Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
TSI#2 Kentang


__ADS_3

Jika ada yang bertanya padaku bagaimana bentuk dari cinta, maka jawaban ku adalah, Ameera.


Raja Adi Wijaya.


******


Sepulang bermain bersama anak-anak Meera, Raja langsung pulang. Sampai di rumah, Raja disambut muka masam Papanya dan ... plakkk, satu tamparan mendarat di pipi kirinya.


"Papa sudah bilang, berhenti menemui keluarga Adrian. Apa kau sudah tak punya harga diri, hah? memalukan. Besok, kau harus segera kembali ke London."


Raja tak menanggapi apa yang Papanya bicarakan, ia memilih meninggalkan orang tua itu. Jika tidak, mungkin emosi Raja akan ikut terpancing. Ia tak mau menjadi anak yang kurang ajar.


Mereka yang melihat, mungkin akan berpikiran sama dengan Pak Kusuma. Bukan tanpa alasan Raja terus berhubungan dengan Adrian dan keluarganya yang terkesan tak memiliki harga diri. Jika teringat kelakuan bodohnya dulu saat menyakiti Meera, Raja merasa begitu berdosa, inilah caranya menebus dengan selalu ada untuk Adrian dan Meera, tanpa memperdulikan pandangan lain termasuk orang tuanya sekali pun.


"Ameera, Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, bukan hanya saat ini, tapi sampai seterusnya."


Raja merebahkan tubuhnya, menatap langit langit sambil membayangkan kembali bagaimana bahagianya saat bersama Meera dulu. Hidup terasa begitu mudah dan menyenangkan, hari hari begitu berwarna.


"Aku sangat mencintaimu, Raja." Bisik Meera, sangat merdu terdengar.


"Aku juga sangat mencintaimu, Meera."


Setiap insan diberi hak membuat kisah hidup dan cintanya masing-masing. Bahkan jika itu berakhir buruk, kisah itu tetaplah milikmu.


******


Pagi hari adalah waktu tersibuk dalam setiap rumah. Sudah hampir jam tujuh, Miya dan Tiwi belum juga datang. Meera kelimpungan mencari buku cerita milik Hana, Hana bilang Miya yang simpan tapi Hana tidak tau buku tersebut Miya simpan di mana. Belum lagi Farhan, tidak tau kenapa, sejak kemarin dia manja sekali. Inginnya menempel terus sama Meera.


"Abang, pakai baju sendiri, ya. Abang kan sudah bisa?" bujuk Meera agar Farhan memakai seragamnya sendiri.


"Gak mau! mau dipakaikan Mama." Meera menghembuskan nafas, nada bicaranya kini sedikit tinggi, "Farhan itu Abang, gak boleh manja! pakai seragam Abang sendiri, Mama mau cari buku Hana."


"Mama udah gak perhatian lagi sama Abang! Abang gak suka." seru bocah kecil itu kemudian lari keluar kamar.


"Mama bantu Abang pakai seragam aja, buku Hana, biar Hana cari sendiri." Meera tersenyum, gadis ciliknya ini begitu pengertian, dia dewasa lebih cepat dibanding usianya.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh Tiwi dan Miya memasuki rumah megah itu. Kalau saja tadi tidak macet, mereka pasti sudah sampai sejak tadi. Meera menarik nafas lega.


"Maaf Bu, macet parah." Ucap Miya dengan suara yang masih ngos-ngosan.


"Ambilkan buku cerita Hana, cepat! Hana bilang, kau yang simpan. Saya ke kamar dulu."


"Baik, Bu." Miya secepat mungkin menyiapkan buku-buku Hana. Sedang Tiwi mengambil bekal makan siang si kembar.


Di kamar Meera. Farhan masih terlihat sedih karena tak sengaja Meera bentak tadi. Adrian tersenyum pada istrinya lalu melirik Farhan. Meera mengerti.


Meera duduk di samping anak sulungnya itu, tapi Farhan menggeser duduknya, Meera ikut bergeser. Meera pura-pura tak sengaja menyenggol bahu Farhan, Farhan mendelik kesal.


"Mama minta maaf ya, Bang. Tadi Mama gak sengaja, Abang mau kan maafin Mama?" Farhan tak menjawab. Adrian memperhatikan saja dari samping box bayi Lily.


"Ada orang bijak bilang, dengan meminta maaf, tidak akan menjadikan mu tinggi atau rendah. Tapi yang memaafkan, pasti berhati mulia. Abang berhati mulia, kan?" (quote ini diambil dari salah satu scene di film 'Kabhi Khusi Kabhi Ghum')


Meera mengacungkan jari kelingkingnya, Farhan menyambut dengan wajah yang masih terlihat sendu sambil berkata, "Mama janji gak bentak Abang lagi, ya?"


"Mama janji, Sayang. Sekarang Abang ambil tas gih, Mba Miya sama Mba Tiwi udah dateng, tuh."


Melihat pakaian Meera sedikit basah, membuat Adrian merasa gairah. Dikendurkan nya dasi yang sudah terikat rapih itu, kemudian menarik Meera dalam pelukannya. Disibaknya anak rambut yang menggantung indah di wajah mulus nan halus, dikecupnya mesra leher jenjang nan putih bak kapas.


"Aku mencintaimu, Sayang," kata Adrian dilanjutkan dengan belaian lembut yang ia hadirkan di seluruh bagian sensitif tubuh wanitanya.


Erangan mesra semakin membuat sesuatu dalam diri Adrian bergejolak tak terkontrol. Keduanya semakin larut dalam kenikmatan, lalu ... lalu ....


Tok tok tok


"Teh, Aku mau pinjam album foto pernikahan Teteh, boleh?" Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya. Adrian menggaruk kepalanya, juga memijat keningnya.


"Aku mau mandi lagi, kau temui Lita. Kasih tau dia lain kali jangan bertamu terlalu pagi. Mengganggu saja." Adrian melucuti pakaiannya dan masuk kamar mandi.


Meera menggeleng-geleng sambil berucap, "suamiku yang malang. Iya De, sebentar!"


*******

__ADS_1


Hari pernikahan Lita-Bayu.


Meera, Hana dan Lily kompak mengenakan dress warna merah muda. Sedangkan Adrian dan Farhan memakai jas berwarna putih. Tak ada yang bisa menolak pesona pasangan suami istri ini, di usia pernikahan yang hampir sembilan tahun, Adrian dan Meera selalu terlihat mesra. Ditambah wajah yang cantik dan tampan, apalagi kalau tidak sedang bersama anak-anak, tak jarang mereka malah terlihat seperti sepasang pengantin baru.


Resepsi pernikahan Lita-Bayu digelar tak kalah megah dari pernikahan Meera-Adrian dulu. Maklum, Bayu bukanlah orang sembarangan. Berkat usaha dan kerja kerasnya dalam membangun usahanya sendiri yang bergerak di bidang jasa, Bayu termasuk dalam jajaran pria tersukses sepanjang lima tahun terakhir, bersanding dengan Adrian, Kakak iparnya.


Jika kekayaan mereka berdua digabungkan, cukup untuk membeli beberapa pulau kecil yang ada di Nusantara ini.


Sahabat-sahabat Meera turut hadir dalam acara megah tersebut. Caca dan Marko tau Lita sejak masih ingusan. Sekarang, anak ingusan itu sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik, sudah menyandang status istri, pula.


"Mama, ada Lele, tuh. Sama Papa Marko, tapi Mama Caca mana, ya. Kok belum datang." Farhan celingukan mencari keberadaan Caca, karena sejak tadi belum kelihatan.


"Mungkin Mama Caca masih di jalan, Bang."


"Itu Mama Caca dateng, Abang ke sana ya, Mah." Meera mengangguk.


Begitu Farhan pergi, Adrian menarik Meera dari keramaian. Membawanya ke kamar pengantin dan langsung memeluknya erat.


"Sejak pagi kau sibuk dengan tamu. Hatiku sampai membeku karena terlalu merindu, sekarang kau wajib mencairkannya kembali."


Adrian melahap bibir tipis Meera penuh semangat. Adrian dudukkan Meera di atas meja dan kembali mencumbunya. Tapi lagi lagi, Lita mengganggu kegiatan itu.


"Aisshhh pasangan ini, mau berbuat mesum di acara pernikahanku, mana di kamar ku pula. Ibu ...." Meera segera membekap mulut Lita.


Ibu yang mendengar teriakkan Lita langsung menghampiri bersama Ayah.


"Ya ampun, kalian berdua sedang apa sih?" Lita menyingkirkan tangan Meera.


"Teteh dan Mas masuk kamarku, mereka ...." Lita sengaja menggantung kalimatnya, Meera bersiap memukul kepala Lita.


"Mereka mau membuka semua kado ku, Bu." Lita memeluk Ibu sambil berbisik, "mereka mau mesum."


"Adrian, Teteh itu dicari sama anaknya."


Adrian berjalan lebih dulu, sebelum mengikuti Adrian, Meera sempatkan dulu memukul kepala adiknya yang jahil itu.

__ADS_1


__ADS_2