
Meera sudah bangun dari tidur siangnya, hidungnya mencium aroma sedap. Adrian tengah menyantap mie goreng seafood sembari memainkn laptop nya. Farhan sudah tidur lagi, Hana juga belum bangun, dia pasti lapar karena sedari tadi bermain bersama Farhan.
"Ssttt" Adrian tersenyum menatap istrinya
"Sudah bangun sayang? Mau?" Adrian mengangkat piring berisi mie nya. Meera beranjak dari tempat tidur lalu mencium Adrian
"Aku cuci muka dulu" Meera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, Meera duduk di samping Adrian. Di perhatikan nya Adrian dengan seksama.
"Berhenti menatapku atau kau tidak akan bisa hidup tanpa aku"
"Tentu saja bisa, aku ini wanita kuat kau tau" Adrian terkekeh. Hana menangis, Adrian hendak berdiri
__ADS_1
"Aku saja, kau makan dulu baru bekerja" Adrian menurut. Hana menangis karena diaper nya penuh. Karena waktu sudah sore, Meera sekalian memandikan anak bungsunya. Selesai memandikan si bungsu, sekarang giliran si sulung. Si sulung juga sudah.
"Anak mama sama papa sudah wangi" dua bocah itu tertawa seolah mengerti apa yang di ucapkan mama nya. Adrian memeluk dan mencium Meera
"Sekarang giliran mama yang mandi" Farhan dan Hana yang melihat adegan orang tuanya terlihat tidak senang, di lempar nya Adrian dengan mainan karet tepat di wajahnya oleh Farhan, sedang Hana berusaha keras melepaskan pelukan papa dari mama nya.
"Aiihhh dulu sainganku hanya Raja, sekarang malah ada dua" deg, tiba-tiba Meera merasakan sesak di dadanya. Apa maksud mas Adrian? Apa dia benar-benar tau semuanya.
Sepanjang malam Meera terus memikirkan ucapan suaminya. Apa mas Adrian benar tau semuanya? Jika iya.... Meera menangis, menangis dalam diam. Ia teringat bagaimana dulu ia mengkhianati suaminya. Suami yang sangat mencintainya, suami yang entah hatinya terbuat dari apa, Adrian tak sedikitpun membalas pengkhianatan Meera, setelah kejadian itu pun Adrian tetap menerima Meera. Tak sedikitpun sikap Adrian berubah terhadap Meera, tetap manis, tetap romantis dan tetap baik. Itu yang kadang membuat Meera semakin merasa bersalah.
"Mamama mamama"
__ADS_1
Pukul 02.14 dini hari, Farhan mengigau. Meera bergegas bangun dan melihat anak sulungnya tengah bicara tidak jelas. Sesak Meera tak berkurang sedikitpun, melihat Farhan tertawa karena mengigau, membuat hati Meera semakin sakit. Dalam hatinya ia berdoa "semoga kelak kau tumbuh seperti papa mu nak" tak terasa air matanya mengalir lagi.
Adrian memperhatikan, ia tau kalau Meera menangis. Dalam gelap malam pun ia dapat melihat apa yang istrinya lakukan. Tak tahan, Adrian tak pernah tahan melihat air mata Meera jatuh. Adrian memeluk istrinya dari belakang.
"Aku minta maaf, luka yang seharusnya sudah terobati tanpa sadar ku koyak kembali" Adrian membalik tubuh istrinya, lalu memeluknya erat.
"Kau tau, setiap kali air matamu jatuh, terasa seperti sayatan tajam di hatiku. Sangat perih, kau ingin aku mati dengan cepat?" Sontak Meera menutup mulut suaminya dengan tangan dan menggeleng
"Kalau begitu, berhentilah menangis. Aku minta maaf" Meera segera menghapus air matanya
Mereka kembali tidur. Dengan berbantalkan lengan Adrian, Meera baru bisa menutup matanya, pelukan hangat suaminya mampu membawanya ke alam mimpi.
__ADS_1
Itulah cinta, saat dua hati sudah menjadi satu, tak ada lagi KAU dan AKU, yang ada hanya KITA. Saat satu hati merasa terluka, maka hati yang lain akan merasakan sakit yang sama.