
Aku pernah jatuh cinta pada wanita lain, tapi hanya kau yang membuat ku begitu takut kehilangan.
Adrian Dzaky Pratama.
******
Label suami idaman sampai kapanpun akan terus melekat dalam diri seorang Adrian. Hari ini, karena Meera sedang sakit, Adrian membawa Lily ke kantor, Lily juga ikut meeting bersama klien Papanya. Makin bertambah lah wanita-wanita yang menggilai tuan muda itu.
Hot Daddy, begitu para karyawan wanita menjuluki bos-nya. Dari baru datang, Fitri sudah menawarkan diri untuk mengasuh Lily, tapi Adrian lebih memilih membawa putri kecilnya kemanapun ia pergi, termasuk kala ia meeting di luar tadi.
To: Istri
Sayang, kita ke rumah sakit ya. Aku takut kau kenapa-kenapa.
From: Istri
Tidak perlu, Mas, sebentar lagi juga baikan. Lily rewel tidak?
To: Istri
Ya sudah, kau istirahat. Lily anteng. Aku lanjut selesaikan pekerjaan dulu ya, biar cepat pulang.
From: Istri
Iya, Mas. Aku mencintaimu.
Bersyukur sebagian pekerjaan sudah Adrian kerjakan semalam. Jadi, hari ini tak begitu banyak, Adrian bisa menyelesaikan sisanya dengan cepat. Urusan meeting tadi, ada Fitri yang akan menghandle kelanjutannya.
Baru juga Adrian mau pulang, Papa Ardi menelpon minta bantuan. Adrian diminta ke Bandung segera, bukannya tak mau membantu tapi Meera sedang sakit, Adrian tak tega meninggalkan istrinya terlalu lama.
Ia mendiskusikan perihal Papa Ardi yang memintanya membantu cabang, mungkin bisa sampai dua mingguan di sana. Meera tentu saja menyuruh Adrian segera pergi, Papa sudah tua, kalau bukan Adrian yang membantu, siapa lagi. Begitu pikir Meera.
Adrian dilanda dilema, kalau ia pergi sendiri, siapa yang akan mengurus Meera. Kalau ia membawa serta Meera, anak-anak pasti akan minta ikut juga. Bukan tak mau mengajak serta anak-anak, tapi mereka sudah sekolah, meski baru tingkat taman kanak-kanak, Adrian tak ingin anak-anaknya menjadi lalai. Akhirnya Adrian mengambil jalan tengah, ia akan pergi sangat pagi dan pulang begitu hari mulai sore. Meera dengan tegas menolak ide suaminya itu.
__ADS_1
"Mas, kalau begitu, yang ada kau yang akan sakit. Kau pikir Jakarta-Bandung sama dengan dari rumah ke kantor? Aku tidak setuju."
"Lantas bagaimana, sayang. Aku mana tega meninggalkanmu yang sedang sakit begini, siapa nanti yang akan mengurus kebutuhanmu."
"Ada Tiwi, Miya, juga Bi Surti. Atau aku minta Lita untuk menginap saja biar kau tenang."
"Lita sudah punya keluarga sendiri, jangan merepotkan nya."
"Memangnya tidak bisa dikerjakan dari sini saja?"
"Kalau bisa, aku tidak akan kebingungan begini, sayang."
Adrian dan Meera sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak lama, terdengar suara Farhan memanggil. Adrian membuka pintu, Farhan menyelonong masuk tanpa menyapa Papanya.
Farhan menyentuh kening Meera, lalu membuka tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam obat, "kening Mama masih panas. Ini, Abang bawakan obat." Meera melirik suaminya kilat sambil tersenyum.
"Anak Mama sayang, besok juga Mama sembuh kok. Abang keluar dulu ya, Mama sama Papa mau ngobrol dulu."
"Mama cepet sembuh, ya. Abang sedih kalau lihat Mama atau Papa sakit, ngobrolnya jangan lama-lama juga. Di bawah ada Oma Mama."
"Masalah kita terpecahkan, ayo, kita turun sama-sama." Ajak Adrian pada istri dan anak sulungnya.
"Abang mau gendong."
******
Baru dua hari Adrian membantu Papa Ardi di kantor cabang, dua hari itu Meera menyesal menuruti keinginan suaminya untuk ikut, karena Meera dipaksa Adrian untuk ikut kemanapun ia pergi. Ke kantor, meeting dengan klien, meninjau proyek, sampai rapat di kantor yang cuma beda ruangan, Meera harus ikut.
Meera kesal bukan main, menurutnya ini berlebihan, ia hanya demam. Bubar rapat, Meera menahan suaminya.
"Ok, Mas. Aku mau pulang sekarang juga."
"Sayang...."
__ADS_1
"Ssttt! pulang sekarang titik." Adrian mendengus pasrah, ia tak boleh menolak kalau istrinya sudah merajuk begitu.
"Iya, sayang. Sore ini kita pulang ya, sini peluk dulu," ucap Adrian sembari menarik wanitanya agar masuk dalam pelukan.
Adrian membawa Meera ke ruangannya dulu sebelum mengiyakan keinginan istrinya itu. Adrian menjelaskan, ada alasan lain yang membuat Adrian ingin sekali membawa istrinya itu kemana ia pergi. Selain karena tak ada yang mengurus Meera, ia juga ingin menghabiskan banyak waktu bersama lagi. Akhir-akhir ini baik Adrian maupun istrinya sibuk dengan urusan masing-masing, Adrian merasa waktu berduaan mereka sangat berkurang. Jadi, Adrian ingin menjadikan kesempatan ini untuk berpacaran lagi.
Istri mana yang tak iba mendengar kegundahan hati suaminya yang begitu pilu.
"Cup, cup, cup, sayangku. Aku tidak pulang hari ini, akan di sini, menemani suamiku tercinta bekerja. Ada Mama juga yang memantau anak-anak." Senyum Adrian kembali merekah.
"Ada satu alasan lagi mengapa aku ingin kau ikut selalu bersamaku."
"Aku tau, kau ingin aku belajar biar bisa membantu pekerjaanmu, kan?"
"Istriku terbaik, aku mencintaimu sayang."
Bibir mereka pun saling berpagutan, menumpahkan segala dahaga akan cinta satu sama lain, yang tak pernah terpuaskan. Di mana nama Adrian di sebut, maka di situ pula nama Ameera akan turut mengiring.
*****
Meera sudah sembuh total, sebelum ikut suaminya bekerja, Meera sempatkan menelpon Mama Mila, ia rindu anak-anak. Meera menelpon Mama Mila melalui panggilan video, terlihat si kembar sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah, sedangkan si kecil sedang sibuk dengan susunya.
"Mas, sini!" Adrian berdiri di belakang Meera, siap menyapa ketiga anaknya, Hana yang mengangkat, namun apa yang terjadi....
"Mama sama Papa kerja saja, kita baik-baik kok di sini sama Oma Mama. Oma ibu juga ada, tapi masih di kamar. Oma ibu datang tadi malam, sudah ya. Bye Mama, bye Papa." Hana mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Sepertinya anak kita dewasa terlalu cepat, Sayang." Ucap Adrian sambil menatap wajah istrinya.
"Mas! Apa kita dicampakkan oleh anak-anak kita? Apa ini yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah, Mas?"
"Kau ini ada-ada saja, berbahagialah karena anak-anak kita tidak merepotkan. Cepat siap-siap, nanti siang kita ada jumpa klien dari New York. Kau belum pernah melihat aku meladeni klien asing kan?"
"Kau bercanda? Hampir sepuluh tahun kita bersama, Mas. Aku tau semuanya!" Seru Meera seraya memainkan kedua alisnya.
__ADS_1
Lima belas menit Meera sudah siap, mereka terus berpegangan tangan selama perjalanan.