
Ku pandangi wajah suamiku yang tengah terlelap, semalam ia tidak tidur dengan baik. Bibir tipis, hidung mancung kulit yang mulus, sangat tampan.
"Paket komplit. Bukan hanya tampan, kau juga sangat penyayang"
"Sudah puas memandangi ku" mas Adrian sudah bangun?
"Kau sudah bangun?"
"Bagaimana tidak bangun, kau terus saja mengusap pipiku"
"Pipimu halus, seperti pantat bayi"
"Kau menyamakan pipiku ya lucu ini dengan pantat bayi? Kau kejam" aku tertawa mendengar mas Adrian memuji dirinya sendiri sambil menekan-nekan pipinya
"Hei coba lihat, senyum itu kembali, sangat manis" aku tersipu "jangan pernah menangis lagi ya sayang, apalagi mencoba mengakhiri hidup. Aku sangat mencintaimu"
"Maaf membuatmu khawatir" mas Adrian tersenyum.
"Oh iya sayang, dokter bilang hari ini kau sudah boleh pulang" pulang? Senangnya, aku sudah bosan disini "aku urus administrasi dulu ya, kau siap-siap" aku mengangguk.
Bi Surti sudah membawakan aku pakaian ganti. Rok denim dan kaos dengan motif salur. Sepertinya bi Surti paham cara berpakaian ku. Tak lupa rambut ku kuncir ekor kuda. Mas Adrian kembali dengan dokter yang merawat ku beberapa hari ini.
"Bu Meera semakin terlihat segar"
"Terimakasih dokter, saya bisa pulih kembali berkat dokter"
"Atas kehendak Tuhan melalui saya bu Meera. Pa Adrian ingat pesan saya ya. Bu Meera juga obatnya jangan lupa di minun teratur. Kalau begitu saya permisi, saya harus memeriksa pasien lain"
"Terima kasih dokter"
"Sama-sama, mariiii" Dokter meninggalkan ruangan
__ADS_1
"Sudah siap? Ayo, Indra sudah menunggu di depan"
Mas Indra menjadi supir dadakan kami, bi Surti duduk di kursi depan, aku dan mas Adrian duduk di kursi belakang. Suamiku selalu bersamaku, Ayah benar soal mas Adrian yang baik dan pasti bisa membahagiakan ku, Tya juga benar soal mas Adrian yang hanya memandang satu wanita yaitu aku. Aku? Aku bodoh. Tuhan hanya menciptakan satu Adrian, terimakasih Tuhan, kau jadikan Adrian yang hanya satu ini menjadi suamiku.
******
Apa pun kodinsimu, bagaimana pun keadaan mu, sebesar apapun kesalahanmu aku akan tetap menerimamu. Kenapa? Karena kau istriku, aku ingin bertanggung jawab atas dirimu sampai akhir.
Apa aku marah? Kecewa? Benci? Jawabannya IYA. Selain marah, kecewa dan benci pada si brengsek itu. Aku juga marah pada diriku sendiri, harusnya aku bisa lebih awal lagi membuat Meera jatuh cinta padaku. Aku percaya Meera sudah mencintaiku, tapi si brengsek itu terus saja menggoyahkan perasaan Meera dengan segala cara. Rasa cintanya berubah menjadi obsesi yang menjadikannya hilang akal.
Lalu bagaimana dengan Meera? Meera juga salah, dia membiarkan rasa yang salah terus berkembang. Dia terus mengikuti arus yang si brengsek itu buat, sampai pada pusaran yang hampir menenggelamkan nya. Keputusasaan membuatnya semakin tenggelam, namun Tuhan memiliki rencana, Tuhan mengangkat nya ke permukaan dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
*Tiga bulan kemudian
"Assalamualaikum, aku pulang" dua hari setelah pulang dari rumah sakit, aku meminta Meera tinggal bersama mama untuk sementara waktu, tapi setiap weekend aku selalu menemani Meera. Aku akan memboyong Meera dan menetap di Surabaya begitu rumah baru selesai dibangun nanti.
"Waalaikumsalam sayang, pagi sekali datangnya?" Aku langsung menciumnya, anggap ini sebagai jawaban atas pertanyaan mu tadi, aku sangat merindukanmu. Meera membalas ciumanku
"Mama ini, mengganggu saja"
"Aku ke kamar dulu" Meera malu-malu
"Lihat, istriku malu karena mama"
"Kalian saja yang tidak tau tempat, sudah sana susul Meera terus sarapan"
"Siap bos" tak lupa ku kecup lembut kening wanita yang telah membesarkan ku ini.
Ku lihat Meera duduk di kasur, pipinya masih memerah karena malu tadi. Ku rebahkan tubuh nya perlahan, dan melanjutkan ciuman tadi. Sampai pada leher desahan lembut keluar dari bibirnya, pijatan lembut bergantian ku berikan pada dua gundukan milik Meera. Desahan nikmat semakin terdengar, tiba-tiba.
Tok tok tok
__ADS_1
"Hei kalian berdua, mesra-mesranya nanti saja cepat turun sarapan" aku mengusap wajahku kasar
"Iya maaa"
"Mertua mu menyebalkan sekali"
"Itu mama mu"
"Aahhh benar itu mama ku, kau turun duluan. Aku harus menenangkan adik kecil dulu" aku mengacak rambutku frustasi.
Setelah adik kecil mulai tenang, aku pun bergabung dengan yang lain untuk sarapan
"Loh, belum pada sarapan?"
"Kita menunggu mu mas"
"Oh begitu. Kalau begitu ayo makan, aku sudah disini"
Selesai sarapan, aku dan Meera menghabiskan waktu di halaman belakang. Saling bercerita kegiatan sehari-hari termasuk aku yang kemari lebih pagi dari biasanya, aku ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama, karena nanti malam aku harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting.
"Mas nanti malam aku ikut ya"
"jangan sayang, kita tidak pernah tau apa yang akan di lakukan si brengsek itu setelah kejadian kemarin, aku tidak mau kau kenapa-kenapa"
"maaf ya mas"
"tidak apa sayang, kita masuk yuk, kepalaku sakit"
"kau sakit? aku ambilkan obat" Meera hendak beranjak tapi aku menahan tangannya
"tidak perlu obat, cukup melanjutkan yang tadi" aku memainkan alisku
__ADS_1
"kau mesum. Ayo kita lanjutkan" senyumku semakin melebar