
Karena teteh kau jadi begini de, maaf. Teteh janji akan mencari tau siapa yang sudah berani mencoba menyakitimu. Kau harus kuat, kau tidak akan menyerahkan kan? kau juga akan membantu teteh kan? drrrrt ponsel Meera bergetar, pesan masuk.
From: Raja
Sudah ketemu, sekarang ada di rumah kita.
To: Raja
Tidak ada rumah kita, itu rumah mu. Aku di kantor polisi.
From: Raja
Aku sudah di depan, jangan lupa pakai topimu.
"Baik pak, saya permisi dulu. Saya tetap butuh bantuan bapak sekalian"
__ADS_1
"Kami siap membantu ibu kapanpun"
Benar saja Raja sudah ada di depan kantor polisi, Meera memakai topi dan scarf yang sudah ia siapkan untuk menutupi sebagian wajahnya, ia tak ingin ada yang melihatnya bersama Raja diluar jam kerja.
Sampai di rumah kedua Raja, dua bodyguard berbadan besar sudah menanti. Raja membawa Meera ke satu kamar berukuran cukup besar, ada laki-laki sekitar usia 40-an tengah meringkuk di atas kasur, melihat kedatangan Raja dan Meera laki-laki tersebut langsung duduk dan menunduk lesu. Wajahnya lebam, ia pasti habis mendapat 'pelajaran' dari Raja.
"Maafkan saya bu" ujar laki-laki itu sambil menyerahkan buku rekening dan ponsel pintarnya pada Meer.
Meera memeriksa dengan teliti setiap transaksi yang tertera pada buku rekening bank dan pesan masuk yang ada di ponsel laki-laki yang ada di hadapannya ini.
"Tidak bu, saya janji tidak akan kemana-mana. Saya tidak mau lagi mendapat pelajaran dari pak Raja" jawab pria itu berusaha meyakinkan Meera. Meera mendelik menatap Raja. Raja yang mendapat tatapan tajam dari Meera menjadi salah tingkah.
"Aahh aku baru ingat, aku harus menemui seseorang" Raja pergi begitu saja.
Puas mengintrogasi laki-laki tadi Meera kembali ke rumah sakit. Sebelumnya ia sudah menghubungi Miya dan Tiwi untuk membawa Farhan dan Hana ke rumah sakit. Lita masih belum juga sadarkan diri, tapi menurut keterangan dokter, kondisi Lita sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
Hari mulai malam, meski sudah tak menangis, kesedihan dan ke khawatiran nampak jelas di wajah ibunya. Mereka belum memberitahu ayah Danang perihal ini, mereka tidak ingin ayah khawatir. Meera meminta Tiwi dan Miya menginap untuk menjaga si kembar, ia belum bisa pulang, ia ingin menjadi orang pertama yang menemui Lita begitu adiknya sadar nanti. Ia juga meminta mama Mila untuk pulang, tapi entah dia tidak mau, ia ngotot ingin melihat langsung kondisi Lita.
Waktu hampir tengah malam, ibu tertidur di pangkuan Meera. Meera bingung sendiri dengan tingkah mertuanya, papa Ardi juga masih di rawat di rumah sakit ini, bukannya menemani suaminya, mama Mila malah sibuk mondar mandir di depan pintu kamar Lita.
"Mah, dokter kan sudang bilang Lita sudah baikan, mama duduk sini" Meera menepuk tempat kosong di sampingnya. Tapi mama Mila menolak.
Dokter datang untuk memeriksa perkembangan Lita, tak sampai lima belas menit, dokter keluar memberi kabar baik, Lita siuman. Mendengar kabar itu ibu langsung bangun, memberondong dokter dengan banyak pertanyaan tentang kondisi terkini anak bungsunya.
"Anak ibu baik-baik saja, dia ingin bertemu kakaknya. Tapi, untuk sementara saya hanya mengijinkan pasien bertemu kakaknya, itu juga dengan syarat pasien jangan terlalu di ajak banyak bicara dulu. Besok baru ibu bisa menemui pasien" jelas dokter dengan ramah.
"Baik dok. Bu, mah, aku temuin ade dulu ya, kalian tunggu disini" ibu dan mama Mila mengangguk, mereka duduk sambil tak henti-hentinya mengucap syukur.
Lita tersenyum melihat kakaknya datang, ia sempat berfikir kalau Meera sudah membencinya karena salah faham itu, ternyata tidak. Meera menggenggam tangan adiknya, mengelus leher yang nampak kebiruan. Lita hampir menangis, tapi Meera menggeleng.
"Kau tidak boleh menangis. Maaf teteh tidak bisa menjagamu. Kau mau membantu teteh?" Lita mengangguk. Meera meminta Lita menceritakan kejadian sebenarnya, dengan terisak-isak Lita mulai bercerita.
__ADS_1
"Dengar, teteh sudah menangkap orang yang menyakiti mu, teteh juga sudah tau siapa yang menyuruh mereka, sekarang teteh minta padamu jangan ceritakan pada siapapun termasuk polisi, jika ada yang memaksamu bercerita beritahu teteh" Lita mengangguk. Meera memeluk adik satu-satunya itu.