Tak Selalu Indah

Tak Selalu Indah
67. Kebenaran


__ADS_3

Tinggal Adrian, Indra dan pak Sigit di ruang rapat. Adrian terdiam sejenak, ia masih tidak menyangka orang yang begitu dekat dengan keluarganya begitu tega mengkhianati nya.


"Apa yang sebenarnya kalian inginkan?"


"Kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa keinginan kami nak"


"Kalian ingin harta? berapa yang kalian inginkan?"


"Apa kau pikir kami serendah itu? kau pikir bisa melakukan apa saja dengan uangmu itu hah?" Indra naik pitam, ia mencengkram leher Adrian. Tapi mudah saja bagi Adrian melepaskan diri "aku memang bukan kakak kandungmu, tapi aku tetap anak mama Mila. Kau merebut semua kebahagiaan ku, kau merebut mama ku" plak, Adrian memukul kepala Indra dengan buku sampul merah.


"Kau baca" Indra mengambil buku itu dan membacanya.


Itu adalah buku harian mama Mila, yang tak sengaja Adrian temukan di hari pernikahannya dulu. Sesaat sebelum akad nikah, Adrian sempat pulang untuk mengambil cincin kawin yang tak sengaja mama Mila tinggalkan di kamarnya. Disitulah Adrian melihat buku itu.


Kurang lebih tiga hari Adrian membaca buku harian itu. Isinya begitu menyayati hati, ternyata mama Mila sebelumnya adalah istri pak Sigit, dan dari pernikahan nya dikaruniai seorang putra yaitu Indra.


Pak Sigit menceraikan mama Mila dan memaksanya mendekati papa Ardi. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah demi menguras harta Pratama, papa Ardi yang waktu itu sempat down karena ditinggal mama Adrian untuk selamanya, merasa gairah hidupnya kembali setelah bertemu mama Mila. Saat itu usia Adrian baru 8 tahun, ia juga tidak menolak kehadiran mama Mila dalam hidupnya. Mama Mila sangat mencintai pak Sigit, itulah sebabnya ia menuruti keinginan jahat orang yang dicintainya itu.


Lambat laun, perhatian papa Ardi dan kepolosan Adrian meluluhkan hati mama Mila, ia melupakan niat awalnya menikahi papa Ardi. Mama Mila tak lagi menuruti keinginan pak Sigit, itu sangat membuat pak Sigit marah. Lantas pak Sigit memalsukan kematian Indra dan mengirimnya keluar kota. Tak hanya itu, pak Sigit juga terus merusak pikiran Indra dengan cerita-cerita palsunya tentang keluarga Pratama, ia juga menutupi dengan rapi hubungan ayah dan anak antara dirinya dan Indra. Saat Adrian memasuki jenjang perguruan tinggi, pak Sigit memindahkan Indra ke universitas dimana Adrian kuliah. Disanalah mereka menjadi dekat meski beda angkatan, pengaruh yang pak Sigit berikan pada Indra begitu kuat, ia tak luluh sedikitpun oleh semua kebaikan Adrian.

__ADS_1


Berkat bantuan Raja, Adrian bisa mengetahui ini semua. Meski sempat menemui kesulitan tapi pada akhirnya ia bisa mengungkap semua kebenaran ini. Indra sendiri tak pernah tau kalau ayah yang begitu di cintainya begitu kejam. Tega menceraikan istri, memisahkan anak dari ibunya, memalsukan kematian, dan meracuni pikiran nya. Indra menitikkan air matanya, ia memeluk Adrian sesaat.


"Aku minta maaf Dri, orang tua brengsek ini yang sudah meracuni ... " pak Sigit sudah tak berada di belakang Indra, pak Sigit mencoba melarikan diri. Namun dapat di pastikan usahanya sia-sia, karena polisi yang Meera hubungi sudah berada di luar ruang rapat. Meera, Raja dan mama Mila juga turut menunggu bersama polisi-polisi itu.


"Hai pak Sigit, masih mau meremehkan kemampuan saya?" sapa Meera saat pak Sigit keluar dari ruangan, di susul Adrian dan Indra.


Pak Sigit tak mampu menjawab, ia begitu pasrah saat kedua polisi membawanya. Mama Mila mentap mantan suaminya dengan tatapan iba, ia tak menyangka orang yang dulu sangat ia cintai bisa berubah menjadi monster tamak dan juga kejam.


"Mah, bukankah mama sangat merindukan anak mama ini?" Adrian mendorong Indra untuk memeluk mama Mila, suasana haru tak terelakkan.


******


Adrian kembali, semua anggota keluarga merasa senang dan sangat bersyukur Adrian masih hidup dan baik-baik saja, meski keberadaannya sempat di tolak anak-anaknya, terlalu lama tak bertemu, membuat mereka lupa wajah papa nya. Indra sekarang tinggal bersama mama Mila dan papa Ardi di Bandung. Orang-orang yang dulu Raja dan Adrian tahan sudah mereka bebaskan, pak Sigit meninggal dunia karena bunuh diri tak lama setelah masuk penjara.


Hari ini hari ulang tahun si kembar yang kedua, pesta meriah sudah Meera dan Adrian siapkan. Anak-anak kecil yang ada di kompleks perumahan Meera undang, tergambar jelas kebahagiaan diwajah kedua anaknya. Setelah acara ulang tahun selesai, Raja mengajak Adrian dan Meera untuk mengobrol di taman kompleks. Farhan dan Hana yang tadinya sibuk membuka kado, melihat papa dan mama nya akan pergi langsung menghentikan kegiatan nya.


"Papa mau na? (papa mau kemana?)" tanya Farhan.


"Papa mau ketaman sayang, abang mau ikut?" Farhan mengangguk.

__ADS_1


"Dede uga (dede juga)"


"Iya ayo, abang sama dede ikut" Adrian menggandeng kedua anaknya.


Sesampainya di taman, Farhan dan Hana asik bermain tangkap bola. Meera, Adrian dan Raja duduk di bangku taman. Raja berpamitan kepada Adrian juga Meera, ia akan pergi dan menetap di London, ia juga ingin memulai karir barunya disana.


"Papa ni, ayo ain boa (papa sini, ayo main bola)" Farhan memanggil papa nya.


"Iya nak, aku temenin anak-anak dulu" Meera dan Raja mengangguk.


Seketika hening ...


"Ja, aku boleh bertanya?" Meera membuka pembicaraan.


"Kau ini, sejak kapan bertanya perlu ijin"


"iissh kau ini. Kenapa kau berpisah dengan Vita? dia wanita baik-baik" Raja tersenyum getir.


"Aku masih sangat mencintaimu Meera" Raja menjawab sambil belalu meninggalkan Meera dan ikut bermain bersama Adrian dan si kembar.

__ADS_1


__ADS_2