Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
40. Tamu Tak Di undang 2


__ADS_3

Raja melepaskan pelukannya begitu mendengar suara mas Adrian, syukurlah.


"Sayang, sudah siap? Aku lapar" mas Adrian melingkar kan tangannya di pinggangku "Ehh pa Raja disini?"


"Iya pa Adrian, ini saya ambil air untuk Vita, dia haus. Mari"


"Ada yang perlu aku bantu sayang?"


"Sudah selesai mas, ayo"


Aku memanggil Raja dan Vita untuk sarapan, sampai di depan pintu aku tak sengaja mendengar Raja menyuruh Vita untuk segera membersihkan dan menyembunyikan bekasnya. Apa yang di bersihkan dan apa yang di sembunyikan?. Tak mau mendengar lebih banyak lagi percakapan mereka, aku mengetuk dan mengajak mereka sarapan bersama.


******


Aku bingung, tak tau apa yang telah terjadi pada istriku. Dia meminta tidur terpisah, dan selalu mengurung diri di kamar yang dulu ia tempati sebelum sekamar dengan ku. Perubahannya begitu drastis, badannya sedikit kurus, pandangannya kosong tak ada lagi senyum manis di bibirnya. Kau kenapa Meera?


"Hai boss" Indra membuyarkan lamunanku


"Sejak kapan kau disini? Aku tidak melihat kau masuk"


"Bagaimana mau melihat, kau sedang sibuk melamun. Ada masalah?"


"Sedikit, Papa menyuruhmu kemari?"


"Iya, beliau bilang kau perlu bantuan ku"


"Benar, coba kau cek dokumen ini, ini juga" Indra tampak serius memeriksa dokumen yang ku berikan padanya


"Ada yang sedang berusaha memanipulasi data. Tapi lupakan dulu soal pekerjaan. Katakan kau ada masalah apa?" Indra memang sahabatku


Aku menceritakan kondisi ku dengan Meera, yang semula baik-baik saja mendadak berubah.


"Kau sudah coba bicara dengan istrimu?"


"Sudah, dia selalu jawab. Aku lelah mas, aku mau istirahat. Aku juga mengajaknya ke rumah sakit tapi Meera selalu menolak. Aku bingung"


"Kau melakukan kesalahan apa? Terus coba bicara lagi"


Home memanggil


"Sebentar aku angkat telpon dulu. Halo bi, apa! Saya pulang sekarang, terus temani Nyonya" bi Surti bilang darah, darah apa. Ya Tuhan Meera, semoga kau baik-baik saja.


"Ada apa?"


"Aku pulang dulu"


"Aku ikut" aku mengangguk


Indra memberi arahan pada Fitri untuk membatalkan semua jadwal ku untuk seminggu kedepan. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, tak perduli umpatan yang aku terima dari pengendara lain. Yang terpenting sekarang aku harus segera sampai rumah. Setelah perjalanan yang terasa sangat lama, sampailah di rumah. Bi Surti berlari ke arah ku dengan air mata yang terus mengalir di pipinya yang sudah tak kencang lagi. Seketika sesak menyerang dadaku, udara seperti berhenti mengalir ke paru-paru ku. Betapa terkejutnya saat masuk kamar, aku melihat istriku dengan kondisi mengenaskan, tubuhnya terkulai tak berdaya dengan darah berceceran dimana-mana. Meera berusaha mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan tangan kirinya. Aku segera membawa nya kedalam pelukan ku, beruntung Meera masih bernafas.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi bi, Meera bangun sayang" aku memapah Meera menuju mobil


"Bibi tidak tau tuan, waktu bibi nyapu di bawah, bibi dengar nyonya berteriak. Pada saat bibi lihat, Nyonya sudah seperti itu" jelas bi Surti pada Indra


Sebegitu tidak mencintai ku kah kau Meera? Sampai ingin mengakhiri hidupmu sendiri. Harusnya kau bilang padaku kalau kau sudah tak ingin lagi hidup denganku, bukan seperti ini. Sepanjang menuju rumah sakit, Meera tidak juga membuka matanya. Air mata sudah tak bisa ku bendung lagi. Suami mana yang tak sakit melihat kondisi istrinya yang mengenaskan seperti ini. Dasar bodoh, suami macam apa aku ini yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Bangun sayang, kau bilang kau ingin berlibur di Korea Selatan bukan?. Kita akan pergi ke Korea Selatan akhir bulan ini. Tapi aku mohon kau bangun sayang" tak henti-hentinya aku goyangkan tubuh Meera berharap ia segera membuka mata, tapi nihil Meera tetap saja diam. Tuhan aku mohon selamatkan istriku dari maut yang ia undang.


"Kenapa kau lamban sekali hah! Kau tidak lihat istriku sudah sangat kesakitan, tahan ya sayang kau pasti baik-baik"


"Sudah sampai, kau tenanglah. Bi, bantu tuan. Saya urus administrasi dulu"


Meera sudah dalam penanganan dokter. Tuhan kenapa mereka lama sekali.


"Dri duduklah, kau harus tenang dari tadi kau terus saja mondar mandir. Percayalah dokter pasti bisa menangani Meera dengan baik" aku duduk di samping Indra. Dokter keluar


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Pasien kehilangan banyak darah, tapi bpa tidak perlu khawatir. Istri bapa tangguh, dia sudah melewati masa kritisnya"


"Syukurlah, saya bisa melihat istri saya Dok?"


"Pasien masih perlu istirahat, bapa bisa ikut saya?"


"Bisa Dok, Dra aku titip Meera ya"


"Pasti"


"Aku menemukan ini di atas kasur istrimu" Indra menunjukkan alat tes kehamilan dengan dua garis. Benar hamil, aku tersenyum getir. Aku menutup mataku sejenak dan aku ingat.


"Kau mau kemana?"


"Menemui sumber masalah"


"Tunggu, bi Surti terus temani nyonya ya"


"Baik tuan"


Sampai di parkiran, Indra langung duduk di kursi kemudi.


"Aku yang nyetir, katakan kita kemana?" Aku mengatakan tujuan ku. Sial, jalanan macet karena pas jam pulang kantor.


"Macet, gimana?"


"Aku tau jalan pintas" melalui jalan pintas, sampailah di tempat tujuanku, rumah Raja Adiwijaya


Begitu memasuki halaman terlihat beberapa pelayan. Sepertinya sedang ada acara keluarga. Aku memantapkan langkah memasuki rumah megah yang ada di hadapanku saat ini.


"Kenapa kita kesini?"

__ADS_1


"Kau akan tau"


Pelayan mempersilahkan aku dan Indra masuk. Pak Kusuma dan istrinya menyambut aku dan Indra.


"Nak Adrian, nak?"


"Indra"


"Oh Indra silahkan duduk, oh iya kalian tidak boleh pulang dengan cepat, kalian harus makan malam disini"


"Maaf kami tidak bisa pa Kusuma, kami hanya sebentar, bisa bertemu pa Raja? Saya ada perlu"


"Tentu, Ma panggilkan Raja" tak lama Raja muncul


"Tidak perlu pa, aku sudah datang. Halo pa Adrian, pa Indra apa kabar? Kalian cuma datang berdua, dimana bu Meera?" Tanpa menjawab pertanyaan nya, langsung ku daratan pukulan tepat di wajah menjijikan nya.


Bukkk "Ini karena kau berani mencintai istriku"


Bukkk "ini karena kau mencoba memanipulasi data perusahaan ku"


Bukk " dan ini karena ku telah menghamili istriku"


HAMIL? Kata itu kompak keluar dari mulut setiap manusia yang ada di dalam ruangan ini.


"Aku bersumpah, kalau sampai sesuatu yang fatal terjadi pada Meera, aku tidak akan membiarkan hidupmu bahkan sampai keturunan terakhir mu hidup dengan tenang. Ingat itu" aku langsung pergi tanpa memberi Raja kesempatan untuk membalas perbuatanku. Raja dan keluarganya mengejarku sampai depan


"Dimana Meera sekarang? Bagaimana kondisi calon anakku?"


"Anakmu mati, dia sama lemahnya seperti kau" Raja mencekal ku


"Ceraikan Meera, dia tidak mencintaimu. Aku akan membahagiakan Meera"


"Brengsek, beraninya mulut kotormu itu menyebut nama istriku" saat hendak menghajar wajah Raja, Indra membisikkan kalau Meera sudah siuman. Aku pun melepaskan cengkraman dari lehernya


"Kau selamat hari ini"


Aku dan Indra kembali ke rumah sakit menggunakan jalan pintas yang lain, jaga-jaga kalau sampai Raja mengikuti. Indra tidak bertanya apapun saat di mobil.


Sampai di rumah sakit, ku lihat Meera hanya menatap kosong ke langit-langit kamar, namun air matanya tak berhenti mengalir melewati pipi yang sedang tak merona. Aku memberi isyarat agar bi Surti pergi. Aku duduk di samping kiri Meera sambil mengelur tangannya yang terluka.


"Apa ini masih sakit sayang?" Meera menatapku nanar sambil mengangguk. Aku mengusap pucuk kepalanya lembut


"Istirahatlah, biar cepat pulih" Meera menangis lagi. Sungguh, hati ini rasanya begitu perih melihat setiap bulir air mata yang keluar dari sudut matanya


"Maaf, aku...."


"Kita bicarakan itu nanti, kau harus pulih. Kau ingin ke Korea Selatan kan?" Meera mengangguk


"Kita ke Korea Selatan akhir bulan ini"

__ADS_1


Aku akan membawamu jauh dari kota ini begitu kau pulih nanti, kita memulai hidup baru, bersama anak-anak kita nanti.


__ADS_2