
Mendengar penjelasan dari Raja membuat ibu dan mama Mila sangat terpukul. Mama Mila bukannya tidak tau hubungan terlarang Raja dan Meera, tapi mama Mila masih tidak percaya, anggota keluarga Kusuma tega melakukan hal semacam itu.
Ayah dan yang lain menyusul ke rumah sakit, mereka ingin tau bagaimana kondisi putri dan menantu nya saat ini.
Di rumah sakit, Meera sudah siuman. Dokter bilang tidak ada yang perlu di khawatir kan dengan kondisi Meera, janin yang ada di dalam kandungannya pun baik-baik saja. Kebahagiaan tak terbendung, hal yang selama ini Adrian impikan akhirnya hadir dalam rahim istrinya.
"Istri anda sedikit tertekan akibat trauma yang dialami. Tapi anda tidak perlu khawatir, Selama suasana hatinya selalu baik, kondisinya pun akan semakin baik"
"Terimakasih Dokter, saya jamin saya akan selalu menjaga suasana hatinya. Sekali lagi terimakasih Dokter. Saya permisi"
"Sama-sama"
Tapi apa yang di katakan Dokter seperti berbanding terbalik dengan apa yang terlihat. Sejak siuman, Meera tidak bicara apapun, dia bungkam seribu bahasa. Matanya kosong, tak juga memandang ke arah suaminya meski sesaat. Seolah pemandangan langit-langit kamar jauh lebih menarik di banding yang lain. Adrian meminta Lita meninggalkan mereka berdua. Lita mengerti dan keluar untuk membeli minum di kantin rumah sakit.
Adrian duduk di sisi kiri Meera sambil memegang tangan nya, diciumnya tangan itu sesekali.
"Aku ada kabar baik dan kabar buruk. Kau mau dengar yang mana dulu?" Meera tidak menjawab
"Karena kau tidak menjawab, aku akan memberitahu kabar buruk dulu. Ahh tidak, Dokter bilang suasana hatimu harus selalu baik. Jadi ku beritahu kabar baik dulu"
"Kabar baik apa itu mas?" Adrian tersenyum, akhirnya Meera menatapnya
"Kau akan segera menjadi seorang Mama, dan aku, aku akan menjadi Papa"
__ADS_1
"Mama? Aku...aku?"
"Iya sayang, kau hamil" Meera bangun dan memeluk suaminya
"Kabar buruknya?" Tanya Meera tanpa melepas pelukannya
"Kabar buruknya, cinta ku tidak lagi sepenuhnya milikmu. Kau harus berbagi"
"Benar-benar kabar buruk" Meera melepas pelukannya, dan mengelus perut datarnya
"Berapa usianya mas?" Adrian tampak berpikir, dia tidak tanya tadi berapa usia kandungan Meera
"Berapa ya, aku tidak tau" Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Ayah dan yang lain masuk, melihat putri dan menantu nya baik-baik saja, rasa cemas dan khawatir yang begitu besar tadi menghilang seketika.
Tak ada yang membahas peristiwa tadi, mereka tidak mau melihat Meera ketakutan lagi. Adrian menceritakan kondisi Meera yng tengah berbadan dua, semua gembira terlebih mama Mila. Selalu ada pelangi setelah badai.
"Besok Meera sudah bisa pulang" jelas Adrian
******
Di waktu yang sama, Kediaman Kusuma
__ADS_1
Pa Kusuma dan Raja bersitegang, pa Kusuma marah karena ulah Raja di rumah Pratama tadi.
"Sudah papa bilang untuk diam, tapi kau tidak mau diam. Kau lihat apa yang terjadi pada istri Adrian hah"
"Tapi pah, ini memang salahku, sudah sepatutnya aku yang meminta maaf. Aku harus bertanggung jawab bukan?"
"Tanggungjawab kau bilang, tanggung jawab macam apa yang kau maksud hah. Kau lari berbulan-bulan setelah kejadian itu dan sekarang kau bilang ingin bertanggung jawab. Dasar anak tidak tau malu. Kalau papa jadi Adrian, mungkin papa langsung menghabisi mu saat itu juga. Jangan remehkan Adrian hanya karena dia lebih muda darimu" pa Kusuma meninggalkan Raja yang terdiam. Raja memijat pangkal hidung nya. Rasa sakit semakin intens menyerang kepalanya
Yang paling menjadi korban dalam hal ini adalah Vita. Bagaimana tidak, sejak awal menikah sampai hari ini tak ada sedikitpun kebahagiaan dalam rumah tangga nya. Setip malam Raja tak pernah tidur di rumah, entah kemana ia setiap malam. Raja juga kerap marah, jika Vita menyinggung tentang Meera. Bahkan saat menginap di rumah Meera, Raja tak segan menampar Vita karena Vita memakai pakaian yang ia belikan untuk Meera dulu.
Vita termenung di balkon, menatap langit malam yang di penuhi bintang-bintang, "indah" gumamnya lalu tersenyum getir. Suami yang penyayang dan rumah tangga penuh tawa hanya menjadi angan-angan kosong yang takkan pernah terwujud sampai kapanpun.
"Kau sangat beruntung Meera, di cintai dua pria sekaligus" Vita menarik nafas dalam, dan membuangnya kasar. Raja yang sudah berada di dalam kamar, dapat mendengar apa yang Vita gumamkan.
Raja menghampiri istrinya. Vita terkejut saat Raja menyentuh tangannya. Tak ada percakapan, larut dalam pikiran masing-masing. Vita sangat mengharapkan permintaan maaf atas semua yang sudah Raja perbuat padanya, tapi rasanya mustahil kata itu keluar dari seorang Raja Adiwijaya.
"Sudah malam, aku ingin istirahat"
"Ah iya, selamat malam"
Vita meninggalkan Raja dengan perasaan kecewa, bukan selamat malam yang Vita harapkan. Vita merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dalam tidurnya Vita bermimpi Raja memeluknya, mimpi itu terasa bagitu nyata bagi Vita.
Jangan biarkan malam ini cepat berlalu Tuhan. Biarkan aku merasa di cintai oleh suamiku meski hanya sesaat.
__ADS_1