Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
43. Penyembuh Luka


__ADS_3

"Kapan kita liburan mas? Waktu itu kita tidak jadi ke Korea Selatan. Otak cantik ku ini perlu refreshing" benar, waktu itu kita tidak jadi liburan karena tanggalnya mepet dengan pernikahan sahabatnya, Caca.


"Iya sayang, nanti ya"


"Iya. Aku mandi dulu ya"


"Eits nanti dulu. Sekali lagi ya?" Aku mendekap tubuhnya erat


"Nanti malam kan bisa mas"


"Nanti malam kan aku kembali ke Jakarta sayang" aku terus menciumi leher istriku, membuatnya sedikit mendesah, mesra sekali.


"Mas, ah... kemarikan ponselmu emhh..." Aku memberikan ponselku dan kembali pada kegiatanku


Tuttt tuuttt aku menghentikan kegiatan ku dan melihat siapa yang Meera telpon


"Kau menelpon Indra?" Aku bingung, untuk apa Meera menelpon Indra? Meera tidak menjawab

__ADS_1


"Halo" aku ikut menempelkan telingaku agar bisa mendengar


"Halo mas, ini Meera"


"Iya, ada apa Meer?"


"Aku mau minta tolong bisa?"


" Minta tolong apa,aku usahain bisa. Kenapa?"


"Hei boss, pasti kau yang menyuruh Meera iya kan" aku tidak menjawab "kalau bukan Meera yang meminta, aku pasti tidak akan mau menolongmu. Ya sudah kalian selamat bersenang-senang"


"Terimakasih mas Indra"


"Terimakasih mas Indra" aku mengulangi. Meera menindih tubuhku


"Kau mau sekali lagi kan?" Aku mengangguk "biar aku yang mengambil alih" wajahnya tampak serius

__ADS_1


"Istriku mulai nakal. Tapi aku suka. Ayo sayang, aku sudah siap"


Pandanglah aku dengan cinta, maka kan kau temukan diriku dalam setiap pandanganmu.


******


Menerawang jauh ke masa yang lalu. Aku beberapa kali melihat mobil Raja terparkir didepan cafe milik Meera, aku tidak curiga karena mungkin memang sedang ada pekerjaan disini lalu mampir. Beberapa minggu berlalu, mobil itu semakin sering terparkir disana, apa skarang Raja tinggal di daerah sini pikirku? Tapi setahuku Raja masih mengelola perusahaan di Bandung. Atau mungkin Raja punya kekasih dan cafe Love tempat mereka berkencan? Biarlah, itu bukan urusanku.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Aku pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, niat hati ingin membeli beberapa barang untuk istriku. Aku mencari pakaian dan tas yang sekiranya cocok dengan Meera. Selesai membeli barang aku langsung pulang, saat di parkiran aku melihat ada keributan. Dua orang pemuda kena pukul karena menggoda seorang gadis, begitulah yang aku dengar.


Bagai disambar petir di siang bolong, saat aku melihat siapa gadis yang di goda pemuda tadi, dan siapa yang memukulinya. Ternyata Raja dan Meera, mereka sepasang kekasih yang tengah di bicarakan. Seperti ada tombak yang menancap, hatiku sakit dan rasa sakit bertambah saat Raja merangkul Meera. Itulah awal aku mengetahui hubungan terlarang antara Raja dan Meera.


"Mas, kau melamun?" Meera yang tadinya bersandar di bahuku, kini menatap ku. Pandangan kami bertemu. Ku tangkup kedua sisi wajahnya dan mencium bibir nya kilat.


"Aku akan menjadi penyembuh segala luka mu, dan menjadi sumber kebahagiaan mu. Takkan ku biarkan setetes air keluar lagi dari mata indahmu, hanya rona kebahagiaan yang boleh tampak di wajah ini. Aku mencintaimu Meera" mata Meera tampak berkaca-kaca, sebulir air mata hendak meluncur. Ku kecup kedua kelopak matanya.


Meera memelukku erat, ku usap kepalanya lembut. Ku lihat mama tengah berdiri di ambang pintu, tengah mengamati kami. Mama tersenyum dan mengangguk ke arah ku.

__ADS_1


__ADS_2