
Meera kembali, perkataan ibu semalam seperti sihir. Begitu ampuh mengembalikan semangat hidup yang sempat hilang. Meera bermain dengan Farhan, Hana sedang tidur siang. Usia mereka sekarang satu setengah tahun, Farhan terlihat sangat gembira bermain bersama ibunya lagi. Seperti tak ada lelahnya, ia terus berlarian kesana kemari. Karena terlalu semangat, Farhan menabrak meja tamu. Ia menangis, Meera menggendong Farhan.
"Bu" Miya mengisyaratkan agar Farhan di gendong di bahu, sambil di elus punggung nya "Nanti juga tidur" lanjut Miya dengan suara kecil. Meera menurut, benar saja Farhan tertidur. Farhan sudah Meera pindahkan ke kamarnya, disana Hana masih tertidur pulas sambil memeluk boneka panda ia belikan dulu.
"Bu, kami mau mengobrol, bisa?" tanya Miya. Miya dan Tiwi tampak serius.
"Bisa, sini duduk dekat saya" Tiwi melihat sekeliling, ia takut ada yang mendengar percakapan mereka. Setelah di pastikan aman, Miya mulai bicara.
"Bu, akhir-akhir ini saya melihat ada yang aneh pada ibu ... Mila" Miya membicarakan semua keanehan yang terjadi pada diri majikannya. Tiwi juga ikut menambahkan apa-apa saja yang pernah ia lihat mama Mila lakukan, seperti bukan mama Mila, ada yang sedang mama Mila sembunyikan.
"Sudahlah kalian jangan berfikir yang aneh-aneh, oh iya satu lagi. Jangan ceritakan ini pada orang lain, mengerti?"
"Kita mengerti bu"
"Ya sudah saya ke kantor dulu, titip anak-anak ya" Miya dan Tiwi mengangguk.
*****
Meera jadi lebih pendiam sejak Adrian pergi. Papa Ardi langsung yang memimpin rapat bersama dewan direksi. Kepergian Adrian memberi efek cukup besar pada perusahaan. Bahkan ada beberapa investor yang ingin menarik sahamnya. Papa Ardi sampai jatuh sakit karena bekerja terlalu keras.
__ADS_1
"Papa istirahat ya, urusan perusahaan biar Meera yang handle" Meera mengelus punggung tangan papa mertuanya dengan lembut.
"Andai Adrian masih ada, kau pasti tak akan kerepotan begini" Meera tersenyum tipis.
"Udah ah, Meera ke kantor lagi ya pah, papa istirahat. Aku tidak kerepotan kok"
Keadaan perusahaan kacau. Satu investor mundur, proyek mangkrak, papa Ardi jatuh sakit. Setelah ini apalagi? aku butuh kau mas.
Meera sudah mengajukan proposal kerjasama dengan banyak perusahaan besar lainnya, tapi belum ada satupun yang menyambut baik. Meera memijat pangkal hidung nya.
Tok...tok...tok
"Kenapa Fit? kau terlihat tegang, ada masalah?"
"Anu bu ... gimana ya"
"Saya tidak akan marah"
"Waktu ibu pergi ke rumah sakit, orang dari badan pengawas pajak kemari. Mereka bilang kita menunggak pajak, ini surat pemberitahuan nya" Meera berusaha tenang. Ia tidak mau membuat sekretaris nya ini ketakutan lagi.
__ADS_1
"Baik, kau boleh keluar"
Meera menghubungi seseorang, memberitahukan kondisi perusahaan saat ini dan juga meminta pendapat apa yang sebaiknya ia lakukan.
*besoknya dirumah
Mama Mila berusaha keras melarang Meera pergi ke kantor.
"Ma, kalau aku tidak ke kantor, siapa yang akan mengurus masalah disana? mama kan tau sekarang perusahaan sedang tidak stabil"
"Kan disana ada Indra nak, kau bekerja saja dari rumah. Kau juga perlu istirahat, mama tidak mau kau sakit seperti papa" Meera mengalah, ia tidak mu berdebat lagi dengan mama mertuanya.
To: Raja
Aku tidak ke kantor hari ini, mohon bantuannya.
From: Raja
Pasti, nanti aku kirim perkembangannya.
__ADS_1