Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
56. Buket bunga


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor


Begitu sampai kantor, yang pertama Meera tuju adalah meja Fitri, dia harus minta maaf sudah memarahi Fitri kemarin. Fitri sedang ... Entahlah apa yang sedang ia lakukan di bawah meja. Meera ikut jongkok di belakang Fitri, matanya mengikuti arah pandangan Fitri. Sedang cari apa sih dia? melihat kesana kemari, dan bukkk Fitri terduduk. Ia terkejut saat menengok kebelakang. Meera ikut menengok ke belakang, tidak ada apa-apa, dengan polosnya Meera bertanya.


"Kau kenapa?"


"Saya kaget, sejak kapan ibu di belakang saya?"


"Sejak tadi, kau kaget karena saya?" Fitri mengangguk


"Kau sedang cari apa?"


"Bros saya bu, sepertinya tadi jatuh disini"


"Bros mu tidak jatuh, itu" Meera menunjuk map warna kuning. Perasaan tadi tidak ada disitu? kenapa sekarang tiba-tiba ada. Fitri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya minta maaf soal pembatalan itu bu, sebenarnya saya sudah ingin memberitahu ibu, tapi pak Indra melarang saya. pak Indra bilang akan bernegosiasi, jika berhasil pak Indra sendiri yang akan memberitahu ibu"


"Sampai kemarin dia tidak memberitahu saya, berarti negosiasi nya gagal. Saya juga minta maaf ya soal kemarin, tidak seharusnya saya memarahi mu. Kalau begitu saya keruangan dulu ya"


"Iya sekali lagi saya minta maaf ya bu" Meera mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Fitri sempat khawatir ia akan di pecat. Kemarahan Meera kemarin sangat cukup membuat siapapun yang melihatnya ketakutan. Bagaimana tidak, Meera yang biasanya terlihat anggun, berubah menjadi Meera yang lain.


Meera menemukan kertas berwarna merah muda lengkap dengan buket mawar merah di atas mejanya.


***Untuk istriku


I Love You sayang***.


Meera tersenyum, ia mengambil vas dan mengisinya dengan air. Di taruhnya bunga-bunga itu di dalam vas. Hari-hari berikutnya, Meera selalu mendapatkan buket bunga yang tidak lain dari Adrian, Meera sampai bingung mau di apakan bunga-bunga ini.


To: Suamik


Hei tuan muda, kau berencana membuka toko bunga di kantor?


Aku sedang bersama papa, mau ke kantor sekarang. I love you sayang.


To: Suamik


Hati-hati.


Meera kembali melanjutkan pekerjaannya. Soal proyek yang gagal waktu itu sudah Adrian tangani. Saat bekerja Meera akan sangat fokus, saking fokusnya, tak jarang Meera tidak menyadari kehadiran orang lain. Seperti sekarang, Meera tidak sadar kalau Lita dan Farhan sudah duduk di depannya. Lita bersiap mengejutkan Meera, tapi ...

__ADS_1


"Hatciiihh" Farhan bersin, gagal sudah rencana Lita mengejutkan kakaknya


"Sejak kapan kalian disini?" Meera menggendong Farhan.


"Sejak tadi, teteh aja yang nunduk mulu. Teh, Farhan udah bisa jalan tau"


"Masa?"


"Coba aja turunin" Meera menurunkan Farhan di samping mejanya, sedang Meera jongkok di dekat pintu. Farhan mulai berjalan ke arah Meera dengan tertatih-tatih.


"Ayo sayang sini, mama disini" dua tangan Farhan berusaha menggapai tangan Meera, dannn ... bukkk, Meera tersungkur. Lita menutup mulutnya menahan tawa.


"Kau sedang apa sayang? Ehh anak papa sudah bisa jalan"


"Papa"


Cih, aku jatuh karena ulahmu, masih juga bertanya. Bukannya menolong malah mengabaikan ku, gerutu Meera sambil membersihkan bajunya. Meera merebut Farhan dari gendongan Adrian, Lita masih sibuk menahan tawanya.


"Eh eh, aku kan mau main sama Farhan"


"Tidak boleh, Farhan main sama mama ya sayang" Meera mengajak Farhan bermain di kamar yang ada di ruangannya. Meninggalkan Adrian yang masih kebingungan.

__ADS_1


"Teteh itu tadi lagi jongkok di belakang pintu, terus mas dateng, ya jadilah begitu. Aku ikut ke kamar ya mas"


"Iya" jadi, tadi Meera jatuh karena aku, sial aku tidak menolongnya. Pantas dia terlihat kesal, alamat, dia pasti ngambek.


__ADS_2