Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
2. SAHABAT DAN TAMU AYAH


__ADS_3

Setelah sempat merasa frustasi karena judul skripsi ku di tolak oleh Pak Rahmat, akhirnya di terima dan sesuai seperti yang ayah katakan beberapa hari yang lalu. Padahal aku sudah membuat judul sesuai dengan apa yang beliau terangkan sebelumnya mengenai Manajemen waktu ternyata tidak menjamin apapun.


Aku tengah duduk- duduk santai di taman depan kampus, kampus tempat ku menuntut ilmu dekat dengan taman kota



" Meera" sapa Caca, Alysa Nugroho sahabat ku sejak duduk di bangku SMA



" Hai Ca sendirian, Tya mana?" Kami mengenal Cintya Pangestu saat kita sama-sama menjadi MABA



" Lagi beli minum tu sama Marko" Caca menunjuk keduanya, Komarudi Darmawan. Anak pengusaha sukses Riyadi Darmawan, suka ngambek jika di panggil dengan nama aslinya, menurutnya norak



" Dari tadi gue liatin lo bengong aja, judul nya di tolak lagi?"



" Di terima dong, cukup sekali gue di tolak dan itu rasanya sungguh menyesakkan hati" jawabku dengan ekspresi yang sengaja ku buat-buat



" Iiissshh jijik tau gak" potong Tya sambil meyodorkan Orange juice. Marko dan Caca hanya tertawa kecil



" Btw gue pulang duluan ya Ade gue minta di temenin liat turnamen volly, kalo ga diturutin pasti ngambek" aku meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk-duduk santai



" Kampret lo, gue sama Tya baru juga duduk udah langsung pergi aja lo" teriak Marko hanya ku balas dengan lambaian tangan tanpa berbalik badan



********



Hanya butuh 30 menit dengan berjalan kaki untuk sampai kerumah, itulah mengapa aku lebih memilih kuliah disini daripada di kampus tempat Ayah mengajar. Baru beberapa langkah melewati gerbang rumah, aku sudah di buat bingung dengan ada nya mobil yang nampak asing terparkir di halaman.

__ADS_1



" Assalamu'alaikum, bu itu di depan mobil sia....?"



Belum sempat melanjutkan kata-kataku, aku sudah di buat kikuk dengan pandangan beberapa pasang mata yang langsung mengarah kepadaku



" Waalaikumsalam sayang, sini teteh duduk samping ayah" Sambut ayah sambil menepuk tempat kosong di sampingnya



" Ehh iya Ayah"



" Sayang, ini kenalin temen Ayah waktu kuliah dulu. Ini om Ardi, itu istrinya tante Mila dan itu Adrian anak om sama tante" jelas ayah



" Iya sayang, sebenarnya kamu udah pernah ketemu sama mereka tapi katu itu kamu masih kecil, salim sana " sambung ibu, yang ku tanggapi dengan anggukan




" Meera makin cantik aja " tante Mila mulai membuka pembicaraan



" Pasti di kampus nya banyak yang suka" sambung Om Ardi



" Tante, Om bisa aja" aku tersipu malu karena godaan mereka



" Pasti itu pah, waktu berjalan cepet banget ya tau-tau anak-anak udah pada gede aja" sambung tante Mila di sambut tawa renyah dari keluarga.


__ADS_1


Sedang Adrian, dia hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arahku



" Ya udah sana teteh bersih-bersih dulu, biar seger"



" Iya bu. Ayah, Om, Tante, Adrian, Meera keatas dulu ya" aku pamit pada semua untuk ke kamar.



Badan ku sudah lengket karena keringat. Selesai mandi dan berpakaian rapih, aku langsung menyiapkan beberapa buku yang akan ku baca nanti malam. Aku tidak keluar kamar sampai suara ketukan pintu terdengar.



Tok....tok....tok



" Teh, keluar dulu sini" itu suara ibu



" Iya bu. Tamu nya udah pulang bu?"



" Udah, teteh sih bersih-bersih nya lama"



" Kok teteh, kan itu tamu ayah"



" Om Ardi ngajakin makan malem di rumah nya minggu depan, kamu kosongin jadwal"



" Siap bosqu, ade mana bu? Dari teteh pulang ga keliatan"


__ADS_1


" Liat turnamen volly sama Putri, mau nungguin kamu takut lama katanya"


Aku hanya ber oh ria dan kembali ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2