertanya balik. "Anak muda, kakek ini ingin tahu siapa yang telah berbuat kejam pada kedua pemuda itu."


"Kakek.... Kau harus tahu, aku adalah murid yang telah diberi wewenang untuk menjatuhkan hukum kepada siapapun yang aku anggap bersalah. Bahkan jika itu orang luar, aku takkan segan."


"Itu artinya, semua ini adalah perbuatan mu?"


"Jika iya, Ken...." Megion yang ingin berbicara, tiba-tiba terhenti. Itu karena jemari kakek tua tersebut telah mencengkram lehernya.


Kecepatan yang luar biasa. Tak ada satupun yang menyadari gerakan orang tua itu sampai Megion merasa kesakitan dan berteriak.


"Argh.... Kurang ajar, lepaskan aku!" Jerit Megion meronta kesakitan.

__ADS_1


Walaupun banyak murid disana, tapi tak satupun yang berniat membantu. Kemampuan kakek tua itu, jelas jauh dari kehebatan mereka.


Tapi tak dapat disangkal, sebenarnya mereka juga ingin melihat senior mereka Megion mengalami hal tersebut. Terkadang wewenang yang Megion miliki seringkali membebani mereka. Disuruh ini itu, dipaksa ini itu. Beberapa diantara mereka bahkan harus menanggung akibat dari kesalahan yang tidak mereka perbuat.


"Huh! Mati sekalipun, aku ikhlas.... Lagian, merasa hebat juga harus tahu siapa yang dihadapi." Batin beberapa murid yang pernah jadi tumbal keegoisan Megion.


"Apakah kau yang membuat mereka hingga seperti ini?" Orang tua itu bertanya sekali lagi.


"Sudah aku katakan, aku memiliki wewenang untuk itu!" Ucap Megion.


Krek...! Terdengar suara tulang bergeser.


"Arghhh!" Jeritan Megion terdengar lebih keras. Suara tulang bergeser itu, tampaknya memberi rasa sakit yang tak mampu dia tahan.


Disisi lain, para murid yang mendengar jawaban Megion terkadang suka kesal sendiri. "Apakah harus segitunya....? Tinggal berbohong sedikit, mungkin dia akan dilepaskan." Ucap mereka.


"Wajar saja.... Harga dirinya jauh lebih penting daripada harga nyawanya."


"Hei, kalian...! Cepat tangkap orang ini, dia adalah komplotan penjahat yang sedang di cari-cari oleh dekan Eldrick." Teriak Megion. Padahal dia hanya ingin para murid tersebut menjadi jalannya untuk melepaskan diri dari cengkraman orang tua itu.


Meskipun Megion mengatakan kebenaran, namun tak terlihat seorangpun yang mencoba maju. Mereka masih tetap pada posisi semula sebagai penonton setia.


"Hup....!" Terlihat seorang wanita, melompat naik keatas arena.


"Se- senior Livy...!" Gumam semua murid terkejut.


"Junior, Livy...?"


"Livy.... Ternyata kau masih peduli padaku." Ucap Megion, merasa tersanjung.


Mengingat Livy adalah salah satu murid berbakat, semua orang mengira Livy akan langsung menyerang orang tua itu. Tapi tebakan mereka salah...


"Salam pada tetua yang terhormat...." Ucap Livy memberi salam.


"Hemmm.... Sepertinya, masih ada satu orang beradab di akademi ini." Balas orang tua itu.


Melihat tindakan Livy, "Seharusnya senior Livy tahu bahwa orang itu adalah penjahat.... Mengapa senior Livy malah memberi hormat?" Ucap salah satu murid.


"Bodoh...! Itu namanya strategi. Jika ceroboh, maka tak ada bedanya seperti senior Megion." Jawab murid lain.

__ADS_1


"Ah, ya.... Benar juga!" Ucap murid itu, mengerti.


Livy terlihat tenang. Dengan sedikit interaksi, dia mencoba menggali informasi. Jangan-jangan, apa yang Megion katakan hanyalah tuduhan tanpa bukti.


"Tetua.... Apa yang membuat anda mendatangi tempat ini? Tetua dengan sepihak menyiksa senior kami, apakah kami pernah menyinggung anda, tetua?" Tanya Livy, hati-hati.


"Kalian memang tidak menyinggung aku sama sekali. Tapi tidak ada bedanya, jika kalian menyinggung tuan muda kami." Jawab orang tua itu.


"Tuan muda? Siapa yang anda maksud, tetua...? Kami tak merasa menyinggung siapapun."


"Kau tampak tak mengerti apapun. Biar kuberi tahu.... Dengan perlakuan kalian terhadap kedua orang itu, maka sama saja kalian sudah mendeklarasikan pertarungan."


Dari jawaban itu, Livy mulai percaya dengan kata-kata Megion. "Itu artinya, tetua adalah teman kedua penjahat kecil ini?"


"Penjahat kecil? Apa orang tua ini tidak salah dengar? Siapa diantara kalian yang bisa membuktikan kejahatan mereka. Setidaknya, kalian melihat dengan mata kepala sendiri."


Mendapat pertanyaan itu, Livy dan semua yang ada disitu sontak terdiam. Memang benar, mereka hanya mendengar dan tidak menyaksikan sendiri kejahatan yang dituduhkan pada Dan Dzik dan Leo. Tapi, tidak mungkin dekan menginformasikan berita yang salah.


"Huh! Apa kau menuduh dekan kami melakukan kesalahan?" Leher Megion yang masih dalam genggaman orang tua itu, sempat-sempatnya memprotes.


Karena semakin kesal, orang tua itu mengangkat tubuh Megion dengan satu tangan, lalu memperkuat cekikan pada lehernya.


Megion kian meringis kesakitan. dia merasa semua tulang lehernya akan hancur dan remuk. Walau tangannya sudah berusaha mengendurkan cekikan itu, tapi tetap tak berpengaruh sama sekali.


"To- tolong.... Livy, tolong selamatkan aku." Megion memohon sambil meronta-ronta.


Merasa kasihan, Livy coba berbicara baik-baik. "Tetua.... Kami mungkin telah melakukan kesalahan. Tapi, bisakah anda melepaskan dia? Kami hanyalah murid yang melakukan tugas sesuai perintah."


"Kau masih muda dan cantik.... Sebenarnya, tuan muda menitipkan pesan khusus untukmu."


Orang tua tersebut coba merogoh sesuatu di pakaiannya. Tapi tampaknya dia tidak menemukan apa yang dia cari. Dia mencoba memastikan sekali lagi, tapi tiba-tiba dia merasakan seseorang sedang melancarkan serangan dari arah belakang.


Swush...!


Sebuah sabetan pedang, dengan cepat mengarah tajam ke lengan kirinya yang sedang mencengkram leher Megion.


Tapi, orang tua itu bukan seperti orang biasa. Selain tak terluka, orang tua itu bahkan menghindar sebelum pedang itu diayunkan.


Semua mata tercengang. Livy bahkan tak menyadari kedatangan orang itu, yang sebenarnya berada dalam jangkauan pandangannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2