
Mulai dari episode ini, author akan bercerita dari sudut pandang orang ketiga yang serba tau (iyalah serba tau, kan aku yang buat cerita 😆)
Ok lanjut, selamat membaca tulisan ku yang banyak kekurangan ini ya teman-teman, semoga syuka 🤗🤗
---------------
Sudah dua minggu Adrian tidak pulang ke Bandung, alasannya sangat klasik, banyak pekerjaan. Meera masih tinggal di rumah mama Mila atas permintaan Adrian. Rindu? Itulah yang selalu Meera rasakan. Meski setiap malam Adrian selalu menelpon atau video call, rasa rindu tetap saja tinggal, malah semakin tumbuh.
Meera tengah membuat kue kering untuk cemilan, meski ada asisten rumah tangga, Meera tetap tidak mau berpangku tangan. Jika banyak istri yang mengeluh hidup bersama mertua maka itu tidak terjadi pada Meera, mama Mila memperlakukan Meera layaknya anak sendiri. Keberuntungan begitu banyak berpihak pada Meera. Mama Mila menghampiri Meera.
"Sedang apa sayang? Mama bantu ya"
"Meera bikin kue ma, ini sudah selesai" Meera menunjukkan kue yang sudah selesai dimasukkan ke dalam toples
"Ya sudah sekarang bikin kopi ya, ada tamu. Oh iya, bawa juga kue nya. Terus antar ke depan, mama mau ke atas dulu"
"Iya ma" mama Mila mengelus rambut Meera lembut
Kopi sudah di buat, kue sudah di tata, siap di suguhkan. Sampai di ruang tamu, rasa senang tak bisa di sembunyikan, senyum mengembang otomatis. Tamu yang datang tak lain adalah Adrian. Meera segera meletakkan kopi dan kue yang ia bawa, kemudian menghamburkan diri ke dalam pelukan Adrian.
Adrian sengaja tidak memberitahu Meera kalau hari ini pulang, kejutan. Atas saran mama Mila, Adrian setuju mengajak ayah ibu dan Lita untuk menginap. Tadinya mau Adrian sendiri yang menjemput, tapi papa Ardi memaksa akan menjemput mereka agar Adrian lebih dulu menemui Meera. Papa Ardi sangat tau, kalau menantunya itu sangat merindukan suaminya.
"Kau merindukanku?" Tanya Adrian seraya mengelus punggung istrinya
"Sangat mas" Meera melepas pelukannya sesaat kemudian mencium suaminya kilat
Dari atas, mama Mila tersenyum mengamati dua sejoli yang sedang melepas rindu.
"Kau berhasil nak, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian" mama Mila masuk ke kamar.
Mereka mengobrol banyak sambil Meera menyuapkan kue buatannya. Dunia serasa milik berdua, merek tidak sadar kalau saat ini bukan hanya mereka berdua yang sedang berada di ruang tamu. Ayah, ibu, Papa dan Lita juga sudah ada disana. Lita yang memang usil mulai menggoda kakak dan kakak iparnya. Lita mengambil piring kue dan menggantinya dengan cumi mentah yang ia beli bersama ibunya tadi. Sontak membuat Meera kaget dan Lita tertawa puas.
"Hahahahaha makanya kalau mau mesra-mesraan jangan disini, polusi mata tau"
"Adeeeee, awas kau ya" Meera beranjak dari pangkuan Adrian bersiap mengejar adiknya yang usil. Tapi Adrian mencegahnya.
"Sudah" Meera hanya bisa menurut.
__ADS_1
Matahari mulai terbenam dan kumandang adzan mulai terdengar, menandakan waktu Isya telah tiba. Semua sudah bersiap untuk menjalankan kewajiban termasuk Adrian yang selalu menjadi imam kala sholat berjamaah.
Sholat berjamaah sudah, waktunya makan malam. Makan malam kali ini sedikit berbeda, karena mereka makan malam di halaman belakang dengan beralaskan tikar. Asisten rumah tangga dan driver pun ikut makan bersama, bagi keluarga Pratama ART dan driver pun bagian dari keluarga. Tak lupa papa Ardi dan Adrian membuat api unggun mini sebagai penghangat.
"Anggap saja kita sedang berkemah" semua pun mengangguk setuju dengan anggapan papa Ardi.
Semua makan dengan tenang. Setelah makan malam selesai, ART dan driver kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, sedang yang lain masih berbincang-bincang. Meera dan Adrian duduk dekat api anggun sambil bernyanyi, Adrian sedikit bisa memainkan gitar akustik. Mereka butuh banyak waktu untuk berduaan setelah dua minggu tidak bersua.
"Aku masih ingat mas Danang, mba Lia, dulu Drian paling ga suka kalau kalian main kesini. Drian cemburu karena aku dan papa nya pasti lebih memperhatikan Meera" ujar mama Mila
"Benar mba, aku juga masih ingat, Adrian sering marah kalau Meera memegang mainannya" sambung ibu Lia
Lita hanya menjadi pendengar sambil main game yang ada di ponselnya, dia tidak mengerti apa yang sedang ibu dan mama Mila bicarakan.
Saat sedang asik memainkan gitar akustiknya, tiba-tiba Adrian merasakan mual luar biasa. Keadaan yang akhir-akhir ini sedang Adrian rasakan, setiap sehabis makan pasti perutnya mual.
"Kenapa mas? Kita kerumah sakit ya?" Tanya Meera panik
"Tidak perlu sayang, sudah biasa nanti juga baikan. Aku ke kamar mandi sebentar"
"Aku antar"
"Drian kenapa sayang?" Tanya mama Mila dan ibu bersamaan
"Katany mual ma, bu. Mas Adrian bilang sudah biasa" salah seorang ART menghampiri papa Ardi.
"Papa kedepan dulu ya"
"Kenap pa?" Tanya mama Mila
"Ada keluarga pa Kusuma di depan" kelurga Kusuma? Wajah yang tadi panik, kini bercampur dengan rasa takut. Meera masih sangat trauma dengan kejadian beberapa bulan lalu. Kejadian menjijikan yang dilakukan oleh anggota keluarga Kusuma Wijaya.
Meera gelisah, panik, kala melihat Raja berdiri di belakang tubuh pa Kusuma, di tambah Adrian juga belum kembali dari kamar mandi. Tangannya gemetar ketika keluarga Kusuma menyalami semua anggota keluarga, sampai pada Meera. Meera tidak juga menyambut tangan pa Kusuma.
"Sayang" tegur ibu
"A..aku ke dalam dulu, permisi" Meera setengah berlari menuju kamar mandi, Meera menggedor pintu tapi tak ada jawaban. Ketakutan nya bertambah ketika mendengar langkah kaki di belakangnya. Gedoran Meera semakin kencang dan air matanya mulai mengalir
__ADS_1
"Mas kau di dalam? Mas...." Tidak ada jawaban, Meera semakin panik.
"Teteh kenapa" Lita memeluk kakaknya yang tengah ketakutan. Gedoran Meera begitu kencang, terdengar jelas dari tempat orang tuanya berada.
"Antar teteh ke kamar de"
"Iya iya, teteh tenang ya. Udah jangan nangis" Adrian sedang mengecek laptopnya di kamar, melihat apa ada email masuk. Adrian juga tidak tau kalau keluarga Kusuma datang.
Braaak, Meera membuka pintu dengan kasar membuat Adrian terkejut. Adrian segera menutup laptopnya dan memeluk istrinya yang tampak bergitu ketakutan, air matanya terus mengalir, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Meera menangis dalam diam. Adrian menatap Lita bingung, Lita mengangkat bahu karena memang tidak tau.
"Oh iya, papa minta kalian ke belakang"
"Iya, makasih ya de"
"Kaya sama siapa aja, aku duluan mas" Lita meninggalkan kakak dan Kakak iparnya.
"Di belakang ada Raja mas, aku takut" pantas Meera begitu ketakutan gumam Adrian dalam hati
"Tenang sayang, ada aku, ayo" Adrian menghapus air mata dan ingus Meera dengan telaten (bohong kalo orang nangis terus ingus nya ga keluar 😂)
Adrian menuju halaman belakang, Meera begitu erat merangkul lengan kiri suaminya. Adrian menyalami keluarga Kusuma, sekali lagi Meera menolak untuk menyalami mereka. Pa Kusuma mulai masuk ke inti tujuan mereka bertamu malam-malam begini, terlebih dengan anggota keluarga lengkap.
"Baik, langsung ke intinya saja pa Ardi. Kedatangan kami kemari sebenarnya ingin meminta maaf kepada nak Adrian, terlebih kepada nak Meera"
"Minta maaf untuk apa pa Kusuma?" Tanya papa Ardi heran
Raja hendak menyela pembicaraan papanya, tapi Ratu melarang. Ratu sangat hafal tabiat papanya, pasti akan sangat marah kalau ada yang menyela pembicaraan nya. Bukan Raja namanya kalau tetap diam.
"Harusnya saya yang minta maaf pa Ardi, karena ini kesalahan saya bukan kesalahan papa" pa Kusuma memberi isyarat agar Raja diam, tapi Raja tidak menurut
"Beberapa bulan yang lalu saya melakukan hal yang sangat tidak pantas pada Meera, saya....." Byuurrr Meera menyiram wajah Raja
"Sudah ku bilang jangan pernah mulut kotormu itu menyebut namaku. Kau menjijikan" baru kali ini Adrian melihat sisi lain istrinya. Meera yang biasanya lembut dan manja berubah menjadi Meera yang lain, kemarahan tampak jelas dimatanya
"Kau kotor, brengsek, pergi kau dari sini" bruuk, Meera pingsan. Semua menjadi panik tak terkecuali Raja, dia hendak menolong Meera tapi langsung di tolak Adrian
"Jangan sentuh istriku, kalau sampai hal buruk terjadi pada Meera. Aku akan benar-benar mewujudkan peringatan ku saat dirumah mu" pa Kusuma menarik Raja.
__ADS_1
"Lita ikut mas, kita ke rumah sakit sekarang. Dan kau brengsek, berdoalah semoga Meera baik-baik saja" Adrian menggendong tubuh istrinya. Lita meminta driver menyiapkan mobil segera. Sementara Adrian dan Lita membawa Meera ke rumah sakit. Raja lanjut menceritakan apa yang terjadi antara Meera dan dirinya. Demi menjaga harga diri wanita yang di cintainya, Raja hanya menceritakan kejadian menjijikan yang membuat Meera hamil saja.