
Saat kau merasa lelah, frustasi atau bahkan merasa dunia tak adil padamu pulanglah, keluargamu akan selalu menerima mu dengan terbuka.
-----------------------------------------------------------------------
" Teteh, ade ayo turun sarapan" suara wanita itu masih begitu nyaring meski usia nya sudah tak lagi muda
" Iya bu" jawabku seraya menuruni tangga bersama Lita
" Teh, nanti sore liat turnamen volly yu" ajak Lita
" Emang ada turnamen volly? Dimana?"
" Dimana apanya, hmmm" ibu menimpali ucapanku
" Itu loh bu, turnamen volly di komplek depan, kan ade udah cerita sama ibu" jelas Lita
" Oh iya ibu lupa, ade kan pernah cerita ya"
Aku mulai sibuk dengan nasi goreng ku, sambil tetap mendengarkan percakapan dua wanita yang aku cintai itu
" Paling juga ade mau liatin Yusuf iya kan" gurau Ayah, yang memang sedari tadi sudah ada di meja makan
" Yusuf siapa yah?" Tanyaku pada Ayah.
Belum sempat Ayah menjawab
" Ihh Ayah apaan sih, udah ah ade berangkat duluan takut telat, Assalamu'alaikum"
__ADS_1
" Waalaikumsalam" kami hanya tertawa renyah
*********
Begitulah hari-hari kami lalui dengan senyuman dan gurauan, tak lupa saling menyemangati.
Hangat, tentu saja, kami saling mencintai satu sama lain. Berbagai dalam segala hal, mulai dari hal sepele sampai hal yang serius.
Pertengakaran kecil hampir selalu ada antara aku dan Lita, bukankah akan membosankan jika semua berjalan begitu manis.
Aku masih ingat bertapa marahnya Lita beberapa hari yang lalu, saat aku membuka lemari pakaiannya yang begitu kacau. Akibat ulah ku itu, Lita mendapat hadiah berupa omelan dari ibu, hahahaha semenyenangkan inikah menjadi kakak.
Aku yakin Lita tak akan tinggal diam,dia pasti sudah memiliki rencana untuk membalas ku, memang belum dilncarkan tapi aku yakin akan itu.
Tanpa sadar aku tersenyum tipis mengingat kejadian itu.
" kenapa senyum-senyum gitu" tanya ibu
" Sama kamu juga ga kerasa udah gede, udah lagi skripsi aja" jawab ibu
" Gimana perkembangan skripsi kamu?" kali ini ayah yang bertanya. Agak malu sebenarnya jika harus menjawab jujur
Dan belum sempat ku jawab
" Masih mentok di judul yah, kemaren di tolak katanya" ibu sudah menjawab pertanyaan ayag tanpa meminta persetujuanku, tapi apalah daya ku
" Sekarang udah siapin judul baru belum?" ayah kembali bertanya
__ADS_1
" Udah yah, teteh udah siapin 2 jaga-jaga kalau yang ini di tolak lagi"
" Coba ayah liat" aku menyerahkan 2 judul yang sudah aku siapakan untuk skripsi ku nanti, meski masih belum tau apa ini akan terima atau tidak, setidaknya aku sudah berusaha
Aku menyodorkan 2 judul yang sudah ku buat. Ayah meneliti dengan seksama dan menunjuk opsi kedua
" Ini lebih baik dari opsi pertama, lebih terarah dan tegas" jelas ayah
" lagian kenapa ga nanya sama ayah dulu sih sebelum bikin judul" sambung ayah
" bukan ga mau nanya yah, aku hanya ingin berusaha sendiri, mengetes sejauh apa aku belajar selam ini" jelasku. Ayah hanya tersenyum sambil membelai lembut rambut ku
" Teteh ga ke kampus?"tanya Ibu
" Ke kampus bu bentar lagi bantu ibu cuci piring dulu, kata Caca pembimbing teteh juga belum dateng"
" biar ibu yang cuci, kamu bawain aja ini ke dapur, cuci tangan terus berangkat"
" ya udah iya" aku langsung menuju dapur untuk meletakkan piring kotor, lanjut cuci tangan dan berangkat.
Akupun pamit sambil mencium punggung tangan keduanya.
" Jangan pulang terlalu sore, nanti ade nya ngambek" tambah ibu
" Iya bu, tenang aja Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"