
Satu bulan sudah Meera jadi boss di perusahaan suaminya. Adrian benar-benar lepas tangan, semua Meera yang mengurus hanya sesekali membantu saja, meski begitu, Adrian selalu menemani istrinya saat bekerja. Tapi tidak dengan hari ini, Adrian hanya mengantar nya sampai parkiran lalu pulang lagi. Sudah waktunya makan siang, Meera mengajak Fitri makan bersama.
"Ayo Fit, makan dimana? Saya belum paham tempat makan dekat sini"
"Ana restoran seafood tapi agak jauh, ibu suka seafood kan?"
"Yang dekat kantor saja Fit, saya kan tidak bawa mobil, kasian kalau minta supir buat mengantar"
"Itu mau bu?" Fitri menunjuk rumah makan padang
"Boleh, ayo"
Saat makan, Fitri banyak bicara, Meera tetap harus mendengarkan meski tidak suka, seketika Meera teringat Raja, dia akan bicara banyak hal saat makan. Oh shit kenapa aku memikirkan manusia itu, dia sudah menyakiti ku, gumam Meera dalam hati.
Meera dan Fitri sudah selesai makan, sambil menunggu makanan turun, Meera memainkan ponselnya, Adrian tidak membalas pesan Meera sejak pagi. Dari layar ponselnya Meera melihat pantulan seseorang yang pernah sangat ia cintai. Meera membalikkan ponselnya dan menghembuskan nafas kasar.
"Dasar bodoh" Fitri yang mendengar jadi bertanya-tanya, bicara dengan siapa bos barunya ini.
Sudah setengah jam mereka duduk disitu, setelah membayar mereka kembali ke kantor.
"Ibu lihat tidak tadi ada pa Raja, aneh ya dia tidak menyapa ibu?" Deg, jadi yang tadi terlihat di layar ponsel Meera bukan ilusi? Meera kembali teringat kejadian itu, Meera terus menggelengkan kepalanya, mengusir semua ingatan menyakitkan hati.
"Ibu kenapa?"
"Tidak apa, ehh kok pintu ruangan saya terbuka?" Meera dan Fitri saling pandang, berjalan cepat untuk memastikan tidak ada yang masuk ke ruangannya. Sampai di depan ruangan, Meera di kejutkan dengan Hana yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Fitri juga tidak kalah kaget. Hana tertawa melihat mama nya yang terkejut. Di gendong nya Hana.
"Anak mama rese ini ya" Meera menoel hidung anak bungsunya
"Saya ke meja saya ya bu"
"Oh iya Fit, terimakasih ya"
"Saya yang terimakasih sudah di bayarin" Meera tersenyum, Fitri kembali ke ruangannya
Ada Hana, berarti ada Farhan dan juga Adrian. Meera masuk dan tidak mendapati suami dan anak sulungnya, di kamar juga tidak ada. Meera bertanya pada Hana dimana kakak dan papa nya bersembunyi, Hana yang sudah mengerti menunjuk bawah meja kerja Meera.
Meera melepas sepatunya, berjongkok dan mengikuti Hana yang merangkak ke arah bawah meja, semakin dekat daaannnn
"Dorrrr" Adrian kaget sampai kepalanya membentur meja, Farhan mau menangis tapi tidak jadi, karena melihat papanya mengaduh kesakitan Farhan malah tertawa, Meera dan Hana juga ikut tertawa.
"Papa kesakitan begini, kalian malah tertawa" Adrian bangun dan duduk di sofa
__ADS_1
"Ulu..ulu papa ngambek, sini mama cium biar sakitnya sembuh" cup, Meera mencium pipi Adrian, wajah Adrian langsung berseri-seri
"Kau datang tidak menelpon mas, kau juga tidak membalas pesan ku"
"Kejutan sayang, ponsel ku entah dimana, tadi nya di buat mainan sama Hana terus tidak tau dia taruh dimana" Farhan dan Hana sibuk bermain di lantai dengan mainannya masing-masing
"Jangan kebiasaan di kasih ponsel mas, masih kecil"
"Tidak sayang, itu juga cuma di bawa-bawa saja"
Lama memandangi dua bocah kembar itu bermain, Farhan membaringkan dirinya di lantai dan berbicara tidak jelas dengan mainannya. Hana juga beberapa kali terlihat menguap. Mereka mengantuk. Di bantu Adrian, Meera menidurkan kedua anaknya. Setelah mereka tertidur, sekarang giliran Adrian yang bermanja-manja. Adrian sudah mengunci pintu ruangan, meski tidak akan ada yang berani masuk tanpa ijin, tapi itu tetap perlu dilakukan. Adrian menyandarkan kepalanya di bahu Meera.
"Sayang, kita liburan yuk, tapi berdua saja" ajak Adrian
"Berdua? Kemana? Anak-anak gimana, sama siapa?"
"Iya berdua, sudah lama kita tidak berduaan. Kau mau kemana? Korea Selatan gimana? Nanti aku minta tolong mama dan ibu ngawasin anak-anak kalau jam kerja mbaknya selesai. Dulu kan kau ingin sekali ke Korea Selatan"
"Tidak enak sama mama sama ibu mas, minta tolong mulu. Lagian Korea Selatan terlalu jauh"
"Tidak apa sayang, mama sama ibu pasti senang. Ya sudah kita ke Bali saja. 7 hari"
"3 hari"
*****
Liburan tiba. Sebelum berangkat, Meera meminta bi Surti untuk menginap selama Meera dan Adrian pergi, Meera tidak mau mama dan ibu kerepotan.
Sampai di hotel, Meera dan Adrian memilih untuk beristirahat dulu, mengumpulkan tenaga untuk berkeliling nanti malam, Bali sangat indah saat malam hari. Baru sekitar lima belas menit Meera merebahkan diri, terdengar suara gaduh di luar kamarnya, Meera keluar untuk melihat apa yang terjadi, Adrian mengekor di belakang Meera.
"Lima bulan gajimu tidak akan mampu untuk membeli baju ini kau tau"
"Saya tidak sengaja bu, sekali lagi saya minta maaf"
"Ada apa ini?" Tanya Meera
"Anu mba, saya tidak sengaja menumpahkan air ke baju bu Devi" jelas OG. Mereka karyawan baru, mereka tidak mengenali siapa yang sedang berbicara dengan mereka, Adrian yang berdiri di belakang Meera pun tidak mereka kenali.
"Mana ada tidak sengaja, kau pasti sengaja. Kau iri kan dengan posisi ku. Kau memang selalu iri dengan semua yang ku miliki"
"Demi Tuhan Devi aku tidak sengaja" Adrian hanya mengamati, dia ingin tau bagaimana istrinya akan menyelesaikan masalah begini
__ADS_1
"Sudah-sudah, berapa harga baju mu? saya yang ganti"
"Tidak perlu mba"
"Iya tidak perlu, kau saja tidak terlihat seperti orang kaya. Ya meski kau menginap di kamar mewah, itu pasti karena bonus dari tempat kerjamu kan?" Pffftt, Adrian masuk dan menutup pintu, dia tidak bisa menahan tawanya. Mati kau kalau sampai tau siapa yang baru saja kau rendahkan, ucap Adrian dalam hati.
Meera masuk dengan wajah kesal. Dia terus mengutuk wanita bernama Devi yang sudah merendahkannya tadi. Sedang Adrian masih sibuk menahan tawanya, dia tak tahan melihat ekspresi kesal istrinya yang begitu menggemaskan.
"Mas, hubungi pa Gusti sekarang, aku ingin bicara soal wanita sombong tadi" Adrian langsung menghubungi pa Gusti.
Meera sengaja tidak mengganti pakaiannya sebelum menuju ruangan manager. Adrian memijat pundak istrinya.
"Ayo sayang, tunjukkan kekuatanmu"
*Di ruang manager
Adrian duduk di sofa bersama pa Gusti, Meera duduk di kursi manager, dia menulis surat lalu memasukkan ke dalam amplop coklat. Pa Gusti memanggil Devi, saat masuk Devi merasa tidak asing dengan laki-laki yang duduk di sofa itu, tapi ia tidak ingat pernah bertemu dimana.
"Silahkan duduk Dev, ibu Meera ingin bicara denganmu" Ibu Meera Dirut Pratama Company? Wah beruntung nya aku, baru beberapa bulan bekerja sudah dapat kesempatan bicara dengannya. Pikir Devi kegirangan. Meera berputar, dan Devi yang tadi terlihat senang berubah ketakutan, tangannya sampai gemetar. Meera menyodorkan cek kosong
"Tulis, berapa harga bajumu, saya ganti"
"Ti...tidak perlu bu, tadi saya hanya bercanda" keringat dingin membasahi telapak tangannya.
"Panggil OG tadi" pa Gusti memanggil OG yang Meera maksud. OG tadi terkejut, yang membelanya tadi ternyata boss. Meera memberikan surat yang ia tulis tadi.
"Kau pergi ke restoran Amidza sekarang, serahkan surat ini pada manager nya. Kau boleh keluar"
"Baik bu, terimakasih" OG menunduk sopan
"Kau juga boleh pergi" ucap Meera pada Devi, Devi pun menunduk sopan
"Devi"
"I...iya bu"
"Jangan merendahkan orang lain hanya karena kau sedikit tinggi, ku tidak akan pernah tau seberapa lama kaki mu bisa menopang tubuhmu. Dan ingatlah selalu, masih ada langit di atas langit" Devi keluar. Meera dan Adrian kembali ke kamar mereka. Meera menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
"Aku kemari ingin liburan, malah masih tetap bekerja, aiihh sangat menyebalkan" Adrian tersenyum, diusapnya kepala istrinya lembut
"Aku pikir kau akan memarahinya sampai malam. Aku jadi ingat, kalau kau kesal padaku, kau akan mengomeli ku sepanjang jalan kenangan" Adrian menghembuskan nafas kasar, Meera mencubit pinggang suaminya
__ADS_1
"Ayo tidur kita perlu banyak tenaga untuk nanti malam" Meera mengangguk kemudian memeluk Adrian