Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
39. Tamu Tak Di undang


__ADS_3

Bersepeda di pagi hari menjadi kegiatan rutin kami sekarang. Seperti hari-hari sebelumnya, mas Adrian sudah menyiapkan roti isi dan aku menyiapkan air minum untuk di bawa nanti. Karena semua sudah siap, kami pun mulai mengayuh sepeda berkeliling dengan taman kompleks menjadi tujuan akhir. Kurang lebih baru sepuluh menit kami keluar rumah, langit yang awalnya cerah mendadak mendung. Kami memutuskan kambali ke rumah sebelum hujan turun. Hujan pun turun begitu kami memasuki halaman rumah. Aku melihat sepasang suami istri yang belum lama pesta pernikahannya ku hadiri duduk di kursi teras. Untuk apa mereka bertamu sepagi ini?


Sepeda sudah mas Adrian masukkan ke garasi. Aku mengajak sepasang suami istri itu masuk.


"Silahkan duduk pa, bu. Kami tinggal ganti baju sebentar" ucap mas Adrian


"Iya pa" Raja menjawab singkat. Aku mengekori mas Adrian ke kamar.


Di kamar aku menanyai mas Adrian soal Raja. Mas Adrian juga tidak tahu mengapa Raja bertamu sepagi ini. Mas Adrian keluar lebih dulu, aku memerlukan waktu untuk mengeringkan rambutku. Selesai mengeringkan rambut, aku menyusul mas Adrian ke ruang tamu. Begitu aku duduk, mas Adrian memintaku menyiapkan sarapan untuk Raja dan istrinya. Raja menolak tapi mas Adrian tetap memaksa agar mereka sarapan disini.


Aku sudah di dapur menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng. Vita datang menawarkan bantuan.


"Ada yang bisa saya bantu bu Meera?"


"Meera saja, sepertinya kita seumuran" Vita tersenyum, dia cantik. Sebenarnya agak canggung memasak bersama istri dari orang yang pernah sangat ku cintai.


Kami membagi tugas. Aku menggoreng telur, Vita mengiris bawang dan memotong sayur pelengkap. Aku mengeluarkan tempe tepung dari kulkas.


"Bu, ehh maksud saya. Kau penyuka tempe?"


"Ini kesukaan mas Adrian, kalau saya suka semua jenis makanan"


"Kalau begitu, biar saya yang menggoreng nasinya, kau menggoreng tempe"

__ADS_1


Makanan siap. Aku memanggil mas Adrian dan Raja.


"Kalian tidak ada asisten rumah tangga?" Kebiasaan, bicara di sela-sela makan


"Ada, tapi sedang cuti" aku menjawab


"Nasi goreng bu Vita enak" mas Adrian menimpali


"Terimakasih pa Adrian" Aku tersenyum, mas Adrian mengenal masakanku dengan baik


Hening.....


Sarapan selesai, aku dan Vita sudah mandi lagi. Vita aku pinjamkan pakaian yang pernah Raja belikan dulu. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 lebih tapi hujan belum juga menandakan ingin berhenti, malah semakin deras. Sekarang kami berada di ruang keluarga, mas Adrian dan Raja sibuk membicarakan soal bisnis dan perusahaan mereka, membosankan. Aku mengajak Vita untuk menyiapkan makan siang, tapi mas Adrian melarang. Dia bilang delivery saja. Perdebatan kecil tak terhindarkan karena aku memaksa ingin memasak dan mas Adrian memaksa untuk delivery. Ok Hayati mengalah. Makanan datang, aku menyiapkan piring dan lainnya.


*Di kamar


"Mas aku masih bingung, kenapa kau mengajak Pa Raja untuk menginap? Dan lagi mereka bertamu sangat pagi, aneh gak sih?" mas Adrian mengusap kepalaku lembut


"Katanya, mereka mau melihat rumah baru mereka yang ada di kompleks perumahan ujung. Tapi pas depan kompleks perumahan kita, mobil nya mogok. Karena antara jarak ke rumah baru mereka lebih jauh dari jarak ke rumah kita, jadi mereka memilih untuk mampir sembari menunggu mobilnya di perbaiki. Melayani tamu dengan baik itu pahalnya besar loh. Kau tidak mau kita dapat pahala besar?" yang ini tamu nya beda mas, kau tidak akan pernah tau apa saja yang bisa dia lakukan.


"Tetap saja aku tidak suka"


"Aku perhatikan tadi, kau tampk akrab dengan istrinya pa Raja? Kau tidak suka dengan istrinya pa Raja?"

__ADS_1


"Bukan begitu. Maksudku...."


"Sudahlah kau terlalu banyak berpikir, ayo tidur sudah malam. Atau kau mau aku tiduri? hmmm" mas Adrian memainkan alisnya


"Bagaimana kalau aku yang menidurimu? hmmm" aku ikut memainkan alis ku


"Kalau istri ku memaksa, aku bisa apa selain pasrah"


"Tidak ada yang memaksamu, ayo tidur"


Aku tidur dengan berbantalkan lengan mas Adrian, aku hirup dalam-dalam aroma tubuh suamiku sebelum aku benar-benar tertidur. Teruslah berada di samping ku mas, sampai aku tak bisa merasakan kehadiran yang lain selain kau.


******


*keesokan harinya


Aku tengah menyiapkan sarapan, Vita? entah dia belum keluar sejak tadi. Aku hanya menyiapkan roti isi. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, tubuh ini?


"Raja lepas, nanti mas Adrian atau Vita lihat" aku berusaha melepaskan diri dari pelukkan Raja, tapi sia-sia dia malah mengeratkan pelukannya


"Biar saja mereka lihat, biar mas Adrian mu marah kemudian menceraikanmu, lalu kita menikah dan hidup bahagia selamanya"


"Kau tidak waras"

__ADS_1


"Kau yang sudah membuatku tidak waras sayang, kenapa kau begitu keras kepala sayang, kau tidak merindukan pelukanku? hmmm"


"Sayang" itu suara mas Adrian


__ADS_2