Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
47. Kebahagiaan Baru


__ADS_3

Di usia kehamilan Meera yang memasuki sembilan bulan, mama Mila dan ibu ikut tinggal di rumah Meera. Meski ada Lita tetap saja mereka khawatir, Lita belum mengerti apa-apa tenang kehamilan dan melahirkan, di tambah lagi tugas kuliah nya yang semakin hari semakin bertambah, pasti sangat melelahkan bagi Lita.


Semenjak hamil, Meera memang jadi lebih manja. Seperti hari ini, Meera tidak mengijinkan suaminya pergi ke kantor. Dia terus menempel pada suaminya, sampai mau mandi pun tidak sempat, karena Meera benar-benar tidak mau jauh dari Adrian.


Meera berbaring di pangkuan suaminya sambil memainkan ponselnya. Bukan tanpa alasan Meera terus menempel pada suaminya, sejak semalam ia merasa perutnya sedikit nyeri. Sekarang rasa nyeri itu semakin hebat, Meera sudah tak bisa lagi menyahannya.


"Mas perut ku sakit" Meera memegangi perutnya


"Mana yang sakit sayang?" Adrian membantu istrinya duduk


"Ini" Meera menuntun tangan Adrian menyentuh perut bagian bawah nya. Adrian panik melihat istri nya begitu kesakitan


"Tahan ya sayang, kita ke rumah sakit sekarang. Aku siapkan mobil" Meera mengangguk

__ADS_1


Adrian turun dan memberitahu kondisi Meera pada mama dan ibu. Mama dan ibu segera menghampiri Meera, Meera berusaha menahan rasa sakitnya. Ibu menenangkan putrinya sambil mengelus perut Meera. Keringat sebesar biji jagung sudah membasahi wajah Meera. Di luar, mobil sudah siap. Di bantu ibu dan mama, Meera sudah menuruni tangga.


"Mah bu, biar aku yang memapah Meera" Adrian memapah Meera dengan sangat hati-hati.


Mama Mila mengambil alih kemudi, Adrian dan Meera duduk di kursi belakang. Meera wanita kuat, dia tetap tenang meski terlihat sangat kesakitan, Adrian mengusap-usap perut istrinya, meski tidak mengurangi rasa sakit, setidaknya bisa membuat rasa nyaman.


Sampai di rumah sakit, mama Mila mengurus administrasi dan lainnya. Meera sangat beruntung, selain suami yang mencintainya, dia juga memiliki mertua yang sangat cekatan dan tak kalah mencintainya. Karena Meera tidak mau melepas pelukannya dari Adrian, akhirnya Adrian ikut duduk di brankar karena tidak mungkin satu kursi roda di duduki dua orang. Semua orang yang ada di rumah sakit kompak memandang kagum pada Adrian, sudah di pastikan Adrian merupakan suami siaga, begitulah yang mereka pikirkan. Selain itu, Adrian juga hanya mengenakan boxer dan singlet hitam.


Lita datang membawa pakaian ganti untuk Adrian dan barang-barang yang sudah mama Mila siapkan tadi. Karen buru-buru mama Mila sampai lupa membawanya.


Dokter memeriksa keadaan Meera, selesai memeriksa, Dokter menyampaikan kondisi Meera dan bayinya dengan sangat detail. Sampai pada kesimpulan Meera harus di operasi. Adrian setuju, tapi Meera? Dia menolak, Meera kekeh ingin melahirkan normal. Perdebatan tak terhindarkan, Meera percaya anak-anaknya masih bisa di bujuk untuk normal.


"Sayang, sangat beresiko kalau normal"

__ADS_1


"Mas, selama kau mendampingi ku, semua pasti baik-baik saja" Dokter masuk, Dokter menjelaskan tentang semua resiko yang bisa saja terjadi, melihat Meera yang tetap bersikap tenang akhirnya Dokter menyetujui permintaan Meera.


Dengan di bantu beberapa Dokter lain dan perawat Proses melahirkan dimulai. Adrian menggenggam tangan Meera, Meera benar-benar wanita kuat, dia mengikuti setiap instruksi Dokter dengan sangat tenang, justru Adrian yang meringis seperti menahan sakit. Perawat dan Dokter pendamping sampai menahan tawa melihat setiap perubahan ekspresi Adrian. Anak pertama lahir, laki-laki, air mata kebahagiaan mengalir dari sudut mata Adrian, di ciumnya kening istrinya. Anak kedua sedikit lebih lama, karena tenaga Meera sedikit terkuras.


"Satu lagi sayang" semangat Adrian seraya mengelus pipi Meera lembut. Meera mengangguk


Anak kedua lahir perempuan, baik tangis Adrian maupun Meera pecah. Terimakasih Tuhan, sudah menguatkanku sampai pada saat ini, gumam Meera dalam hati. Bukan tidak perduli dengan keselamatan diri sendiri, justru Meera sangat takut saat Dokter menjelaskan mungkin salah satu bayi nya tidak dapat di selamatkan. Tapi Meera selalu mengingat pesan ibunya, jangan mengkhawatir kan apa yang belum terjadi, ikuti apa kata hatimu. Dan saat ini Meera mengikuti kata hatinya, ia percaya Tuhan pasti membantu nya.


"Terimakasih Tuhan, terimakasih sayang" di kecupnya bibir istrinya lama, sampai deheman menyadarkan mereka. Adrian malu-malu


"Aku mengabari yang lain dulu" Meera mengangguk "Dokter, saya keluar dulu" Dokter mengangguk, sambil tersenyum simpul.


Di luar semua sangat bahagia mendengar kabar dari Adrian. Papa dan ayah juga sudah ada di sana. Ada sepasang mata yang memperhatikan kebahgiaan mereka, dia sangat ingin menghampiri, tapi ia juga takut di tolak, pertemuan terakhir mereka tidak berakhir baik.

__ADS_1


__ADS_2