Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
63. Kehilangan Lagi


__ADS_3

Kau mengajarkan ku cinta, kesetiaan, kepercayaan, tanggung jawab dan banyak lagi. Sekarang mereka mengujiku begitu kuat, andai kau disini semua pasti akan terasa mudah.


Belum selesai masalah Lita, datang lagi masalah baru. Satu lagi proyek yang sebelumnya sudah di sepakati gagal. Meera harus memutar otak, ia harus memikirkan cara untuk menyakinkan para pemegang saham kalau Pratama Company dalam keadaan baik. Pagi buta Meera sudah ke kantor, ia harus mulai menyiapkan proposal untuk rapat nanti. Akan aku pertahankan posisi ini apapun taruhannya.


Rapat pemegang saham akan di laksanakan minggu depan, setidaknya Meera masih memiliki waktu untuk menyusun ide-ide terbaiknya. Drrrrt ponselnya bergetar, Ibu memanggil


Ibu mengabari kalau hari ini Lita sudah di perbolehkan pulang, syukurlah, Meera merasa sangat lega. Ibu juga memberitahu kalau Lita akan ikut tinggal bersama mereka di rumah Meer, tentu saja Meera tak keberatan.


*Besoknya di perusahaan


Meera tidak pulang, ia tidur di kantor dengan di temani Fitri. Mengumpulkan berkas, data dan informasi yang mungkin akan sangat berguna pada saat rapat pemegang saham nanti. Selain itu, Meera juga berusaha menarik para investor-investor asing. Meski belum membuahkan hasil, setidaknya mereka menyambut baik setiap proposal yang Meera ajukan.


Meera sedang istirahat, semalam ia tak tidur, tiba-tiba mama Mila masuk, menyuruh Meera pulang dan istirahat, ini tidak masuk akal pikir Meera.


"Mama kan lihat aku sedang istirahat, kalau aku pulang siapa yang akan mengurus disini?"


"Kan ada Indra nak, kau tidak rindu si kembar?"


"Tentu saja rindu, tapi waktunya belum pas untuk pulang saat ini mah"


"Terserahlah, kau sangat keras kepala, tidak bisa di atur, mama pulang" ya Tuhan, Meera merasa seperti anak SD yang kena marah karena kabur dari rumah.


"Bukan begitu maksudku mah, mah, mamah" mama Mila pergi begitu saja tak menggubris perkataan Meera.


******


*Dua hari sebelum rapat.


Meera sudah siap dengan segala dokumennya. Kondisi Lita semakin membaik, orang-orang yang sudah menyakiti keluarga Meera sedang masa pembelajaran bersama Raja dan anak buahnya. Lega, itulah yang Meera rasakan, walau belum sepenuhnya. Sekarang Meera hanya perlu fokus pada rapat pemegang saham dan kesehatan papa Ardi.

__ADS_1


Waktu menunjukkan jam makan siang, Fitri sangat tau akhir-akhir ini boss nya tidak makan dengan baik, Fitri membelikan mie goreng seafood kesukaan boss nya.


"Bu, makan dulu" Fitri menyajikan makanan yang ia beli tadi.


"Terimakasih ya Fit, kau tidak makan?"


"Saya sudah makan bu. Saya keluar ya"


"Iya, terimakasih ya" Fitri membalas dengan senyum manisnya.


Selesai makan siang, Meera memutuskan untuk pulang sebentar, ia rindu anak-anaknya. Ia juga menyuruh Fitri untuk pulang, Fitri perlu istirahat.


Baru menyalakan mesin mobil, ponsel Meera bergetar. Dila memanggil.


"Halo Dil, kenapa?"


"Mba Meera kesini sekarang ya, ini penting"


"Tidak bisa mba, saya tunggu ya mba, disini juga ada mba Caca sama mas Marko"


"Ya sudah saya kesana sekarang"


Bila Dila sampai menelpon, berarti memang benar-benar penting. Meera menghubungi Ibu kalau ia batal pulang dan harus ke Bandung saat ini juga. Meera memandangi foto anak-anaknya sesaat. Mama janji kalau ini sudah selesai, mama akan bersama kalian setiap hari sayang.


Meera melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Mendadak perasaan Meera jadi tak enak, disitu ada Caca dan Marko, tapi kenapa malah Dila yang menelpon ku? Meera sudah tak bisa berfikir jernih. Pertanyaan itu hanya bisa di jawab saat sampai nanti.


Sampai di lokasi, Meera dibuat sangat terkejut, air matanya mengalir begitu saja. Ia segera keluar dari mobilnya, berlari menghampiri bangunan yang sekarang sudah rata dengan tanah.


"Dila ... Dila"

__ADS_1


"Iya mba" Meera langsung memeluk Dila.


"Dimana yang lain?"


"Rumah sakit mba, saya antar"


Sampai di rumah sakit, Dila tak berhenti di kamar rawat manapun. Meera teringat saat Indra membawanya ke kamar jenazah dua bulan lalu. Badan Meera gemetar, ia menahan tangan Dila.


"Dila ini..." pertahanan Dila runtuh, ia menangis.


"Mba Tya dan mba Meli ..." tanpa menunggu Dila menyelesaikan kalimatnya, Meera berlari. Ia melihat Caca menangis dalam pelukan Marko, sedang Marko, ia masih berusaha tegar. Tapi tidak, tangis Marko pecah saat berada dalam pelukan Meera.


"Mama papa Tya mana?" Meera bertanya pada Caca.


"Mereka di Singapore, sekarang masih perjalanan pulang, tadi pesawat mereka delay" Meera mengangkat wajah Marko.


"Om dan tante?"


"Jerman" jawab Marko singkat. Keluarga Meli? orang tuanya sudah meninggal sejak Meli masih duduk di bangku SMP, dia anak tunggal, begitupun kedua orangtuanya. Bisa di bilang, hanya Marko lah keluarga Meli satu-satunya.


"Hei, Marko yang gue kenal tidak seperti ini" Meera mengelus pipi Marko lembut.


"Gue harus balik sekarang, kalian tau sendiri kan kondisi gue gimana" Marko dan Caca mengangguk. Meera memeluk kedua sahabatnya itu.


Pukul 22.03 Meera sampai kantornya. Satpam yang melihat Meera tidak dalam keadaan baik menghubungi Fitri. Fitri yang memang belum tidur, langsung ke kantor begitu mendapat telpon dari satpam.


"Malam pak"


"Malam bu, saya khawatir dengan bu Meera bu, setelah pak Adrian meninggal dan pak Ardi jatuh sakit, bu Meera mengurus perusahaan ini sendirian. Tidak tau kenapa, saya tidak suka dengan pak Indra"

__ADS_1


"Sstt, pelankan suaramu, kalau ada cicak bahaya, sudah saya ke bu Meera dulu"


"Iya bu"


__ADS_2