
**Untuk istriku.
Sayang, aku ada meeting pagi. Tidurmu pulas sekali, aku tidak tega mau membangunkan. Aku buatkan bubur kacang hijau, sebelum makan jangan lupa dihangatkan. Aku mencintaimu.
Meera tersenyum membaca pesan yang suaminya tinggalkan di atas bantal. Ia ingat, kemarin ia meminta Adrian untuk membuatkan bubur kacang hijau.
"Tuan muda ini, jaman sudah canggih masih pakai memo saja."
To: Suamik
Aku sudah bangun, Mas. Mau mandi dulu, baru makan bubur. Terima kasih suamiku (emoticon kiss).
Selesai mandi, Meera ke dapur. Tadinya mau menghangatkan bubur kacang hijau buatan suaminya, tapi tidak jadi, buburnya lebih enak dimakan dingin.
To: Suamik
Tuan muda, buburnya lebih enak dimakan dingin. Love you.
Farhan menyusul Meera ke dapur, hari ini dan besok sekolahnya libur. Biasanya Adrian membawa anak-anak untuk ikut ke kantor, tapi karena ada meeting pagi dan Meera bangunnya kesiangan, jadi mereka di rumah saja. Paling sore nanti pas Adrian pulang, mereka main di taman kompleks.
"Abang, mau bubur kacang ijo gak, ini buatan Papa loh, sini Mama suapi."
"Gak mau, tadi pagi udah makan, disuapi Papa. Mama lihat, Abang pakai sepatu baru, Ade juga. Tapi yang Ade pakai warnanya biru muda."
"Ko Mama gak tau, Papa belikan sepatu buat Abang sama Ade?"
"Ini bukan dibelikan Papa, Mah. Tapi dibeliin sama om King."
"Om King? oh, om Raja?" tanya Meera pada pria kecilnya. Farhan mengangguk.
******
From: Istriku
07.13
Aku sudah bangun, Mas. Mau mandi dulu, baru makan bubur. Terima kasih suamiku (emoticon kiss).
08.20
Tuan muda, buburnya lebih enak dimakan dingin. Love you.
From: Raja
08.07
Aku sudah di rumahmu.
__ADS_1
Adrian tersenyum membaca pesan dari istri juga sahabatnya itu, sudah lama ia tidak bertemu dengan Raja. Adrian yang meminta agar Raja ke rumah, ada yang ingin ia diskusikan. Kebetulan Raja juga sedang mengambil cuti kerja, jadi ia tak keberatan untuk mampir.
Sesampainya di rumah, Adrian disambut si kembar, keduanya berebut ingin memamerkan sepatu baru mereka. Adrian tertawa melihat tingkah anak-anaknya, mereka antusias sekali.
"Sudah bilang terima kasih belum sama Om Raja?" tanya Adrian pada dua malaikat kecilnya.
"Sudah, Pah." Jawab dua bocah itu kompak.
"Papa ganti baju dulu, ya. Mama mana?"
"Ada di dapur, Pah. Lagi masak makan siang sama mba Tiwi." jawab Farhan.
"Sama mba Miya juga, Pah." Sambung Hana.
"Ja, aku ganti baju dulu." Raja mengangguk.
Sebelum ke kamar, Adrian sempatkan menemui istrinya di dapur. Meera tersenyum sangat manis melihat suaminya datang. Adrian memberi isyarat kalau ia ingin ganti baju, Meera segera mencuci tangannya.
"Kau lanjutkan saja masaknya, sayang." Meera kembali mengembangkan senyumnya.
Di ruang tamu, Raja menceritakan apa saja yang ada di London termasuk pekerjaan juga tempat tinggalnya. Dari semua yang Raja ceritakan, taman bermainlah yang paling menarik bagi si kembar.
Adrian ikut bergabung bersama Raja dan kedua anaknya.
"Anak Papa sama om Raja lagi ngomongin apa sih, seru banget."
"London itu jauh Bang, nanti Abang nangis kaya waktu di Bandung minta pulang." Jawab Hana. Wajah sumringah Farhan seketika berubah datar dengar perkataan adiknya. Adrian berusaha untuk tidak tertawa, ia tak mau harga diri anaknya terluka jika ia tertawa.
"Farhan, Hana, mainnya pindah ya, Papa mau ngobrol sama om Raja."
"Iya, Pah." Jawab keduanya kompak.
******
Sakit yang ia rasakan lima tahun lalu kini kembali terasa sejak semalam, Meera berbaring saja di tempat tidur atas permintaan Adrian. Adrian juga tak ke kantor, ia di rumah menemani wanitanya. Mama Mila dan Ibu sedang dalam perjalanan ke rumah Meera.
Sakit yang Meera rasakan tak sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapat. Jika dulu hanya Adrian yang mendampinginya, kini ada dua malaikat kecil yang juga akan ikut mendampinginya.
"Aduh ...."
"Mama ...." Adrian, Hana dan Farhan memegangi perut Meera bersamaan, wajah ketiga terlihat begitu khawatir. Meera tertawa, Adrian mengernyit menatap Meera tajam.
"Mama capek berbaring terus, Mama mau duduk."
Hana melarang Mama nya bangun sambil berkata, "Mama sedang sakit, gak boleh bangun. Kalau Mama mau sesuatu, Mama bilang aja. Nanti Abang yang ambilkan."
Adrian melongo mendengar apa yang putrinya katakan, ditambah ekspresinya yang begitu serius, Adrian sedikit tak percaya, apa benar putrinya ini berumur lima tahun? jangan-jangan dia reinkarnasi dari orang ribuan tahun lalu, seperti di film-film.
__ADS_1
"Iya, kalau Mama mau sesuatu, bilang Abang." Sambung Farhan.
Meera melirik suaminya sesaat lalu menatap kedua anaknya.
"Mama, mau minum, sayang. Air hangat ya."
"Ok Mama, Abang ambilkan. Hana, pijat kaki Mama." Meera kembali melirik suaminya.
Ibu dan Mama Mila sampai, langsung masuk kamar Meera. Mama Mila mengemas pakaian untuk dibawa ke rumah sakit nanti, beliau tidak ingin pakaian ganti Meera kelupaan seperti waktu melahirkan si kembar dulu. Hana dengan sigap membantu Omanya. Sedangkan Ibu mengajak Meera berjalan kecil.
Farhan masuk bersama Miya sambil membawa air hangat yang Meera minta.
"Oma Ibu, Mama mau minum katanya, ini, sudah Abang bawakan." Ibu tersenyum, keberuntungan selalu berpihak pada putrinya. Suami yang penyayang, mertua baik, sekarang anak-anak begitu perhatian. Tanpa sadar Ibu menitikkan air matanya.
Mobil sudah siap, kali ini Adrian menyetir sendiri, Meera duduk di bangku belakang bersama Farhan dan Hana, mereka tidak mau ditinggal. Mereka ingin menemani Mama nya berjuang.
Mama Mila dan Ibu di mobil lain, bersama supir. Papa Ardi dan Ayah mungkin akan menyusul ke rumah sakit malam nanti.
Sampailah mereka semua di rumah sakit yang sama ketika Meera melahirkan si kembar lima tahun lalu. Kini Meera tak semanja dulu, ia lebih tenang, Meera juga lebih memilih jalan ke kamar rawatnya daripada menggunakan kursi roda.
Jangan mengkhawatirkan soal administrasi dan lain-lain, ada Mama Mila yang sudah mengurusnya. Ibu meminta Lita datang ke rumah sakit untuk menemani Farhan dan Hana, Ibu takut dua bocah itu terabaikan karena semua fokus tertuju pada Meera.
Setelah menjalani pemeriksaan dan semua dirasa sudah waktunya, Meera memasuki ruang operasi. Iya, bayi Meera ini sedikit keras kepala, sampai pada waktunya lahir, ia tetap tidak mau merubah posisinya, padahal sudah dibujuk dengan segala cara.
Sebelum masuk ruang operasi Meera meminta suaminya agar tenang, kalau dia panik begini, anak-anak mungkin akan ikut panik juga.
"Hei, jangan panik begini. Aku dan bayi kita akan baik-baik saja."
"Aku mencintaimu, sayang."
"Aku pun, awasi anak-anak."
******
Note
Oma Ibu adalah panggilan untuk Ibu Lia (Ibu Meera)
Oma Mama, panggilan untuk Mama Mila. Sama juga panggilan untuk Opa mereka.
Opa Ayah dan Opa Papa.
Kalau ada masukan apapun itu, kalian bisa banget tulis di kolom komentar, atau dm langsung ke akun medsos author.
Fb: Lily Casirih
Ig: @lcasirih
__ADS_1
Thank u, love u gengs.