
Ada satu waktu saat kau hanya memiliki pilihan YA atau IYA. Bukan karena tak ada opsi lain, hanya saja keadaan yang memaksamu meninggalkan opsi lain tersebut
---------------------------------------------------------------------
Makan malam yang Ibu maksud tempo hari terjadi malam ini.
" Teteh, Ade siap belum, jangan lama-lama biar pulang nya gak terlalu malem" panggil ibu dari ruang tamu
" Bentar lagi bu" sahut Lita yang memang sedang menatapku berdandan sedikit.
" Widih cantiknya teteh ku" cup Lita mencium pipiku kilat
" Masa sih de, gak menor kan?" Lita membolak-balik kan wajah ku sebentar lalu
" Perfect " dengan tangan membentuk tanda OK
" Katanya sebentar" kini panggilan itu di iringi dengan suara ketukan pintu kamar
" Iya bu ini udah, gimana gimana" aku keluar kamar sambil berputar sedikit memamerkan penampilan plus make up yang menempel di wajah ku
" Cantiknya anak Ayah" saat menatap kami menuruni tangga. Ibu hanya tersenyum
" Ade ga cantik?" Lita mulai merajuk ala ala
" Ade juga ga kalah cantik, pokoknya anak ayah cantik semua" ayah mencium kening kami bergantian
" Udah ayo, ga enak nanti Om sama Tante nunggu lama" ajak Ibu
__ADS_1
Kami pun bergegas memasuki mobil dan menuju rumah Om ardi. Tak ada percakapan selama menuju rumah Om Ardi, aku dan Lita sibuk dengan ponsel begitupun Ayah dan Ibu yang fokus menatap jalanan.
" Teteh ada pacar?" Ibu mulai membuka pembicaraan
" Ga ada bu" Jawabku sambil tetap memainkan ponselku
" Ga papa sayang" balas ibu
Aku hanya ber Oh ria
Sampailah kami di rumah bercat coklat tua, rumah Om Ardi 2x lebih besar dari rumah kami, sangat mewah dan elegan lengkap dengan lukisan mahal yang menempel di beberapa bagian dinding. Pembantu nya pasti banyak gumam ku dalam hati.
Tante Mila menyambut kami dengan hangat
Makan malam pun di mulai, Om Ardi dan Adrian sudah terlebih dahulu di meja makan. Banyak sekali jenis makanan yang ada di meja, aku sampai bingung mau makan yang mana.
15 menit makan malam selesai dan di lanjutkan dengan mengobrol di ruang tamu.
Para orang tua mulai sibuk dengan pembicaraan mereka, sedang aku dan Lita hanya menjadi pendengar
" Ade gimana sekolahnya lancar? Sudah kelas berapa?" Tanya om Ardi, sekali lagi aku menahan senyum, Lita terlihat agak kesal karena om Ardi tak menyebut namanya, aiiihh adiku ini memang sedikit temperamen
" Namaku Lita Om Tante, aku yakin pasti om sama tante lupa nama aku kan makanya dari tadi manggil ade terus. Aku sekarang kelas 2 SMA om Alhamdulillah sekolah juga lancar" jawab Lita, ya Tuhan ekspresi nya bagitu menggemaskan saat menjawab om Ardi tadi
Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat anak bungsunya itu
" Eh iya sayang maaf ya, om sama tante lupa maklum sudah tua"
__ADS_1
" Iya om ga papa"
Adrian bergabung dengan kami di ruang tamu, setelah makan malam tadi Adrian langsung keluar untuk menerima telepon dan baru bergabung lagi
" Tante, meera numpang ke kamar mandi boleh?"
" Boleh sayang, Adrian anter Meera"
" Tidak perlu tante, tante cukup kasih tau aja di mana kmar mandi nya"
" Ga papa saya antar" kali ini Adrian yang menjawab, aku sempat melirik ke ayah, ayah mengangguk kecil.
Aku pun pergi ke kamar mandi dengan di antara Adrian, tak ada percakapan selama menuju kamar mandi, sampai dia menunjuk sati pintu.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, kami pun berpamitan untuk pulang.
" Terimakasih ya mba Mila mas Ardi atas undangannya, kapan-kapan gantian kami yang undang kalian untuk makan malam"
" Sama-sama mba Lia mas Danang, terimakasih juga sudah mau datang, nanti kabari saja kalau mau makan malam bareng lagi"
" Ya sudah kami pamit, Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Sesampainya di rumah, kami langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1