Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
17. Sah


__ADS_3

Entah aku sudah jatuh cinta padanya atau tidak, yang pasti aku hanya ingin melihat nya selalu bahagia, tidak boleh ada air mata yang keluar dari mata indahnya meski itu hanya setetes.



Ini adalah hari pernikahan kami, hari dimana sebuah hubungan baru akan di mulai, hari yang akan mengubah hidup ku dan hidup nya, mengubah kisah ku dan juga kisah nya.



" Saya terima nikah dan kawinnya Ameera Raneea Suhardi binti Danang Suhardi dengan maskawin tersebut tunai" aku mengucapkan dengan satu kali tarikan nafas



" Bagaimana para saksi sah?"



" Saahhhhh" Sah, iya dia sudah sah menjadi istri ku menjadi ibu bagi calon anak-anak ku nanti.



Dia menuruni tangga dengan sangat anggun, kebaya putih modern dengan sanggul membuat penampilan nya bak seorang putri kerajaan sangat cantik dan menawan. Di bantu dua sahabatnya kini ia sudah duduk di samping ku, kami memasangkan cincin bergantian, ku raih pipi nya dan ku cium keningnya lembut, dia mencium punggung tangan ku cukup lama ku rasakan setitik air mata jatuh di tanganku, dia menangis, apa dia tidak bahagia dengan pernikahan ini?


Ku angkat dagu nya dan benar dia menangis, aku langsung membawanya ke dalam pelukanku



" Sudah jangan menangis lagi" ia mengangguk.



*********


Ameera



" Ayah, terimakasih sudah membesarkan ku dengan baik, terimakasih telah mendidik ku dengan sabar dan menjaga ku dengan sepenuh hati. Maaf kalau selama menjadi putri ayah aku belum mampu menjadi putri yang bisa ayah banggakan" aku memeluk malaikat yang di kirim Tuhan menjadi ayah ku ini dengan air mata yang tak berhenti mengalir, ayah yang selalu menjadi panutan bagi anak-anak nya, ayah yang selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya



" Ayah lebih sayang kamu nak, kau putri terbaik ayah. Sekarang lihat dan dengarkan ayah baik-baik" aku melepaskan pelukanku, menatap mata yang selalu memberi ketenangan "Adrian pria yang baik ayah yakin dia pasti bisa membahagiakan putri ayah ini" aku mengangguk

__ADS_1



"Sudah anak ayah ga boleh nangis lagi nanti cantiknya hilang" aku tersenyum



Acara akad dan sungkeman selesai lanjut acara resepsi. Aku selesai ganti pakaian, sekarang aku memakai gaun biru muda lengan panjang siap menyambut tamu-tamu yang datang. Adrian lebih suka aku memakai pakaian lengan panjang



" Kau sangat cantik Meera" Adrian sudah menunggu ku ternyata



" Aku memang selalu cantik tuan muda"



" Aku tau, ayo"



Ratusan atau mungkin ribuan pasang mata kompak menatap ke arah kami dari menuruni tangga sampai duduk di pelaminan. Hari mulai gelap dan aku mulai lelah, rasanya tamu tidak habis-habisnya berdatangan kaki ku benar-benar pegal karena berdiri terlalu lama




" Baiklah"



***********


Adrian



" Meera ayo kita berdansa"


__ADS_1


" Aku tidak bisa menari Adrian"



" Dengarkan aku, kau hanya perlu melangkah ke kanan satu kali, ke kiri satu kali, lalu mundur satu langkah dan berputar, aku yakin kau bisa Meera"



" Baiklah"



Kami mulai berdansa di iringi lagu romantis yang di nyanyikan pengisi acara, Meera sangat pandai mengikuti gerakan ku. Dia sekarang memakai gaun berwarna merah muda, dia juga sudah ku minta untuk memakai sepatu kets, aku tau kaki nya pasti lelah memakai sepatu hak seharian, lagi pula gaun yang ia kenakan cukup panjang untuk menutupi sepatu yang ia pakai sekarang.


Kurang lebih lima menit kami menari, terlihat Meera sangat malu karena hampir semua tamu menatap ke arah kami



" Nona waktunya ganti gaun ke empat" ajak salah satu penata rias



" Tidak perlu, kalian boleh kembali" aku tau dia pasti sangat lelah



" Baik tuan"



Acara selesai pukul 9.00, para orang tua sudah pulang, Ayah ibu dan Lita menginap di rumh Papa, sedang aku dan Meera menginap di hotel dekat gedung dimana acara sakral kami di gelar tadi.



" Meera ada yang ingin aku bicarakan"



" Mas aku lelah, kita bicarakan besok saja ya aku ingin istirahat"


__ADS_1


" Ya sudah kau istirahat, aku mau mandi dulu" ia mengangguk tak lupa ku usap lembut pucuk kepalanya.


__ADS_2