Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
12. Orang Baru


__ADS_3

Sungguh pemandangan yang indah, satu pria tampan di depan ku dan pria lebih tampan lagi di sampingku



" Maaf aku hanya pesan dua minuman, aku tidak tau kalau kau kemari dengan rekan mu dan lagi aku belum pesan makanan, takut kau lama nanti makanannya malah dingin"



" Tidak apa Meer, aku sudah memesan tadi"



" Kapan?"



" Tadi saat kau mengobrol dengan teman mu" dan benar makanan datang, Adrian memesan banyak menu ya Tuhan apa dia kelaparan pikirku



" Sayang kenalin ini" belum juga Adrian menyelesaikan kalimatnya, pria tampan yang duduk di depan ku terbatuk, aku melirik ke arah Adrian dia mengangkat bahu tanda tidak mengerti sebab pria tampan di depan ku ini tidak sedang makan ataupun minum



" Bapa tidak apa-apa?" Pria tampan tadi meminum minumannya



" Saya tidak apa-apa pa Adrian" dia kembali ke mode tenang, Adrian mengangguk dan kembali melanjutkan kalimatnya tadi



" Oh iya pa Raja kenalkan ini Meera calon istri saya, sayang ini pa Raja kami akan bekerja sama untuk proyek di Bali nanti" aku hanya tersenyum sambil mengangguk, begitupun dengan dia



" Mari makan pa Raja" seperti biasa kami makan dengan tenang



Selesai makan Adrian dan Raja kembali ke kantor, tak lupa dia mengusap pucuk kepalaku lembut. Aku menelepon Caca dan Tya untuk menemaniku atas saran Adrian agar aku tak bosan seperti di pesta pernikahan tempo hari, ya dia memintaku untuk menunggu, sebenarnya Meli sudah menawarkan diri untuk menemaniku tapi aku menolak, aku tidak mau mengganggu pekerjaan nya.



Cuma Tya yang datang


" Caca mana? Ga bareng?



" Tadi bareng ko udah nyampe parkiran malah, tapi pulang lagi nyokapnya telpon katanya ada pacar kak Ruben main"



" Emang kenapa kalau ada pacar kak Ruben main?"



" Menurut nyokap nya, pacar kak Ruben itu agresif banget nah nyokap nya tu ga suka"



" Terus"



"Terus minta Caca buat ngawasin gitu nyokapnya mau ada arisan jadi ga bisa ngawasin langsung"



" Terus"


__ADS_1


" Terus terus ae lo kaya kang parkir, makanan gue mana laper nih"



" Lo belum makan?"



" Udah, tapi makanan gue udah tercerna sempurna di perjalanan tadi"



" Aiiihh ya udah nih makan" mungkin ini alasan Adrian memesan banyak maknan



" Anjir gue di kasih makanan sisa, tega banget lo"



" Ini bukan makanan sisa bambang, tadi Adrian pesen banyak gue ga tau kalau dia nyuruh gue nunggu, jadi ya mungkin ini sengaja dia siapin buat lo" dia hanya mengangguk dan mulai sibuk dengan makanan



Setelah acara pertunangan beberapa waktu yang lalu, aku memang belum bertemu lagi dengan sahabat ku ini, aku memilih menyibukkan diri di rumah dengan belajar memasak dan ya lumayan, setidaknya masakanku cukup layak untuk mengisi perut Adrian nanti.



" Maa syaa Allah, sungguh indah ciptaan Mu Tuhan" aku mengikuti arah pandangan Tya, pantas saja dua pria tampan tadi sedang menuju ke meja kami



Aku mengikuti Tya yang sedang bertopang dagu


" Yang paling tampan itu calon suami gue" aku menunjuk pria berkemeja abu-abu dengan lengan yang di gulung sampai siku, ok tingkat ke tampanannya meningkat 10%



" Gue tau, lihat mereka pasti lagi ngomongin gue" masih dengan posisi yang sama, aku langsung menoleh dan pletak ku daratkan jitakan manja di keningnya, dia mengaduh sambil mendekik kesal dan aku tertawa senang




" Baik, kalau gitu gue pamit ya Meer Mas Adrian, mau ke rumah Caca dulu"



" Kenapa buru-buru, nanti kami antar"



" Tidak perlu mas Adrian, saya sudah pesan taksi online itu sudah di depan"



" Ya sudah hati-hati, terimakasih ya sudah menemani Meera"



" Sama-sama, daaahh semua"



" Daahh, kabarin gue ya kalo udah nyampe" Tya membalas dengan acungan jempol



****************


ADRIAN


__ADS_1


Kami membahas soal perjanjian kerja dengan cepat, meski aku yakin Tya sudah datang tetap saja tidak enak jika harus membuatnya menunggu begitu lama. Beruntung pa Raja mengrti



" Semoga kerjasama kita berlanjut sampai seterusnya pa Raja"



" Iya pa Adrian, oh ya saya ikut ke restoran lagi tidak apa-apa kan pa Adrian"



" Tentu saja tidak apa pa Raja mari"



Kami kembali ke restoran menggunakan mobil masing-masing, iya kami langsung membawa mobil agar tidak repot ke kantor lagi untuk mengambil mobil. Aku melihat gadis ku tengah tertawa, sepertinya dia habis menggoda Tya terlihat karena sahabatnya itu menunjukkan ekspresi kesal.



" Hai Tya apa kabar" aku menyapa Tya terlebih dahulu



" Baik, kalau gitu gue pamit ya Meer Mas Adrian, mau ke rumah Caca dulu"



" Kenapa buru-buru, nanti kami antar"



" Tidak perlu mas Adrian, saya sudah pesan taksi online itu sudah di depan"



" Ya sudah hati-hati, terimakasih ya sudah menemani Meera"



" Sama-sama, daaahh semua"



" Daahh, kabarin gue ya kalo udah nyampe" Tya membalasnya dengan acungan jempol



" Mau langsung pulang atau gimana"



" langsung pulang saja" jawab Meera singkat



" Ya sudah kalau gitu, pa Raja kami duluan ya" aku pamit pada Raja



" Oh iya pa Adrian, hari-hati salam untuk Pa Ardi"



" Iya pa nanti saya sampaikan salamnya, mari" Raja mengangguk.



Aku menuju mobil dengan menggandeng tangan Meera, sesampainya di parkiran dia langsung masuk mobil, Meera bukan perempuan manja yang menunggu pria nya untuk membukakan pintu baru masuk ke mobil.


Aku melajukan mobil ku dengan kecepatan sedang, ku lihat Meera beberapa kali menuap dia pasti lelah pikirku.


__ADS_1


" Tidurlah, aku bangunkan kalau sudah sampai rumah nanti" sambil ku berikan bantal kecil yang memang selalu tersedia di mobil ku, tak lupa ku usap pucuk kepalanya lembut, dia mengangguk


__ADS_2