
Hari ini, adalah hari yang paling ku nanti. Karena hari ini, aku telah diwisuda, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Haru karena aku tau setelah ini, aku akan jarang bertemu dengan sahabat-sahabatku, bahagia karena aku bisa lulus tepat waktu. Setelah selesai berfoto dengan teman dan sahabat, Aku bergabung dengan keluargaku lagi. Nampaknya kebahagiaan ini bukan hanya milik keluargaku, terlihat sepasang suami istri yang masih tampak gagah dan menawan diusia yang sudah tak muda menghampiri, memelukku dan mengucapkan selamat atas kelulusanku bergantian. Mata ku mencari sosok yang akhir-akhir ini sering menemaniku. Iya, setelah acara makan malam keluarga itu, Adrian sering menemuiku, entah untuk sekedar menemani mencari buku atau makan siang bersama.
"Adrian mungkin tidak datang kesini sayang, pesawatnya delay." tante Mila menyadari kegiatan mataku, aku hanya tersenyum malu.
Tapi tidak, dia datang. Dari jas yang dikenakannya, aku yakin ia pasti belum sempat pulang untuk sekedar berganti pakaian. Oh Tuhan dia tampan, dia mendekati ku.
"Maaf terlambat Mah, Pah, Om, Tante, Lita. Oh iya, selamat sudah menjadi sarjana." sapa Adrian saat meraih tanganku.
"Terimakasih."
Setelah selesai acara kami tak langsung pulang, kami menuju salah satu restoran yang ku ketahui milik Om Ardi. Banyak obrolan yang terjadi antara dua orang tua itu, aku hanya menjadi pendengar setia hanya sampai Tante Mila menegurku.
"Meera, kau mau menikah dengan Adrian?" Pertanyaan tante Mila sontak membuat ku tersedak. Apa ini lamaran pikirku? Sedang Adrian hanya tersenyum mempelihatkan barisan giginya. Ah tidak, aku belum siap dengan lamaran mendadak seperti ini. Ibu menepuk punggungku lembut sambil memberikan minuman.
__ADS_1
"Tante tau ini terlalu mendadak untukmu, atau sebenarnya tidak juga. Pikirkan saja dulu, bicarakan dengan Ayah dan Ibu. Jika sudah siap, Tante dan Om akan melamarmu secara resmi." tante Mila menenangkanku sambil mengusap tanganku lembut. Ayah dan Ibu hanya tersenyum sambil mengangguk kearah ku.
"Baik Tante, Meera akan pikirkan."
********************
*Di rumah
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Iyaa sayang, bersih-bersih terus istirahat kau pasti lelah." ini lebih dari sekedar lelah Bu, batinku. Lita mengekoriku ke kamar.
"Cieee yang sebentar lagi mau dilamar cieee. Terima saja Teh, mas Adrian 'kan tampan, dan lagi dia pewaris tunggal, udah seperti di drama-drama Korea kan." Lita mulai menggodaku. Dan pletak, ku daratkan sebuah jitakan tepat dikening nya.
__ADS_1
"Sudah puas menggodaku. Sudah sana! aku mau istirahat."
"Iya iya. Istirahat yang cukup ya teh, biar pas lamaran nanti teteh lebih segar." kali ini dikolaborasikan dengan tawa yang menyebalkan. Bukkk, sebuah bantal melayang indah dan tepat mengenai kepalanya, dia hanya membalas dengan juluran lidah kemudian menghilang dibalik pintu.
30 menit aku di kamar mandi, mencoba mendinginkan kepala ku yang sempat panas akibat ucapan tante Mila.
Tante tau ini terlalu mendadak atau mungkin tidak? haiih kalimat itu terus saja berputar-putar dikepala ku, dan lagi senyum orang tua ku yang begitu tampak bahagia. Adrian? dia bahkan tidak membantah, hanya tersenyum atau lebih tepatnya dia menahan tawa. Apa ini lelucon? apa Adrian sedang menertawakan ku? aku harus menghubungi nya.
tutttt....tutttt
".........."
"Hei tunggu dulu ...."
__ADS_1
"Apa-apaan ini, aku bahkan belum mengatakan apa-apa tapi dia sudah memutuskan saja, dasar pria menyebalkan." Aku mengomeli ponsel ku yang tidak tau apa-apa. Dia memutuskan sambungan telepon begitu saja, benar-benar menyebalkan.