System Api Tertinggi

System Api Tertinggi
Masalah lama....


__ADS_3

Zefier menyaksikan pertarungan kedua belah pihak dengan jumlah berat sebelah. Meski begitu, dia sudah menarik kesimpulan bahwa orang yang dipanggil Alfert lah yang akan memenangkan pertarungan tersebut.


Hal itu tak lain dan tak bukan karena perbedaan ranah. Bahkan jika hanya berbeda satu level, itu sudah cukup membuat perbedaan kekuatan yang jauh dengan level dibawahnya....


Yakin bahwa teman-teman Alfert tak ada yang berniat membantunya, keempat penjaga tersebut membuat sebuah formasi melingkar, dimana mereka akan menyerangnya dari berbagai arah.


Hanya saja, setelah sekian lama menyerang bersamaan, satupun dari pukulan para penjaga itu tidak ada yang mengenai Alfert. Alfert bahkan dengan santainya menghindari terkaman mereka.


Sebaliknya, satu persatu penjaga tersebut menerima pukulan telak dari Alfert, membuat mereka hampir tak mampu lagi untuk berdiri.


"Dimana kesombongan kalian tadi, hah...?!" Ejek Alfert, merendahkan.


"Ka, kau...! Jangan sombong hanya karena ranah yang kau miliki sudah melampaui kami. Tunggu saja tuan besar keluar, kalian semua tidak akan ada yang selamat." Ujar salah satu penjaga.


"Hahaha...!" Alfert tertawa keras. "Memangnya apa lagi yang bisa di sombongkan jika bukan kekuatan? Percaya atau tidak, aku juga akan membuat tuan besar kalian berlutut."


"Huh, banyak omong...! Palingan nanti kau lebih memilih bersembunyi dibalik ketiak ibumu." Balas penjaga, mengejek.


Mendengar perkataan penjaga, Alfert naik pitam. Sepertinya dia orang yang gampang diprovokasi.


"Kurang ajar...! Meski kau sangat lemah, tak disangka mulutmu tajam juga. Tampaknya mulutmu sudah bosan berbicara." Alfert berlahan mendekati penjaga yang memprovokasinya. Setelah aksinya merobohkan keempat penjaga, dia tak terima dikatai seperti itu.


Dia kemudian mencengkram mulut penjaga dengan keras, membuat penjaga itu mengerang kesakitan.


"Lepwaskwan akwu. Apwa yang mwu kwu lakukan." Ucap penjaga.


"Tenang saja, aku tak berniat menyakitimu. Aku hanya akan menghancurkan mulut busuk ini!" Ucap Alfert, geram.


Sebelah tangan Alfert sudah dipenuhi api ungu. Dari besarnya api itu, tampaknya Alfert benar-benar akan menghancurkan penjaga tersebut dengan satu pukulan.


Dengan wajah meremehkan, Alfert melancarkan pukulan apinya pada penjaga tersebut. Tak ada yang berniat menghentikan Alfert baik dari penjaga lainnya atau temannya sendiri.


Namun tiba-tiba, pukulan yang tinggal sedikit lagi akan menghantam penjaga tersebut, seperti tertahan sesuatu.

__ADS_1


"Siapa kau...?!" Bentak Alfert, terkejut melihat kehadiran seorang pemuda yang entah sejak kapan berada disana dan menahan pukulannya.


Tak salah lagi, dia adalah Zefier. "Aku Zafier, pemilik komplek perguruan ini." Jawabnya.


Awalnya Zefier tak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Namun entah mengapa hatinya berkata untuk memihak para penjaga tersebut.


"Kau...? Pemilik...? Apa aku tidak salah dengar? Setahuku pemilik komplek ini adalah seorang pria paruh baya." Ucap Alfert pura-pura santai. Padahal saat ini hatinya merasakan sebuah ancaman. sebab dia sendiri sedikitpun tak menyadari kehadirannya.


Dilain sisi, para penjaga Juga merasa aneh dan tak terima atas pengakuan Zefier. Mereka tahu persis siapa pemilik komplek ini, tapi berani-beraninya ada orang lain yang mengaku-ngaku. Mereka juga tahu bahwa tuan besar mereka tak memiliki anak laki-laki. Kalaupun ada, masih tidak pantas baginya mengakui hal itu selama ayahnya hidup.


"Aku tidak berbohong.... Jika niat kedatangan kalian untuk membuat keributan, aku menyarankan sebaiknya kalian untuk pulang saja. Karena aku tidak akan segan-segan." Ancam Zefier dengan raut wajah santai.


"Anak muda, kau hanyalah anak kemaren sore. Kau bahkan bertindak seakan menganggap kami binatang ternak yang bisa diusir semaunya."


"Hmmm...." Zefier tersenyum. " Itu yang ingin aku katakan.... Aku tak akan mengusir binatang yang patuh, sebaliknya aku mungkin akan menyembelih binatang ternak yang nakal." Zefier malah merendahkan.


Mendengar itu, Alfert geram. "Gerrrt...!" Terdengar suara gigi saling beradu. Api ungu tampak sudah menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia bahkan terlihat lebih beringas dari yang tadi. "Kau... Sepertinya orang tuamu tak pernah mengajari sopan santun."


"Alfert, jangan gegabah! Jangan menilai orang dari fisiknya." Cegah Galga, mengingatkan.


"Kakak Galga, jangan tertipu...! Aku tidak merasakan sedikitpun energi pada tubuhnya. Jelas tadi itu hanya kebetulan saja." Jawab Alfert yang semakin emosi. Sampai-sampai dia tidak menggubris peringatan orang yang dia hormati tersebut.


"Pokoknya, hati-hati saja." Sekali lagi Galga mengingatkan.


"Tenang saja, kakak.... Aku akan membuat anak ingusan ini memanggil orang tuanya lalu bersujud dan meminta ampun pada kita.


Disela-sela percakapan, tiba-tiba gerbang dibuka dari dalam. Mereka mengira akan ada bantuan, tapi ternyata yang datang kali ini adalah pemimpin perguruan itu sendiri.


"Tuan Kasra...!" Keempat penjaga tiba-tiba bertekuk lutut saat melihat kehadiran orang itu.


"Ada apa ini...? Aku mendapat laporan adanya keributan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tegur tuan Kasra pada para penjaga.


"Yo, Kasra.... Akhirnya kau keluar juga. Kami hanya sedikit bermain sambil menunggu kau datang." Galga langsung memotong pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Siapa kau dan apa tujuanmu membawa orang-orang kemari...." Tuan Kasra langsung tau siapa pembuat onar yang harus bertanggung jawab atas keributan disana.


"Apa kau benar-benar lupa atau hanya pura-pura saja? Aku sudah mencari kemana-mana dan ternyata kau bersembunyi disini." Galga membuat pernyataan yang membingungkan.


"Apa maksudmu...?"


"Tiga tahun lalu saat putraku melamar putrimu, kau menolak begitu saja. Bahkan membuat aku kehilangan wajah dihadapan orang-orang. Sekarang kau malah melupakan wajah ini seolah tak pernah terjadi apapun diantara kita." Ucap Galga, mengingatkan permasalahan masa lalu mereka


"Oh... Ternyata, itu kau. Bukankah aku sudah menolak jauh-jauh hari, tapi kau yang bersikeras datang. Maka jangan salahkan aku." Jawab tuan Kasra. Dia tidak bermaksud berdalih. Apa yang dikatakan, benar adanya. Keluarga Galga lah yang terus memaksa.


"Dan sekarang, kau lari untuk menghindar, bukankah kau terlalu pengecut?" Galga balik bertanya sekaligus memprovokasi


"Ini samasekali tak ada hubungannya denganmu. Dan juga permasalahan ini sudah tiga tahun berlalu, seharusnya kau melupakannya."


"Oh? Kau bahkan memutuskan secara sepihak. Tidakkah itu terlalu kejam?"


"Terus terang saja, sebenarnya penyelesaian seperti apa yang kau inginkan?" Tuan Kasra mencoba mencari solusi.


"Hmmm, aku memang menunggu pertanyaan itu." Ucap Galga sambil tersenyum.


"Aku punya dua opsi. Pertama, aku menginginkan pernikahan putra-putri kita. Jika kau menolak, maka opsi kedua, aku akan menghancurkan perguruan ini. Bagaimana?"


"Mengenai opsi pertama, sebenarnya putriku telah memasuki sebuah perguruan ternama dua tahun lalu. Takutnya, kau maupun aku tak bisa memutuskan hal itu." Jawab tuan Kasra.


Tuan Kasra hanya tidak ingin ada pertarungan yang tak perlu sehingga dia menggunakan alasan tersebut, walupun itu benar adanya.


"Artinya, hanya ada opsi kedua bukan?" Ucap Galga yang sudah terpancing emosi mendengar jawaban tuan Kasra.


"Tapi mengingat kau telah mendirikan sebuah perguruan, maka aku berniat untuk saling mengadu kekuatan saja, antara muridmu dan orang-orangku. Jika tidak terima, aku takut orang yang tak berdosa akan terlibat." Lanjut Galga, mengancam.


Mendengar ancaman yang sangat serius tersebut, tuan Kasra akhirnya mengikuti kemauan Galga.


"Baiklah.... Tapi ingat, jika kau kalah sebaiknya kau segera angkat kaki." Ucap tuan Kasra seraya mengajak semua orang memasuki komplek perguruan tersebut.

__ADS_1


"Sebaiknya kau tahan dulu kalimat sombong itu sebelum melihat kenyataannya."


Bersambung....


__ADS_2