
"Meera..... Meera" hanya kata itu yang keluar dari mulut Raja. Hati Vita sangat sakit, Vita memang belum mencintai Raja, tapi bagaimanapun Vita adalah istrinya. Istri mana yang tidak sakit mendengar suaminya menyebut nama wanita lain. Raja sedang terbaring lemah di rumah sakit, sakit yang sering kali menyerang kepalanya ternyata bukan sakit biasa. Ada tumor yang bersarang di otaknya.
Vita keluar, menangis, hatinya terlalu perih untuk terus bertahan. Tidak bisakah kau menghargai keberadaanku?, aku istrimu. Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Matanya menangkap sosok yang namanya selalu di sebut suaminya. Vita mengikuti tanpa memperdulikan kondisi suaminya yang masih terbaring lemah. Vita mengamati dari kejauhan, sangat lama Vita mengamati, sampai Adrian keluar dan keluarganya tampak begitu gembira. Vita sangat ingin menghampiri keluarga Meera, tapi ia urungkan. Vita memilih kembali ke ruangan dimana Raja sedang dirawat.
******
Mengurus dua bayi sekaligus bukan hal mudah, apalagi tanpa bantuan baby sitter. Iya, Meera menolak menggunakan jasa baby sitter, Meera ingin mengurus anak-anaknya sendiri. Awal-awal Meera memang kerepotan, terlebih sejak Lita sudah kost sendiri. Satu atau dua kali dalam seminggu Lita sempatkan untuk membantu kakak nya mengurus kedua keponakannya.
Meera sedang menemani si bungsu bermain di ruang keluarga, si bungsu sudah bisa merangkak, sedang si sulung sedang tidur di sofa. Iya, Meera tak pernah meninggalkan salah satu anaknya, dia selalu membawa keduanya. Adrian datang bersama Lita.
"Assalamualaikum, papa pulang" Adrian mencium kening istrinya lalu menggendong putrinya.
"Waalaikumsalam papa, eh ada tante. Kalian bareng?"
"Engga teh, tadi pas aku nyampe, kebetulan mas Adrian juga nyampe, jadi bareng" Meera berOhria
"Mas, mandi dulu gih terus makan. De, jagain Hana sama Farhan dulu ya"
__ADS_1
"Siap bosqu"
Meera menyiapkan pakaian ganti suaminya, sambil menunggu suaminya mandi, Meera merebahkan tubuhnya. Tanpa sadar Meera terlelap, sudah lama Meera tidak tidur siang. Adrian selesai mandi, sudah memakai pakaian yang Meera siapkan. Adrian duduk di pinggir kasur, memandangi istrinya yang tengah terlelap. Dari arah luar terdengar suara Farhan menangis, bisa saja Adrian turun dan menenangkan anak sulungnya, tapi di sana Lita, ia tidak mau hanya berduaan dengan selain istrinya. Dengan terpaksa Adrian membangunkan Meera.
"Sayang, Farhan nangis tu, mungkin dia haus" Meera menggeliat
"Sudah makan?" Adrian menggeleng
"Ya sudah ayo turun, kau makan"
"Iya sayang"
"Hana mana de?"
"Tadi ngerakak ke sana teh, aku cari dulu ya" Lita menunjuk kamar kerja kakak iparnya.
Di kamar kerja Papa nya, Hana sudah mengacak-acak buku-buku yang ada di rak paling bawah. Ada satu buku yang menarik perhatian Lita, ukurannya sedikit lebih besar di antara buku lain. Lita mengambil buku merah itu, ketika hendak membuka, seseorang langsung merebutnya, Lita menoleh
__ADS_1
"Ini privasi mas Adrian, kau makan sana, biar Hana sama teteh" Lita mencium keponakannya dulu sebelum keluar.
Meera membereskan buku yang sudah Hana acak-acak dan mengembalikan buku merah tadi, meski sudah lama menikah, Meera tetap menghargai privasi suaminya. Meera membawa Hana keluar dari kamar kerja Adrian, di ruang keluarga Meera melihat Lita sedang menonton TV.
"Sudah makannya de? Piring nya sudah di cuci?"
"Sudah semua boss, tenang aja" Lita mengedipkan matanya, membuat Meera tertawa geli
"Teteh ke kamar ya, kalau mau balik ke kostan telpon teteh"
"Siap bosqu, oh iya teh, Farhan lagi di ajak keluar sama mas Adrian" Meera mengangguk.
Meera meletakkan Hana di tempat tidurnya. Setelah memastikan Hana sudah tidur, Meera melanjutkan tidur siangnya yang terputus tadi. Baru sekitar 10 menit tidur, Meera di kagetkan dengan suara tangis, Meera segera bangun dan melihat Farhan menangis, dia sendirian di lantai sambil memegangi mobil mainannya, tak lama Adrian keluar dari kamar mandi.
"Lanjut tidur saja, kau pasti lelah kan? biar aku yang jaga anak-anak" Meera tersenyum dan mengangguk
"Terimakasih ya mas" Adrian tersenyum
__ADS_1
Tangis Farhan berubah menjadi tawa riang saat Papa nya ikut bermain. Meera tipe manusia yang mudah tidur, tak perduli dimana dan bagaimana tempat nya, asal bisa di gunakan untuk tidur, dia akan tidur. Begitupun dengan kondisi sekeliling, sebising apapun kalau Meera sudah mengantuk, dia pasti tidak akan kesusahan untuk terlelap. Tapi Meera juga tidak sulit untuk di bangunkan.