
Raja mengumpulkan orang-orang Indra di ruang tengah. Penadah uang pajak, orang yang menyakiti Lita, orang ya membakar cafe dan wanita yang wajahnya tidak asing bagi Meera.
"Aku merasa tidak asing dengan wajah ini" Meera membolak-balikkan wajah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Dia yang waktu itu hamil dan meminta bantuanmu" jawab Raja.
Mendengar jawaban Raja, Meera hampir saja menampar pipi wanita itu, beruntung Adrian langsung menahannya. Emosi Meera sering meledak-ledak sejak kejadian itu.
"Hei, hei, hei, sudah sayang sudah. Yang penting sekarang mereka sudah berada di pihak kita. Kau ingat buku yang sampulnya warna merah di ruang kerja ku?" Meera mengangguk.
"Besok kau bawa"
******
Hari rapat pemegang saham digelar.
Para petinggi perusahaan mulai berdatangan, Meera sendiri yang memimpin jalannya rapat. Tekanan datang dari semua pihak, Meera kesal bukan main karena Raja juga ikut menekannya, tapi yang paling membuat Meera tak percaya adalah pak Sigit. Iya, suara pak Sigit yang paling kencang memprovokasi yang lain agar Meera segera melepas jabatan direktur utama nya. Ini tidak masuk akal, pikir Meera.
__ADS_1
"Bu Meera berdiri di posisi itu karena alm pak Adrian, sekarang pak Adrian sudah tidak ada dan di tangan Bu Meera perusahaan ini malah di ambang kebangkrutan, bagaimana ibu akan mempertanggung jawab kan ini semua?" tanya pak Sigit lantang, yang lain hanya manggut-manggut sambil berbisik menyetujui apa yang pak Sigit ucapkan.
"Jaga bicara anda pak Sigit, anda sudah melewati batas. Saya membawa perusahaan ini semampu yang saya bisa, apa pernah saya gagal dalam mengambil tender?"
"Anda memang selalu mendapatkan tender, tapi di tengah jalan selalu gagal"
"Itu titik beratnya. Seseorang ingin saya gagal dalam setiap tender"
Kali ini Indra yang menimpali, dari nada bicaranya ia terdengar marah "Apa maksudmu? kau menuduh kami mengkhianati mu? Jangan suka melempar kesalahan pada orang lain Meera, kau memang tidak memiliki kemampuan"
Meera menjawab dengan santai "Saya tidak menuduh kalian, saya hanya bilang seseorang ingin saya gagal" Meera mendekati Indra "Apa jangan-jangan kau seseorang itu?" bruuukk, Indra mendorong Meera sampai terjatuh.
"Hai semuanya, kalian merindukan saya? kau tidak apa-apa sayang?" Meera mengangguk tanda tak apa-apa.
Mereka sibuk berbicara satu sama lain, mereka masih belum percaya kalau yang berdiri di depan mereka ini benar-benar Adrian. Adrian memberi isyarat pada Meera untuk duduk. Meera menurut, ia duduk di samping Raja.
"Bagaimana, aku memanggil bala bantuan tepat waktu kan?" bisik Raja, Meera terkekeh.
__ADS_1
"Kau terbaik"
Aku senang akhirnya kau tersenyum kembali padaku. Aku masih sangat mencintai mu Meera, tidakkah kau mendengar suara hatiku ini?
"Pak Raja..."
"Ahh iya" Adrian membuyarkan lamunan Raja. Raja segera menghubungi anak buahnya yang sudah bersiap di bawah untuk membawa saksi-saksi atas kecurangan Indra dan pak Sigit.
Mendengar keterangan para saksi dan melihat semua barang bukti yang Adrian sajikan. Semua yang ada di ruangan merasa bersalah karena sudah menekan dan merendahkan Meera, mereka menelan begitu saja setiap informasi yang Indra berikan tanpa mencaritahu kebenarannya, mereka juga marah pada Indra dan pak Sigit.
"Sekarang sudah jelas bukan. Sebelum rapat ini saya tutup, saya tekankan sekali lagi, Pratama Company dalam keadaan baik. Terimakasih, semua boleh keluar"
Semua keluar dengan perasaan lega, saham mereka aman. Tinggal lah Adrian, Meera, Raja, Indra dan pak Sigit dalam ruangan. Adrian mengelus pipi istrinya lembut.
"Sayang, kau bisa beri aku waktu sebentar kan?"
"Aku akan mentraktir Raja makan di kantin" Adrian tersenyum.
__ADS_1
"Hei bung, jangan coba-coba merayu istri ku" Adrian menatap Raja. Raja terkekeh.
"Aku tidak janji, ayo Meera"