Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
41. Luka


__ADS_3

Saat membuka mata aku sudah tidak lagi berada di kamar yang dulu ku tempati, ku lihat sekeliling ada bi Surti tengah duduk sambil menggenggam tanganku. Selang infus? Aku di rumah sakit. Dimana mas Adrian? Apa dia meninggalkan ku setelah tau ada janin yang tumbuh di dalam rahimku? Air mata seolah tak berhenti keluar dari mataku


"Bi, mas Adrian mana?"


"Tuan sedang keluar sebentar nyonya, nyonya istirahat ya. Bibi sedih melihat kondisi nyonya seperti ini. Bibi sayang sama nyonya" aku tersenyum tipis. Pintu terbuka, itu mas Adrian. Bi surti pamit keluar. Mas Adrian duduk di sampingku sambil mengelus tanganku


"Apa ini masih sakit sayang?" Aku mengangguk.


"Istirahatlah, biar cepat pulih" aku masih menangis.


"Maaf, aku...."


"Kita bicarakan itu nanti, kau harus pulih. Kau ingin ke Korea Selatan kan?" Aku mengangguk


"Kita ke Korea Selatan akhir bulan ini"


Terbuat dari apa hati mu mas, kau bukan laki-laki bodoh yang tidak mengerti ini semua. Tapi kau setenang itu. Maafkan aku yang selalu saja menyakitimu.


"Aku keluar sebentar ya, kau istirahat" aku mengangguk.


Kejadian hari itu sangat menyiksa batin dan pikiran ku. Belum juga luka lama sembuh, sudah tercipta luka yang baru. Luka yang jauh lebih perih dari luka yang sebelumnya.


Beberapa minggu yang lalu saat aku pulang dari kantor mas Adrian, sekitar pukul 14.30 saat sedang menunggu taksi online datang. Aku melihat seorang wanita hamil membawa banyak barang meminta bantuan, tanpa ada rasa curiga aku menghampiri nya hendak membantu, tapi tiba-tiba seseorang memukul bagian belakang kepalaku. Entah apa yang terjadi selanjutnya dan siapa pelakunya aku tidak tau. Kejadian itu terjadi begitu cepat, saat aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah kamar asing. Aku mencoba keluar namun percuma, pintunya terkunci jendela pun di pasang tralis. Aku terus menggedor pintu dan berteriak, berharap seseorang mendengar teriakkan ku dan menolongku. Cukup lama aku berteriak tapi tetap tidak ada yang datang.


Aku melihat keluar jendela hari mulai petang, demi Tuhan mas Adrian pasti mencariku. Tuhan bantu aku keluar dari tempat ini, aku takut. Tuhan menjawab doa ku, seseorang membuka pintu. Raja?


"Syukurlah kau ada disini, cepat bantu aku keluar. Mas Adrian pasti sangat mengkhawatir kan ku" Raja tidak menjawab, dia terus berjalan ke arah ku. Dia tidak terlihat seperti Raja yang ku kenal.


"Apa kabar sayang? Kau tidak rindu denganku?" Raja semakin dekat, aku terus menjauh, dia menakutkan

__ADS_1


"Kau? Ini ulah mu? Dimana aku, aku ingin pulang sekarang" Raja menarik pinggangku


"Tenang sayang, aku tidak akan menyakitimu. Ini kamar yang akan kita tempati setelah menikah nanti"


"Aku tidak akan menikah dengan mu, sekarang cepat lepaskan aku, atau aku akan berteriak"


"Teriaklah sesuka hatimu sayang, tidak kan ada yang bisa mendengarmu. Kamar ini suda aku desain kedap suara. Jadi kalau kau tidak mau pita suaramu rusak karen terus berteriak, lebih baik kau ikuti permainan ku, aku janji ini akan menyenangkan"


"Aku mohon padamu Raja, aku ingin pulang aku takut"


"Tidak perlu takut sayang, kan ada aku" demi Tuhan ini bukan Raja yang aku kenal, aku mulai menangis. Sebuah pukulan keras kembali membuat kesadaran ku hilang.


Aku terbangun karena hawa dingin begitu terasa di kulit ku. Betapa kagetnya aku, saat membuka mata sudah tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhku. Aku melihat Raja mendekat, sial selimut pun tak ada untuk menutupi tubuhku. Dia terus mendekat, aku kembali menangis.


Tangisanku tak membuatnya luluh sama sekali, dia semakin tidak waras. Raja mulai menyerangku tanpa memperdulikan air mata dan jeritan ku. Dia menyerang ku sangat kasar. Rasanya mati jauh lebih baik daripada seperti ini. Tidak hanya sekali, Raja menyerang ku berkali-kali.


"Demi Tuhan Raja hentikan, kau sangat menyakitiku"


Persis seperti orang hilang akal aku berlari kesana-kemari untuk bersembunyi dari nya. Adzan subuh terdengar, entah sudah berapa kali Raja menyerang ku. Aku tergeletak di lantai dengan kondisi paling menyedihkan tanpa sehelai benangpun. Tuhan ambil nyawaku saat ini, aku tidak sanggup bertemu suamiku. Terlintas bayangan Raja yang dulu begitu perhatian dan penuh kasih pada ku. Tapi sekarang dia berubah menjadi monster mengerikan.


Matahari mulai menampakkan cahaya nya. Raja melempar pakaian, tas dan sepatu yang aku pakai tempo hari, aku seperti jalang yang habis melayani tuannya.


"Aku antar pulang"


"Kau sudah puas?"


"Meera aku..."


"Sssssttt...Jangan pernah menyebut namaku" aku memakai pakaian ku dan bersiap untuk pulang, Raja mencekal lengan ku

__ADS_1


"Lepaskan tangan kotormu dari lenganku. Kau menjijikan, kau lebih rendah dari seekor binatang liar" Tuhan masih berbaik padaku, begitu aku keluar dari rumah kotor itu taksi lewat. Sepanjang jalan aku menyiapkan hati untuk bertemu dengan suamiku, suami yang begitu mencintai ku, suami yang terus saja aku sakiti.


Sampai di rumah, ku lihat mas Adrian bediri di depan pintu, terlihat dia sedang menelpon seseorang.


"Mas" mas Adrian memelukku, aku tak berani membalas pelukannya. Aku kotor


"Kau darimana saja sayang, aku khawatir setengah mati, karyawan ku menemukan ponselmu di jalanan tapi dia tidak melihatmu disana. Kau kemana saja kemarin?"


"Aku lelah mas, aku ingin istirahat"


Sejak hari itu aku tidur terpisah dengan mas Adrian. Aku malu, aku kotor dan begitu hina, aku tidak pantas untuk mas Adrian. Setiap hari aku mengutuk diriku atas semua kebodohan yang aku lakukan. Beberapa minggu setelah kejadian menjijikan itu, aku merasakan ada yang lain dengan tubuhku. Terutama pagi hari, aku sering mual dan muntah, namun hanya cairan bening yng keluar. Aku memutuskan membeli alat tes kehamilan untuk memastikan kondisiku.


Aku tidak berani melihat hasilnya, tapi aku harus tau. Ku beranikan diri untuk melihat dan hasilnya benar-benar membuat hatiku hancur. Harapan dan impian ku untuk hidup bahagia bersama mas Adrian seketika musnah. Aku menangis, meraung dan terus mengutuk


"Dasar bodoh, wanita kotor hina menjijikan murahan rendahan. Aku lebih jalang dari seorang jalang. Aku lebih hina dari binatang. Aku bodoh. Tuhan maafkan aku, maafkan aku" hanya menangis yang bisa ku lakukan


"Aku tidak pantas untuk mas Adrian, aku harus mati. Iyaa aku harus mati, setidaknya aku tidak akan menjadi aib bagi mas Adrian kalau aku mati" aku mencari cutter dan menggores dalam lengan kiri ku berharap maut akan menghampiri ku saat ini juga.


"Aku mencintaimu mas, aku pergi, aku tidak mau menjadi aib bagimu. Selamat tinggal"


******


Sudah tiga hari aku di rumah sakit, tiga hari pula mas Adrian terus di sampingku. Mas Adrian memberitahu bahwa janin yang ada di dalam kandungan ku tak dapat di selamatkan, aku tidak sedih sama sekali.


"Kau tidak mau tau apa yang sebenarnya terjadi mas?"


"Aku tau semuanya, lebih baik kau lupakan. dan fokus pada pemulihanmu, oh iya aku tidak memberitahu para orang tua, aku tidak mau membuat mereka khawatir" aku mengangguk


"Terimakasih, selalu menerima ku"

__ADS_1


"Kau istriku, aku akan menerima mu dalam setiap kondisi"


Kebahagiaan tidak bisa di cari melainkan di ciptakan. Suamiku selalu menciptakan kebahagiaan untukku, tapi aku malah mencari kebahagiaan di luar. Hingga terjebak dalam kebahagiaan semu yang sejatinya malah menghancurkan. Terimakasih Tuhan, telah kau turunkan malaikat untuk menjadi suamiku.


__ADS_2