
Drrrrt pesan masuk.
From: Fitri
Saya di depan ruangan ibu, tolong buka pintunya bu.
Meera langsung memeluk Fitri begitu membuka pintu, ia tak tau harus berbagi dengan siapa lagi setelah sandaran hatinya pergi. Ia tak mungkin menceritakan segala kegundahan hatinya pada ibu atau mama Mila, itu hanya akan membuat mereka khawatir.
Fitri mendudukkan Meera di sofa, sambil mengusap air mata bosnya, Fitri berusaha memberi semangat dan dukungan sebagai sahabat.
"Dua sahabat saya pergi untuk selamanya Fit"
"Ibu pasti pernah dengar, bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba Nya? dan Tuhan percaya kalau ibu pasti mampu melewati semua ujian ini. Masih ada saya yang siap membantu dan mendukung ibu dalam kondisi apapun. Ibu harus kuat"
"Terimakasih ya Fit"
"Badan ibu dingin, saya buatkan sup ya, sebentar" Meera mengangguk.
__ADS_1
*keesokan harinya
Selepas subuh, Meera tak melanjutkan tidurnya. Ia membuat sarapan untuknya dan Fitri, karena bahan makanan tidak se komplit saat ada Adrian dulu, Meera hanya membuat roti isi dan jus apel. Sambil menunggu Fitri bangun, Meera video call ibu, ia ingin melihat anak-anaknya. Setelah menelpon ibu, Meera menelpon Caca untuk menanyakan prosesi pemakaman dua sahabatnya kemarin.
Syukurlah semua berjalan lancar, Meera teringat semua kenangan nya baik bersama Tya maupun Meli dulu, air matanya kembali menetes. Fitri memberikan tissue, rupanya dia sudah bangun.
"Terimakasih, kau mandi sana, saya sudah buat sarapan. Kita sarapan bersama"
Mereka sarapan bersama. Selesai sarapan, Meera mengumpulkan pakaian kotornya untuk di bawa ke laundry. Ponselnya berdering, dokter yang menangani papa Ardi menelpon. Sebelumnya Meera sudah meminta dokter untuk hanya menghubungi nya jika ada yang perlu di bicarakan.
"Baik bu, ibu hati-hati ya"
Karyawan mulai berdatangan, Meera berpapasan dengan Indra di lobby.
"Mau kemana?"
"Refresh otak"
__ADS_1
"Ok, have fun"
Sampai di rumah sakit Meera langsung ke ruangan dokter papa Ardi. Papa Ardi kritis, tubuh Meera melemas seketika mendengar penjelasan dokter.
"Sebelumnya kami minta maaf bu Meera, kami kurang waspada. Dalam infus pak Ardi terdapat Epinephrine dalam dosis tinggi. Tapi ibu tidak perlu khawatir, kami sangat optimis"
"Lakukan yang terbaik dok, dan terus kabari saya, saya keluar dulu"
"Baik bu"
Langkahnya terasa berat, Meera menangis. Tuhan, kau membuat adik ku hampir kehilangan nyawanya, kau mengambil dua sahabat ku, sekarang papa, lalu apalagi? apa ini karma untuk ku? dulu aku menyakiti mas Adrian, dan kau membalas untuknya? aku menyakiti mas Adrian hanya sekali, dan kau menyakitiku berkali-kali, tidakkah kau bosan menyiksa perasaan ku Tuhan? mas, aku sangat membutuhkan mu, bagaimana aku mengahadapi hari esok tanpa kau dan juga papa?. Tangis Meera semakin pecah, ia tak menyangka semuanya akan seperti ini.
Seseorang memberi Meera pelukan, pelukan yang selalu membuat Meera merasa hangat dan nyaman, pelukan yang selalu ia rindukan.
"Sudah, ini memang jalan yang Tuhan siapkan untuk kita. Lihat aku" Meera mengangkat wajahnya "Ini tidak seharusnya disini" ia mengusap air mata Meera "Bukankah sudah pernah ku bilang, setiap air mata yang keluar dari matamu bagai sebuah sayatan di hatiku, rasanya perih"
"Mas..."
__ADS_1