Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
61. Bukti lain


__ADS_3

Mama Mila ikut bermain bersama Meera, ibu dan kedua cucunya. Karena hari ini Meera di rumah saja, Meera meliburkan Tiwi dan Miya. Farhan dan Hana sudah bangun dari tidur siangnya sejak tadi.


*Di tempat lain


Lita merasa seseorang mengikuti gerak geriknya. Lita tak tau itu siapa, Lita juga terus menerima pesan dari nomor tak di kenal, pesan berisi ancaman. Tak hanya pesan bernada ancaman, orang itu juga mengirim foto-foto dirinya dalam setiap aktivitas.


From: xxx


Dasar jalang, adik tau diri. Kalau bukan karena kau selingkuh dengan Adrian, mungkin sekarang Adrian masih hidup. Sekarang perusahaan Adrian diambang kebangkrutan, Meera juga tak ada semangat hidup, pak Ardi sakit-sakitan akibat kehilangan anaknya. Harusnya kau yang mati, bukan Adrian.


"Tidaaaaakkkkk" praangg, Lita melempar cermin yang ada di hadapannya dengan ponsel. Lita menangis sejadi-jadinya.


"Aku tidak berselingkuh dengan mas Adrian, dia suami kakak ku, mana mungkin aku menggodanya. Ini hanya salah paham, salah paham, aku bukan jalang" Lita terisak pilu.


Lita menangis, meringkuk di sudut kamar kost nya. Ia terus meyakinkan dirinya tidak bersalah atas kematian Adrian, meski dalam hati ada sedikit penyesalan karena waktu Adrian mengjaknya pergi ia tidak menolak, andai waktu itu aku menolak, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Terdengar suara gedoran pintu, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Lita menghapus air matanya, ia pergi melihat siapa yang kurang kerjaan menggedor-gedor pintu kamarnya.


ceklek, dua orang berbadan tegap berdiri di depan pintu kamar Lita.

__ADS_1


Drrrrt drrrrt ponsel Meera bergetar. Nomor tak dikenal memanggil... siapa ini? pikir Meera. Meera mengangkat telpon, terdengar suara gadis yang tidak asing di telinga Meera, namun Meera tidak ingat siapa pemilik suara itu. Meera tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang gadis itu bicarakan, dia berbicara sambil menangis.


"Hei iya ini saya Meera, kau siapa? coba bicara yang jelas"


"Ini Putri teh, Lita teh Lita"


"Oh Putri, Lita kenapa Put? kau juga kenapa menangis?"


"Lita gantung diri teh, sekarang Lita sudah di bawa ke rumah sakit Mitra oleh polisi, teteh cepat kemari"


Air mata Meera mengalir tanpa aba-aba. Jantung Meera berhenti berdetak untuk kesekian kalinya, adik satu-satunya, sekarang berada dalam bahaya. Mas apa yang aku takutkan terjadi, aku tidak tau setelah ini apalagi yang akan mereka lakukan terhadap keluarga kita. Aku sangat membutuhkan mu mas.


"Teteh ke rumah sakit sekarang, kau jangan dulu pulang ya"


"Iya teh" Putri memutuskan panggilannya.


Meera bersama ibu dan mama Mila segera ke rumah sakit yang Putri maksud. Meera menelpon Miya dan Tiwi untuk menemani Farhan dan Hana. Ibu tak berhenti menangis mendengar kabar putri bangsunya. Sampai di rumah sakit, Putri sudah menunggu Meera di lobby, di depan ruangan Lita dirawat ada dua orang polisi, mereka yang membawa Lita ke rumah sakit.

__ADS_1


"Keluarga korban? kami ingin bicara bisa?"


"Bisa pak, saya kakak korban. Put, temenin Ibu sama Mama teteh dulu ya. Bu, mah, aku ngobrol sama mereka dulu" mereka mengangguk.


"Mari, ibu ikut kami ke kantor"


"Baik pak"


*Di kantor polisi


Dua polisi tadi menunjukkan barang bukti yang mereka temukan di lokasi kejadian. Ada posel Lita, tali dan sepucuk surat. Meera membaca semua pesan yang ada di ponsel Lita, nomor yang mengirim pesan ancaman pada Lita tidak dapat di lacak keberadaannya, Meera juga membaca surat itu dengan seksama.


Dear teteh, maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Karena aku mas Adrian pergi untuk selamanya, sekarang giliranku, biarkan aku pergi sebagai penebus rasa bersalah ku. selamat tinggal, aku sayang kalian. Lita


"Bagaimana menurut ibu?"


"Ini pembunuhan, ini memang terlihat mirip dengan tulisan tangan adik saya, tapi saya sangat mengenal adik saya pak, dia tidak akan melakukan hal konyol semacam ini"

__ADS_1


"Sementara, kami baru bisa menyimpulkan kalau ini murni kasus bunuh diri, di tempat kejadian tidak ditemukan sidik jari atau bukti mencurigakan lain. Tunggu sampai adik ibu siuman, kita bisa menggali lebih banyak informasi"


Pasti ada bukti lain, dan aku sendiri yang akan menemukannya.


__ADS_2