Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
TSI#2 Teman masa tua


__ADS_3

"Kau!"


Raja terperanjat melihat siapa orang yang berada dalam dapurnya, itu adalah gadis yang memeluknya di supermarket dua hari lalu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tau tempat tinggalku? Bagaimana kau bisa masuk ke apartemen ku, hah?" tanya Raja beruntun.


"Aku ingin memasak untuk makan malam, aku mengikutimu dari dua hari lalu dan aku mengintip waktu kau memasukkan sandi apartemen ini. Puas dengan jawaban ku?"


"Keluar kau dari tempatku!" Diseretnya gadis itu dengan kasar. Tak peduli gadis itu berteriak, Raja tetap menyeretnya.


"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi, kita tidak saling kenal. Ok!"


Gadis itu bersimpuh, meratap, memelas pada Raja. Ia kabur dari rumah dan tak tau harus kemana. Jika ia pergi ke rumah temannya, orang-orang suruhan Papa nya akan sangat mudah menemukannya. Jehan namanya, gadis itu terus meronta, ia perlu bersembunyi dari para bodyguard atau ia akan dipaksa pulang ke Indonesia dan menikah dengan orang yang tidak ia kenali.


"Tuan Aku mohon, biarkan aku bersembunyi di sini," ujar Jehan sambil terus berusaha melepaskan diri. Indra penciumannya menangkap bebauan. Raja pun demikian. Jehan ingat, tadi ia merebus kentang.


"Kentang! Tuan, tadi Aku merebus kentang, pasti airnya habis dan gosong. Aku akan matikan kompor, tolong lepaskan." Serunya dengan wajah mengiba.


Benar saja, kentang itu sudah berubah warna kehitaman. Melihat wajah gadis itu murung, tak tega juga Raja mengusirnya. Ia malah membuatkan nasi goreng untuk Jehan. Menyaksikan gadis di hadapannya makan begitu lahap, mengingatkannya pada Meera. Meera tak pernah pilih-pilih soal makanan, asalkan enak dan halal, ia akan melahapnya tak bersisa. Raja tersenyum getir.


"Saya biasanya tidak berbelas kasih, tapi karena melihatmu begitu menyedihkan, saya izinkan kau tinggal di sini dengan beberapa syarat."


"Apapun syaratnya aku terima, Tuan. Yang penting aku bisa bersembunyi."


"Kau bisa memasak?" Jehan menggeleng, "beberes bisa, kan?" Jehan mengangguk.


"Baik, kau harus membersihkan tempat tinggalku ini maksimal seminggu sekali. Kau juga lihat, kan, hanya ada satu kamar di sini, jadi kau tidur di sofa. Jangan membawa teman, baik perempuan apalagi laki-laki kemari. Satu lagi, jangan pernah masuk kamarku, mengerti?" Jehan mengangguk setuju, masih untung ada yang mau menampungnya.


"Selesaikan makanmu, bersihkan kembali dapurnya, ikut saya."


"Kemana?"


"Tidak usah banyak tanya, ikut saja. Kalau sudah, panggil saya."


Sambil menunggu Jehan makan dan beberes, Raja menyiapkan pakaian ganti untuk Jehan. Raja melihat baju Jehan sedikit kotor tadi, ia juga tak melihat ada tas atau semacamnya yang artinya Jehan tak membawa pakaian ganti.

__ADS_1


"Tuan, aku sudah selesai." Gadis itu berdiri tepat di depan pintu. Raja keluar dan memberikan hoodie untuk Jehan pakai.


Raja mengajak Jehan untuk membeli beberapa potong pakaian serta kebutuhan lainnya, tidak mungkin 'kan kalau Jehan terus memakai baju milik Raja. Anggap saja itu bonus di awal, karena setelah ini, Jehan akan menjadi asisten rumah tangganya.


***


Sang surya telah memancarkan cahaya kuning keemasannya, menelusup masuk melalui celah-celah kecil. Membangunkan seorang pria yang masih setia dengan kisah cinta masa lalunya. Niat hati masih ingin bermesraan dengan guling dan kasur, tapi suara ketukan pintu memaksanya untuk berpisah sejenak dengan benda mati kecintaan banyak umat itu.


"Kenapa? Kan semalam saya sudah bilang, hari ini saya free." Tanya Raja pada Jehan yang tepat berdiri di depan pintu.


"Maaf tuan, di depan ada seorang wanita, sangat cantik, namanya... ah iya, Meera!"


"Meera? Sendirian?"


"Saya bilang seorang, berarti, ya sendirian."


"Minta dia masuk, buatkan coklat hangat, ingat hangat, ya! Saya cuci muka dulu."


Jehan menggeleng keheranan, sudah seminggu dia tinggal di sini, tapi baru kali ini melihat Raja begitu bersemangat, dia bahkan tersenyum, meski senyum itu sangat tipis.


Sesuai perintah bosnya, Jehan mempersilakan Meera masuk. Tapi coklat hangat, ia bingung bagaimana cara membuatnya, ia tidak bisa memasak sama sekali, ia juga belum pernah melihat bagaimana orang membuat teh. Mau lihat YouTube, ia tak punya handphone.


Jehan memasukkan beberapa sendok bubuk coklat dan gula ke dalam gelas yang sudah ia siapkan, namun saat menuangkan air panas, malah mengenai tangannya, sontak ia menjerit. Raja dan Meera masuk dapur bersamaan.


"Kenapa mengiyakan kalau tidak bisa?" Seru Raja dengan nada kesal.


"A-aku minta maaf." jawab Jehan sambil menundukkan kepalanya, ia ketakutan.


"Kau ada kotak obat, kan?" Raja mengangguk, "tolong ambilkan, lihat, tangannya melepuh." ujar Meera seraya mengangkat tangan Jehan.


Matanya tak berkedip sekalipun memandangi wanita pujaannya, Meera begitu telaten mengoleskan salep pada tangan Jehan yang melepuh. Ia jadi teringat ketika tangannya terluka dulu. Meera juga begitu telaten mengobatinya.


"Sudah."


"Terima kasih, bu." Meera mengangguk, Jehan pun meninggalkan Raja dan Meera. Ia kembali ke dapur untuk membersihkan bekas tumpahan air tadi.

__ADS_1


Meera ke London untuk urusan bisnis bersama Adrian, tadinya mereka ingin ke tempat Raja bersama-sama, tapi saat sampai parkiran gedung apartemen, Adrian mendapat kabar kalau ada yang harus diselesaikan hari ini juga. Tak ingin istrinya kelelahan, Adrian menyarankan Meera ke tempat Raja duluan.


Sambil menyeruput minumannya, Meera memberitahu Raja kalau sore nanti mereka sudah harus kembali.


"Cepat sekali."


"Kami sudah seminggu di sini. Oh iya, anak-anak mau bertemu denganmu. Mereka terus saja bertanya kapan kau ke Indonesia."


"Benarkah? Aku juga merindukan bocah-bocah itu. Cepat video call mereka."


Benar saja, Farhan dan Hana yang memangku Lily begitu heboh. Ke dua bocah itu ribut ingin ceritanya didengar oleh Raja, sedangkan Lily yang belum mengerti sibuk bolak-balik menatap ke dua kakaknya.


Meera tertawa saja melihat Raja yang terus menggaruk kepalanya, mungkin ia pusing karena bocah-bocah itu terus saja bicara, kadang ribut karena ada yang menyela.


"Baiklah anak-anak pintar kesayangan om, sudah dulu ya. Om janji, kalau pulang Indonesia nanti, om main. Sekarang, om lanjut ngobrol sama Mama kalian dulu, bye!"


"Bye om, bye Mama!"


Ting... tong. Jehan bergegas membukakan pintu, rupanya itu Adrian.


Karena sudah saatnya makan siang, Meera dibantu Jehan, lebih tepatnya Jehan hanya memperhatikan, memasak untuk makan siang bersama. Meera sengaja masak agak banyak, sisanya bisa dihangatkan untuk makan malam nanti.


Setelah makan siang dan berbincang sebentar, Adrian-Meera pamit.


"Raja, maaf kami tidak bisa lebih lama lagi, kami harus segera ke hotel. Terima kasih untuk makan siangnya." kata Adrian tulus.


"Aku yang terima kasih, sampaikan salamku untuk anak-anak. Mari kuantar." Raja mengantar sampai depan lift. Sambil menunggu lift terbuka, Meera membahas soal Jehan.


"Raja, kau jangan terlalu galak dengan Jehan, atau nanti kau akan jatuh cinta padanya." Ting, pintu lift terbuka. Meera dan Adrian memasuki lift, Raja pun kembali ke apartemennya.


*Di dalam lift.


"Mau bertaruh? Raja akan bertekuk lutut pada gadis tadi." ujar Adrian.


"Aku juga berharap begitu, setidaknya dia harus punya partner untuk menemani masa tuanya." Adrian terkekeh.

__ADS_1


"Seperti kita?"


"Hmm, seperti kita." Meera merangkul suaminya dan dibalas kecupan manis oleh Adrian.


__ADS_2